08 February 2026

Get In Touch

Manchester United dan Antusiasme Warganet

Manchester United (Ist)
Manchester United (Ist)

OPINI (Lentera) -Tahukah Anda, ada satu indikator sosial yang lebih cepat dari statistik liga dan lebih jujur dari konferensi pers pelatih: timeline media sosial. Dan belakangan ini, timeline kita terasa sedikit… merah!  

Belakangan ini, trend Manchester United sedang menang beruntun. Dan seperti hukum alam yang jarang meleset: setiap kali MU menang, animo warganet mendadak lebih ramai, lebih kreatif, dan lebih penuh konten yang entah lucu, ataupun menyebalkan —tergantung Anda fans siapa.

Bahkan orang yang tidak nonton bolanya pun tetap tahu hasilnya. Bukan karena lihat skor, tapi karena mendadak muncul meme di mana-mana.
Menariknya, setiap kemenangan MU selalu diikuti oleh ledakan kreativitas warganet. Ada yang edit foto, bikin video parodi, potong adegan film, sampai mengaitkan kemenangan dengan hal-hal yang secara ilmiah sulit dijelaskan.

Tampaknya, sebagian warganet tidak benar-benar butuh kemenangan MU. Mereka hanya butuh alasan untuk bikin konten.
Dan MU, dengan segala sejarah dan dramanya, adalah bahan baku yang nyaris tidak pernah habis.

Dan jika Anda perhatikan, MU ini adalah sebuah anomali. 
Menang sedikit: ramai.
Menang banyak: lebih ramai.
Kalah: jauh lebih ramai.

Dalam dunia digital, popularitas bukan cuma diukur dari berapa yang memuji, tapi juga dari berapa yang ikut nimbrung.
Dari fenomena ini, kadang saya berpikir, MU ini bukan cuma klub sepak bola. Ini semacam pabrik narasi.
Apa pun yang mereka lakukan—menang, kalah, seri, ganti pelatih, beli pemain —selalu bisa jadi bahan obrolan nasional.
Kemenangan beruntun kemarin bukan cuma menaikkan posisi di klasemen, tapi juga menaikkan: traffic meme, stok caption, dan bahkan cadangan bahan roasting antar teman.

Namun, dibalik semua kelucuan itu, ada satu pelajaran yang cukup penting: punya basis penggemar yang besar itu bukan cuma soal prestasi, tapi soal cerita.
MU memang tidak selalu berada di masa terbaiknya. Tapi mereka punya: sejarah, drama, dan emosi kolektif lintas generasi.
Orang bukan cuma mendukung klubnya. Mereka mendukung kenangan dan identitas.

Lantas, apa relevansinya ke hidup kita?

Dalam hidup dan pekerjaan, sering kali kita terlalu fokus ingin langsung “hebat”.
Padahal, yang membuat sesuatu bertahan lama adalah: konsistensi, narasi cerita, dan hubungan emosional dengan orang-orang.

Brand besar tidak cuma menjual produk.
Pemimpin besar tidak cuma mengejar hasil.
Mereka membangun ikatan emosional 
Itu bukan sekadar soal performa. Itu soal relevansi.

Nah.. pada akhirnya, fenomena King MU ini akan mengingatkan kita bahwa yang membuat sebuah entitas bertahan lama bukan hanya soal hasil, tetapi soal narasi. Produk, brand, bahkan institusi tidak cukup hanya “bagus” atau “menang”; ia perlu cerita yang hidup, emosi yang bisa diikat, dan pengalaman yang bisa dibagikan—termasuk lewat tawa dan candaan. 

Di era digital ini, orang mungkin datang karena kualitas, tetapi mereka yang tetap bertahan adalah karena memiliki narasi yang relevan, hidup, dan penuh emosi. Dan seperti MU, brand yang kuat bukan yang selalu sempurna, melainkan yang selalu punya kisah untuk diceritakan dan diingat 

Happy weekend, King! 

Penulis: Suhardiman Eko, Tim Lentera Media|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.