26 February 2026

Get In Touch

UMKM Kue Kering Kota Malang Banjir Pesanan Berkat Resep Turun-Temurun

Proses packing produk salah satu UMKM kue kering di Kota Malang, Rabu (25/2/2026). (Santi/Lentera)
Proses packing produk salah satu UMKM kue kering di Kota Malang, Rabu (25/2/2026). (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Di tengah ramainya permintaan kue kering jelang Lebaran, sebuah dapur rumahan di Kota Malang tak pernah sepi produksi. UMKM Cempaka Cookies kebanjiran pesanan pada awal Ramadan 1447 H/2026, berkat resep turun-temurun keluarga yang tetap dipertahankan selama hampir dua dekade.

Konsistensi rasa itulah yang membuat pelanggan setia terus berdatangan setiap tahunnya.

"Setiap Ramadan pasti ramai. Pesanan terus berdatangan, bahkan banyak yang minta diprioritaskan supaya tidak terlalu dekat dengan hari raya. Saya mengerjakannya bersama dua putri saya dan dibantu dua saudara," ujar pemilik Cempaka Cookies, Endang Susilowati (55), Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, Ramadan selalu menjadi periode puncak penjualan. Tidak sedikit pelanggan yang memesan jauh hari sebelum Idul Fitri untuk memastikan ketersediaan produk, mengingat kapasitas produksi dilakukan dalam skala rumahan.

Pelanggan kue kering buatannya, diakui tidak hanya berasal dari perorangan. Sejumlah instansi pemerintahan, anggota dewan, hingga rumah sakit, menurut Endang turut melakukan pemesanan dalam jumlah besar untuk kebutuhan parsel dan sajian Lebaran. 

"Pesanan dalam skala partai tersebut turut mendorong peningkatan omzet selama bulan puasa," katanya.

Adapun varian kue yang diproduksi tahun ini masih didominasi kue klasik favorit masyarakat, seperti kastengel, nastar, putri salju, lidah kucing, palm cheese, sagu keju, choco chip, hingga thumbprint choco nut. 

Endang mengaku, seluruhnya dibuat menggunakan resep yang sama sejak awal usaha berdiri di tahun 2008. Ditegaskannya, menjaga cita rasa autentik menjadi komitmen utama. 

Seluruh kue diproduksi tanpa bahan pengawet. Meski demikian, daya tahan produk tetap terjaga karena proses produksi dilakukan secara higienis dan menggunakan bahan baku berkualitas.

"Keunggulan kami ada di rasa dan teksturnya. Resepnya tidak berubah sejak dulu. Kami juga selektif memilih bahan supaya kualitasnya konsisten," katanya.

Untuk harga, kue kering produksinya dibanderol mulai Rp40 ribu. Serta Rp60 ribu per toples ukuran 500 mililiter. Harga tersebut dinilainya kompetitif di tengah tingginya permintaan kue kering Lebaran di Kota Malang.

Dalam hal pemasaran, Endang juga mengaku dibantu oleh sang suami, Djoko Winahyu. Dalam hal ini, Djoko menyebut omzet yang diperoleh saat Ramadan dapat menembus puluhan juta rupiah.

"Di luar musim Lebaran, usaha tetap berjalan melalui layanan katering, nasi kotak, kue basah, hingga pesanan khusus seperti suvenir pernikahan dan perayaan Natal," ungkap Djoko. 

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.