SURABAYA ( LENTERA ) - Peneliti memecahkan misteri penyebab kematian mumi berusia 1.100 tahun. Mereka mengungkap, mumi seorang pria ini kemungkinan besar berkaitan dengan kecelakaan saat melakukan aktivitas penambangan batu pirus (mineral berharga toska) di wilayah Chili.
Temuan ini diungkap dalam sebuah studi yang dimuat di International Journal of Osteoarchaelogy pada 1 Desember. Para akeolog dari Museum Nasional Sejarah AlamSantiago, Chili, Catalina Morales dan Francisco Garrido, menyebutkan bahwa bukti trauma akibat benturan benda tumpul pada kerangka mumi mengarah pada dugaan runtuhan batu di dalam tambang.
“Bukti pada kerangka menunjukkan cedera serius yang kemungkinan disebabakan oleh longsoran batu atau runtuhnya langit-langit tambang,” tulis para peneliti, sebagaimana dikutip dari Live Science.
Jenazah pria tersebut mengalami mumifikasi secara alami. Saat ditemukan, mumi tersebut disertai sejumlah benda seperti busur dan anak panah, serta perlengkapan untuk menghisap obat-obatan halusinogen. Mumifikasi adalah proses pengawetan jenazah dengan mengeringkan jaringan tubuh untuk mencegah pembusukan, berbeda dengan mumifikasi buatan yang melibatkan proses pembalseman.
Dalam penelitian tersebut, Morales dan Garrido menggunakan teknologi pemindahan CT dan pencitraan sinar X untuk mengungkap trauma yang dialami pria tersebut secara mendetail. Analisis osteologis menunjukkan, pria tersebut diperkirakan berusia antara 25 hingga 40 tahun saat meninggal dunia.
Selain itu, peneliti juga melakukan penanggalan radiocarbon, metode ilmiah untuk menentukan usia bahan organic. Hasil pengujiannya mengungkapkan mumi tersebut berasal dari tahun 894 – 1016 M. Beberapa patah tulang yang belum sembuh terlihat jelas di tulang belakang bagian atas mumi pria berusia 1.100 tahun ini. Ia jugam mengalami patah tulang rusuk, tulang belikat, dan tulang selangka, yang menunjukkan adanya benturan terhadap benda tumpul.
“Bagian dada kiri atasnya menanggung dampak terebrat,” tulis Morales dan Garrido dalam penelitian. Benturan tersebut menggeser beberapa ruas tulang belakangnya dan menyebabkan tulang rusuk runtuh.
Selain itu, para peneliti mengidentifikasi adanya retakan pada tulang belakang bagian bawah, yang diduga merupakan akibat cedera sbelumnya. Cedera pada tulang belakang bagian atas dan bawah diketahui sering berkaitan dengan kerusakan pada sumsum tulang belakang dan memiliki tingkat kematian yang tinggi.
“Dengan mempertimbangkan konteks arkeologis, individu ini kemungkinan meninggal saat menambang batu pirus, ketika sebuah batu jatuh dari langit-langit tambang dan menimpa punggungnya,” tulis Morales dan Garrido.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi lanjutan masih diperlukan untuk memahami lebih jauh kondisi kerja dan kehidupan para penambang kuno di wilayah tersebut. (Nabilla – UINSA, Berkontribusi dalam tulisan ini)





.jpg)
