26 February 2026

Get In Touch

12 Jet Tempur AS Mendarat di Israel, Ada Armada Paling Canggih di Dunia

Jet tempur F-22 Raptor AS selama Dubai Airshow pada 12 November 2017, di Uni Emirat Arab (KARIM SAHIB)
Jet tempur F-22 Raptor AS selama Dubai Airshow pada 12 November 2017, di Uni Emirat Arab (KARIM SAHIB)

SURABAYA (Lentera) -Setidaknya 12 jet tempur F-22 milik Amerika Serikat telah mendarat di pangkalan udara Israel, Selasa (24/2/2026).

Ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan AS dengan Iran.

“Dua belas jet tempur F-22 AS mendarat siang ini di salah satu pangkalan Angkatan Udara Israel di selatan negara itu, sebagai bagian dari pengerahan Amerika di Timur Tengah,” kata lembaga penyiaran publik Israel, KAN, dikutip dari Anadolu.

Pesawat-pesawat itu termasuk di antara jet tempur tercanggih di dunia yang hanya dimiliki oleh AS. 

Jet tempur itu bertugas untuk menembus wilayah musuh dan melumpuhkan sistem pertahanan udara dan instalasi radar.

Kebuntuan negosiasi Iran-AS

Iran dan AS dijadwalkan akan kembali bertemu untuk negosiasi nuklir di Jenewa pada Kamis (26/2/2026).

Washington dan Teheran telah menyelesaikan dua putaran pembicaraan yang bertujuan mencapai kesepakatan tentang program nuklir Iran untuk menggantikan perjanjian yang dibatalkan Trump selama masa jabatan pertamanya.

AS sendiri telah berulang kali menyerukan penghentian pengayaan uranium oleh Iran.

Mereka juga mengingkan penghentian program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan tersebut—tuntutan.

Namun, dua usulan terakhir telah ditolak oleh Iran.

Trump telah mengirimkan kekuatan militer AS yang besar ke Timur Tengah, mengerahkan dua kapal induk serta lebih dari selusin kapal lainnya, sejumlah besar pesawat tempur, dan aset lainnya ke wilayah tersebut.

Dia berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika negosiasi gagal mencapai kesepakatan baru. 

Trump gelar rapat bahas serngan Iran

Presiden AS Donald Trump sendiri dilaporkan siap mempertimbangkan opsi serangan militer skala besar terhadap Iran apabila kesepakatan diplomatik gagal tercapai.

Bahkan, Trump dikabarkan telah dibahas dalam pertemuan tertutup di Ruang Situasi Gedung Putih, Rabu (18/2/2026). 

Pertemuan tingkat tinggi tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat teras, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine.

Dalam forum tersebut, mengutip Kompas, Trump mendesak Jenderal Caine dan Ratcliffe untuk memaparkan pandangan mereka terkait strategi luas terhadap Iran. 

Namun, kedua pejabat tersebut dilaporkan bersikap hati-hati dan tidak memberikan rekomendasi kebijakan spesifik.

Jenderal Caine lebih fokus memaparkan kapabilitas militer dari sisi operasional.

Sementara itu, Ratcliffe membedah situasi terkini di lapangan serta analisis dampak dari operasi yang diusulkan.

Berbeda dengan optimisme saat operasi penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela bulan lalu, Jenderal Caine kali ini tidak memberikan jaminan keberhasilan yang sama.  

Hal ini dikarenakan Iran dinilai sebagai target yang jauh lebih kompleks dan sulit ditembus.

Di sisi lain, JD Vance tidak menyatakan penolakan. Namun, ia melontarkan serangkaian pertanyaan tajam mengenai risiko dan kerumitan pelaksanaan serangan tersebut (*)

Editor: Arifin BH

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.