04 February 2026

Get In Touch

IHSG Berpotensi Menguat Hari Ini?

Foto ilustrasi.
Foto ilustrasi.

JAKARTA (Lentera) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menguat pada perdagangan Senin (2/2/2026) ini. Optimisme tersebut disampaikan Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata.

"Mengikuti perkembangan yang terjadi akhir pekan lalu, Kiwoom Research cukup optimis bahwa IHSG hari ini berpotensi menguat ke arah target 8.600 as 1st step, sebelum mencoba tutup GAP di barisan resistance 8.700/ 8.800-8.873," ujar Liza dalam kajiannya di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Dari dalam negeri, melansir antara, Liza mengatakan keseluruhan langkah cepat aksi kebijakan reformasi berpotensi meredam volatilitas jangka pendek, memulihkan kepercayaan investor, serta menegaskan bahwa arah kebijakan pasar modal tetap konsisten pada penguatan fundamental dan reformasi jangka menengah.

Sentimen akan berasal dari pelaku pasar yang merespon positif arah implementasi kebijakan yang telah dicanangkan oleh otoritas, terkait delapan rencana aksi percepatan reformasi pasar modal Indonesia.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memaparkan delapan rencana aksi percepatan reformasi pasar modal Indonesia, yang mencakup pilar penguatan likuiditas, transparansi, tata kelola, hingga pendalaman pasar.

Kedelapan rencana aksi percepatan tersebut meliputi :
1. Fokus pada kebijakan peningkatan batas minimum saham yang dimiliki publik (free float) emiten dari 7,5 persen menjadi 15 persen guna menyelaraskan ketentuan pasar modal Indonesia dengan standar global.
2. Fokus pada transparansi Ultimate Beneficial Ownership (UBO) serta keterbukaan afiliasi pemegang saham. Langkah itu bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik investasi pasar modal Indonesia, yang juga akan diiringi dengan penguatan pengawasan dan penegakan aturan terkait transparansi UBO.
3. OJK memerintahkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk melakukan penguatan data kepemilikan saham agar lebih granular dan andal. Penguatan dilakukan dengan pendetailan tipe investor yang mengacu pada praktik global, serta penguatan ketentuan keterbukaan informasi pemegang saham emiten.
4. Otoritas mendorong demutualisasi BEI sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan mitigasi benturan kepentingan. Dalam hal ini, OJK terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk persiapan implementasi demutualisasi bursa efek.
5. Menitikberatkan pada penegakan peraturan dan sanksi. OJK menegaskan penegakan hukum (enforcement) akan dilakukan secara tegas, konsisten, dan berkelanjutan terhadap berbagai pelanggaran di pasar modal, termasuk manipulasi transaksi saham dan penyebaran informasi yang menyesatkan.
6. Berkaitan dengan penguatan tata kelola emiten, melalui peningkatan standar tata kelola (governance), termasuk kewajiban pendidikan berkelanjutan bagi direksi, komisaris, dan komite audit, serta kewajiban kompetensi dan sertifikasi profesi bagi penyusun laporan keuangan emiten.
7. Pendalaman pasar secara terintegrasi melalui akselerasi pendalaman pasar dari sisi permintaan (demand), penawaran (supply), dan infrastruktur secara terkoordinasi.
8. Menekankan pentingnya kolaborasi dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, dari mancanegara, Liza mengatakan pelaku pasar akan mencermati proses lanjutan konfirmasi Ketua Federal Reserve (The Fed) di Senat Amerika Serikat (AS), perkembangan voting anggaran pemerintah AS setelah shutdown parsial, serta hasil pertemuan OPEC+.

"Perhatian pasar juga tertuju pada data inflasi lanjutan AS, pergerakan dolar AS, dinamika pasar logam menjelang libur Tahun Baru Imlek China, serta perkembangan politik Jepang menjelang pemilu Majelis Rendah," ujar Liza,

Data penutupan perdagangan BEI pada Jumat (30/01/2026), IHSG ditutup menguat 97,41 poin atau 1,18 persen ke posisi 8.329,61. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 naik 20,52 poin atau 2,52 persen ke posisi 833,53.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.399.348 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 57,76 miliar lembar saham senilai Rp41,33 triliun. Sebanyak 551 saham naik, 194 saham menurun, dan 65 tidak bergerak nilainya.

Sementara, melansir Ipotnews, setelah sempat pulih dari tekanan besar dua hari dengan menguat 1,18% pada Jumat (30/1) di level 8.329, IHSG pada Senin (2/2/2026) pagi dibuka turun sebesar 23 poin ke level 8.306. Lima menit berselang, pada pukul 09.05 WIB, Indeks semakin tertekan dengan melemah sebesar 2,45 persen atau 203 poin ke level 8.125. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 8.313 dan terendah di level 8.121 yang tetap di zona merah.

Sebanyak 183 emiten yang bergerak menguat, 424 emiten melemah dan 351 emiten stabil. Frekuensi transaksi mencapai 315,5 ribu kali dengan nilai Rp2,81 triliun serta market kapital perdagangan mencapai Rp14,52 triliun.

Seluruh sektor melemah kecuali sektor keuangan yang sempat menguat 0,87 persen ke level 1.496 dan infrastruktur 0,07 persen menjadi 2.431.

Kemudian untuk sektor yang melemah yaitu properti -1,48 persen menjadi 1.111, konsumer non primer -0,57 persen menjadi 802, konsumer primer -2,56 persen menjadi 1.211, sektor bahan baku -6,05 persen ke level 2.098.

Lalu sektor industri -3,12 persen menjadi 1.871, sektor transportasi -0,79 persen menjadi 2.000, sektor energi -3,68 persen menjadi 3.967, teknologi -2,42 persen menjadi 8.696, kesehatan -0,77 persen menjadi 1.959.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ), David Kurniawan, menilai pelemahan IHSG di awal pekan ini terutama dipicu oleh tekanan pada saham-saham konglomerasi yang terdampak aturan free float MSCI . Namun, saham-saham perbankan besar justru bergerak hijau dan menjadi penopang utama indeks.

Dari sisi domestik justru ia menyoroti adanya katalis yang penting bagi pasar yang berkaitan dengan langkah pemerintah melalui Kementerian Keuangan yang menaikkan batas investasi dana pensiun di pasar saham dari 8 persen menjadi 20 persen, serta rencana BPJS Ketenagakerjaan untuk menambah alokasi investasi saham hingga 10 persen.

"Artinya ini action riil dari pemerintah cukup bagus untuk investasi di pasar saham. Kalau masuk ke pasar modal dengan jumlah yang signifikan itu akan sangat menarik," ujar David.(*)


Editor : Lutfiyu Handi / Berbagai sumber

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.