05 February 2026

Get In Touch

Korban Rampok Pasar Modal Seperti Tangisan ABG di Kamar Mandi

Subakti Sidik Wartawan Senior
Subakti Sidik Wartawan Senior

OPINI (Lentera) -Rampok....rampok...!!! 

Ya rampok. Tapi ini bukan sembarang rampok. Perampok ini tidak merampok toko kelontong. Atau rumah blantik sapi yang sedang sepi.

Ini perampokan, justru terjadi  di keramaian. Ya, di pasar. Lho....ngrampok di pasar ? Kan banyak orang ? Itulah......!!!. Mengherankan kan ?.

Sabar...!!!. Simaklah....!!!.

Benar, perampokan terjadi di pasar. Tapi pasar  modal. Ya, pasar modal Indonesia. Alias Bursa Efek Indonesia (BEI). Nama kerennya Indonesia Exchange. Disingkat IDX.  

Beda dengan pasar konvesional, yang jumlah pengunjungnya ratusan atau bahkan ribuan orang. 

Pasar modal jumlah "pengunjung"nya mencapai jutaan. Bahkan puluhan juta. Bayangkan, investor pasar modal  Indonesia jumlahnya 20 juta. Belum lagi ditambah investor asing.

Bedanya dengan pasar konvensional. Mereka tak berkumpul dalam satu tempat.

Tangisan para investor korban perampokan memang tak terdengar, seperti jeritan pedagang yang kiosnya ludes karena kebakaran. 

Tangisan investor ini, sunyi. Seperti tangisan ABG di kamar mandi, karena diputus kekasih. Di antara gemericik air. Tangisan sendu tiada henti.

Melejitnya jumlah investor, dua tahun belakangan. Seiring gencarnya BEI dalam sosialisasi. Jumlahnya meledak spektakuler. 

Sebagian investor adalah anak muda.  Berpendidikan tinggi. Di kala tinggi-tingginya minat berinvestasi.

Eh.....tiba-tiba terjadi gempa hebat di pasar modal. Investor pemula kebingungan. Kelabakan.

Bahkan trader kawakan pun tak terkecuali. Ini bencana yang belum pernah terjadi. Mereka  terkaget - kaget. Mata memelototi harga saham longsor dalam hitungan menit. 

Jika saham yang dimiliki itu BBRI atau BMRI. Atau saham BUMN lain. Mereka bisa hold (tahan). 

 Saham Abal-abal 

Bagaimana dengan saham konglo, seperti BUMI misalnya. Saham konglo ini volatilitasnya tinggi. Bak kereta cepat Whoos jurusan Bandung  Jakarta.

Taruhlah ia beli di pucuk harga tinggi Rp 450. Meluncur turun. ARB di harga Rp 380. Dan hingga Rabu pagi ini parkir di angka Rp 242. Bagaimana coba ?. Berat Bro.....!!!.

Mau nunggu berapa tahun untuk BEP? Modal kembali aja, perlu waktu bertahun-tahun. Apalagi cari cuan. Terkecuali ada mukjijat.

Apalagi kaau yang dibeli itu saham abal-abal. Hampir pasti tak ada yang bisa diharap. Apalagi kini BEI sedang bersih2. Mau apa lagi ? Ihlas ajalah.....!!!. Nasib.....nasib....!!!. Nyali mereka benar diuji.

Beda dengan pasar konvensional.

Kabar guncangnya pasar modal, tak sampai di telinga "wong ndeso". 

Meski berita ramai di televisi. Tapi tak jadi topik bahasan di warung pecel Yu Sarmi. Mereka tak peduli. Mereka memang tak mengerti.  

Pada hal, Bosnya di kota, baru saja jadi korban perampokan milyaran rupiah. Mereka hanya sibuk rutinitas harian. Mencangkul di sawah

Jika ditotal, jumlah kerugian mereka bukan miliaran. Tapi mencapai triliunan rupiah. Jauh lebih besar dari kerugian kebakaran pasar atau pabrik besar. 

Biang kerok kejadian ini adalah permainan para bandar rakus dan emiten siluman. Morgan Stanly Capital International (MSCI) hanyalah sekedar pemicu.

Bagaimana tidak? Perusahaan yang sebenarnya tak memenuhi syarat bisa melantai di bursa saham.

Lho...bukankah syarat perusahaan yang akan IPO itu sangat rumit ?. Apakah BEI main mata ?. Agaknya, bisa saja dengan oknum yang mencari keuntungan. 

Kan masih ada Otoritas Jasa Keuangan alias OJK? Yang bertugas mengawasi? Kok bisa lolos? 

Secara teori, ya seharusnya perbuatan oknum BEI bisa dicegah OJK.

Kalo oknum OJK juga melakukan hal yang sama ? Kolusi ? Ya sudahlah....bablas. Emiten ecek - ecekpun lolos. Melenggang di lantai  bursa. 

Cantik nian permainan ini Bro. Dan investor pemula yang buta medan. Pun membeli saham abal-abal. 

Apakah kolusi telah terjadi bertahun-tahun? Wah,tebak sendirilah!

Nah, di balik mundurnya Kepala BEI dan OJK, seribu satu pertanyaan muncul.

Ada apa secepat itu mundur? Tak mudah lho menduduki jabatan sekeren itu. Ditinggalkan begitu aja ? Ahhh.......lihat aja endingnya nanti.

Bareskrim Polri sudah ancang - ancang mau mengusut kasus ini. Polisi kini sedang sibuk menangani kasus yang mirip-mirip. 

Bahkan sebelum gempa terjadi di pasar modal. Harga saham yang telah dimark up, dibelikan produk reksadana yang harganya jauh lebih tinggi. 

Kita tunggu saja proses selanjutnya. Syukurlah, IHSG yang ambruk di angka 7.000-an dari sebelumnya 9.000-an, Selasa kemarin mulai rebound. Ditutup di angka 8.122.

Ini berarti mengalami kenaikan cukup signifikan. Hari ini, Rabu (4/2/2026) sampai pukul 15.08), IHSG naik tipis di angka 8.131. Semoga hari ini, dan hari2 berikutnya IHSG terus melaju. (*)

Penulis: Subakti Sidik Wartawan Senior|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.