SURABAYA(Lentera) -Wartawan sejatinya tidak pernah benar-benar berhenti bekerja. Mereka hanya mengganti cara bekerja, dan hasil karyanya antara lain disimpan dalam bentuk puisi.
Ungkapan ini disampaikan Dr Eko Pamuji, Wakil Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat saat peluncuran buku Antologi Puisi ke-8 karya komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas), yang berlangsung di Balai Pertemuan Gedung Pers PWI Jatim, Jl. Taman Apsari Surabaya, Jumat (13/2/2026).
Buku Antologi Puisi bertajuk “Tanpa Jeda” ditulis oleh 13 anggota Warumas dan 7 orang penulis tamu yang sebagian besar adalah wartawan senior Jawa Timur yang sudah malang melintang selama 30 tahun lebih di dunia jurnalistik. Eko Pamuji menyebut para penulis yang karyanya termuat dalam buku antologi puisi tersebut sebagai wartawan tulen.
Ke-13 wartawan anggota Warumas yang rata-rata berusia 60 tahun ke atas tersebut adalah: Amang Mawardi, mantan wartawan Mingguan Surya dan sudah menulis 18 karya buku, Adam A. Chevni (Bisnis Indonesia), Achmad Pramudito (Pimred media online iniSurabaya dot com), Arieyoko (Republika dan ketua PWI Bojonegoro), Ida Noershanty Nicholas (Bisnis Indonesia dan Dosen), Imung Mulyanto (Surabaya Post & Pimred Arek TV Surabaya), Kris Mariyono (RRI Surabaya), Riamah M. Douliat (Liberty & Nyata), Rokim Dakas (Surabaya Post), Sasetya Wilutama (Majalah Penyebar Semangat & SCTV), Toto Sonata (Suara Indonesia), Widodo Basuki (Pemred Majalah berbahasa Jawa “Jaya Baya”).
Selain nama-nama di atas, beberapa nama wartawan senior juga menyumbang karya puisinya. Antara lain : Sapto Anggoro (pendiri tirto.id dan ex anggota Dewan Pers), Herry Siswanto (Harian Surya), Nunung Harso (anggota DPRD Surabaya).
Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam dan menegaskan bahwa disiplin jurnalistik dan kedalaman sastra sejatinya saling menguatkan.
Menulis puisi, katanya, tidak semudah menulis berita. Harus berlandaskan nilai-nilai pengalaman dalam kehidupan dan diwarnai diksi terungkap dalam kalimat -kalimat yang menarik,"
“Tidak semua wartawan bisa menulis puisi, tetapi seorang penyair akan lebih mudah menulis jurnalistik. Nah, mereka ini kebetulan sastrawan yang berprofesi sebagai wartawan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Cak Item, sapaan akrabnya, tampil membaca dua karya puisinya.
Obrolan Grup WA
Menurut Ketua Warumas, Kris Mariyono, ide awal terbentuknya komunitas Wartawan Usia Emas (Warumas) serta penerbitan buku antologi puisi ini berawal dari obrolan di Grup WA antar teman wartawan senior sejak tahun 2023. Buku antologi puisi edisi pertama bertajuk “Kutulis Puisi Ini” dirilis di kampus Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya. Selanjutnya setiap tahun, Warumas menerbitkan buku antologi puisi dengan tema dan gagasan yang berbeda.
Buku Antologi puisi “Tanpa Jeda” setebal 164 halaman itu diterbitkan oleh Penerbit “Meja Tamu” Sidoarjo yang setia mengawal sejak penerbitan pertama.
Pemberian judul buku ini seolah menegaskan bahwa para wartawan akan terus menulis dan menghasilkan karya, tanpa jeda.
Dalam kesempatan tersebut, selain peluncuran buku antologi puisi “Tanpa Jeda”, juga diluncurkan karya buku ke-18 wartawan senior Amang Mawardi, Biografi Puisi “Jiwa Tampak Rohan” . Karya buku ini menyorot buku kumpulan puisi “Bicaralah yang Baik-baik” karya M. Rohanudin, mantan Direktur Utama LPP Radio Republik Indonesia (*)
Editor: Arifin BH/Rls





.jpg)
