SURABAYA (Lentera) – Suasana ziarah rohani yang seharusnya penuh kedamaian berubah menjadi ketegangan mencekam bagi puluhan warga negara Indonesia (WNI) asal Surabaya. Di tengah berkecamuknya konflik, mereka sempat terjebak dalam bungker perlindungan saat sirene serangan udara meraung di Israel, sebelum akhirnya kini, Rabu (4/3/2026), tertahan tanpa kepastian di Amman, Yordania. Dengan stok obat-obatan yang menipis dan biaya ekstra yang membengkak, para jemaah—yang didominasi lansia—kini sangat mengharapkan uluran tangan pemerintah untuk bisa segera pulang ke tanah air.
Salah satu peserta Tour Holyland, Dwie Ratna Winarsih asal Surabaya, yang diwawancarai lenteratoday.com via panggilan video pada Rabu (4/3/2026) malam menceritakan kondisi mereka di Amman. Berikut wawancara dengan Dwie Ratna Winarsih yang berada di Hotel Golden Tulip Amman, Yordania.
Bagaimana kondisi di Amman?
Kami baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan pihak KBRI di Amman. Beberapa TL sebenarnya sudah memikirkan alternatif, tapi juga ada stuck. Seperti misalkan, mereka terbang dari Jordan ke Jeddah, kemudian dari Jeddah ke Jakarta. Tapi ternyata di Jeddah itu mereka enggak dapat penerbangan lanjutan, sehingga mereka harus stay. Dan pada saat stay, mereka membutuhkan visa yang mana mereka enggak bisa ngurus gitu.
Nah, akhirnya hari ini disampaikan permasalahannya ke Bapak KBRI yang tadi datang, Pak... ada Pak siapa tadi? Pak Nur Ibrahim dan rekannya tadi siapa? Pak Alfan, ya, Pak Alfan. Yang kemudian akan dijanjikan akan dibantu gitu, karena kebetulan flight-nya itu besok pagi gitu kan, dan susahnya akan diusahakan untuk diurus cepat, Pak, itu yang pertama.
Lalu yang kedua, ada beberapa grup termasuk dari grup saya, ini akhirnya kan kita memutuskan untuk jalan lewat Kairo gitu. Karena penerbangan yang dari Jordan ini ke Istanbul atau ke Jeddah, kan kami dengar dari beberapa yang sudah ke sana, mereka stuck juga, mereka enggak dapat penerbangan lanjutan gitu. Sedangkan dari Emirates menawarkan kalau kami sudah ada di Mesir, mereka akan mencoba mencarikan penerbangan alternatif. Tapi dengan syarat kami sudah di Mesir lebih dahulu gitu.
Nah, supaya... supaya juga cepat, ya walaupun kami dengar dari beberapa kabar kalau masih ada 450 orang yang masih stuck di Mesir gitu kan, tapi kami juga enggak tahu permasalahan mereka apa. Ya kami memutuskan untuk besok kemungkinan 54 orang akan jalan dari Amman ke Mesir.
Nah, tadi juga kami komunikasikan kepada apa... Pak Nur, bahwa kita sudah berhitung masalah biaya gitu kan. Dan tur yang kami selenggarakan ini kan sebenarnya memang tur rohani ya, dan tidak semua dari kami ini punya kemampuan ekonomis yang baik gitu.
Jadi kami meminta kepada KBRI bagaimana perhatianlah terhadap kami sebagai warga negara Indonesia yang saat ini terdampar di negeri orang. Kami dengan tambahan biaya extra cost yang sama sekali ini di luar dari rencana dan apa namanya, persiapan kami gitu.
Nah, dijanjikan juga oleh Pak... Pak Nur untuk akan disampaikan ke pimpinan, ke Pak Dubes berarti, dan akan diberi jawaban sesegera mungkin. Ya kami berharap jawabannya itu bisa cukup melegakan dan membantu ya, karena kami kasihan juga dengan beberapa peserta yang memang berangkat ke sini dengan sponsor gitu. Tentu mereka kan... mereka juga enggak bersiaplah dengan situasi seperti ini gitu. Iya. Jadi kami juga sampaikan tadi ke apa, perwakilan KBRI bahwa itu akan sangat membantu bagi anggota-anggota tur yang di sini.
Nah, yang berikutnya adalah karena grup kami juga kebetulan banyak manula, ada yang umurnya 78, 79, 68, dan mereka ini dikhawatirkan oleh anggota keluarga yang ada di rumah gitu.
Merasa khawatir gitu?
Terus di sini juga sudah mulai nangis-nangis. Kita ini juga mau menghibur dengan... dengan cara gimana gitu. Tapi ya puji Tuhan kami coba bantu apa kekhawatiran mereka, kami sampaikan ke Kedubes bahwa mereka ternyata ada beberapa obat yang mereka rutin harus dikonsumsi itu...
Bisa dapat obat ya di sana?
Mereka enggak bawa lebih banyak gitu. Jadi ngepres aja bawanya sampai hari kepulangan. Nah, ini juga kami sampaikan kepada Kedubes dan kami appreciate banget bahwa dari KBRI tadi berinisiatif untuk membelikan gitu dari apotek setempat dan mengirim hari ini sudah sampai obatnya di tempat ini.
Jadi kira-kira update-nya begitu. Thank you so much buat teman-teman yang sudah membantu untuk menyebarkan apa berita kami ya. Karena kami juga dengar dari beberapa tour leader yang sempat apa menghubungi KBRI tapi tidak mendapat respons yang cepat juga. Namun tadi dijelaskan oleh Pak Imam... Pak Ibrahim bahwa ya mereka menerima sangat banyak telepon dan tidak bisa merespons dengan cepat, ya mereka minta maaf tentang itu.
Tapi, ya kami bersyukurlah dengan adanya berita kami yang beredar cukup... cukup viral dan dibantu untuk disharingkan oleh kenalan-kenalan kami yang peduli terhadap keberadaan kami di sini, akhirnya dengan cepat kami direspons dan langsung hari ini bisa berkomunikasi dengan... dengan intens dan kita sudah bisa kira-kira ya mendapat beberapa alternatif yang bisa di... ya moga-moga bisa dieksekusi ya. Karena ini tergantung dari bapak-bapak yang dari KBRI merespons dari permintaan-permintaan kami yang kami harapkan itu tidak berlebihan gitu. Kira-kira seperti itu bapak-bapak.
Kalau boleh tahu, ini sekarang posisi pastinya di mana, Ce? Ditempatkan di mana gitu?
Oh iya, kita ada di Hotel Golden Tulip Amman.
Sudah berapa hari di sana, Ce?
Dari grup kami sejak tanggal 1. Iya, karena kami ini kan sebenarnya kan memang tur ziarah itu kan berjalan ya dari Kairo lalu ke anu ke Israel. Nah, waktu kami melalui Israel itu kebetulan pas banget dengan hari pertama Israel meluncurkan rudal gitu. Jadi waktu kami... kami juga waktu itu sedang ada di daerah Haifa ya, di daerah apa itu... pangkalan militer apa... ini juga di area pangkalan militer Israel juga.
Lalu tiba-tiba handphone mati, sirene bunyi. Kita kaget kok tiba-tiba handphone kita ada kayak alarm tapi bahasanya tulisannya tulisan Israel kita enggak bisa baca kan. Akhirnya ada orang lokal di sana kita di-awe-awe gini, di apa dipanggil-panggil gini terus kita diajak ke tempat shelter.
Kebetulan dia bisa Bahasa Inggris lalu dia bilang, "You have to stay here and find a..." cari tempat bungker perlindungan yang terdekat gitu. Nah, kita bersyukur banget karena orang-orang di sana kayaknya tenang banget. Kita sudah panik suaranya kencang banget gitu kan. Kemudian setelah berapa lama muncul alarm lagi menyatakan bahwa situasi sudah aman, kami boleh bergerak gitu.
Terus enggak lama ada kayak sirene ambulans berjalan... eh pemadam... pemadam kebakaran berjalan gitu, mobil pemadam kebakaran. Oke, kami waktu itu masih belum paham kalau ada apa namanya, Israel waktu itu meluncurkan rudalnya gitu. Lalu kami pindah ke lokasi berikutnya, alarmnya bunyi lagi gitu.
Waktu itu kita juga bingung dan guide kita kan guide lokal, terus dia langsung koordinir... dia langsung apa namanya, manggil kita gitu disuruh cepat-cepat masuk ke restoran yang ternyata di restoran itu juga sudah menyediakan bungker. Jadi ternyata di sana setiap bangunan itu punya bungker perlindungan gitu. Dan di sana kami cukup lama, sekitar satu setengah jam ya, yang cukup bikin stres.
Jadi sempat masuk bungker?
Iya. Jadi suara debam-debum... terus habis gitu, aduh udah pokoknya di sana menegangkan banget sampai ini gimana gitu, kacau semua. Tapi ngelihat beberapa orang Israel yang berada di bungker begitu tenang, mereka kayak menikmati waktu di sana, kayak... kayak santai aja gitu ya kita jadi mikir, apa mereka sudah biasa kali ya. Kalau kami pengalaman pertama.
Nah, sejak itu kemudian seharusnya kami kan masih mengunjungi beberapa tempat di sana, tapi akhirnya kami putuskan untuk segera meninggalkan Israel dan kami cepat-cepat jalan ke Jordan. Karena sebenarnya penerbangan pulang kami dari Jordan. Dan kami sudah... waktu itu sudah mulai apa namanya, ada yang mau minta pulang lebih awal, udah kita maju aja kita pulang aja blablabla. Tapi masih dalam perdebatan karena pada saat tanggal 1 itu tiket kami Emirates itu masih on schedule.
Nah, kami baru tahu tiket kami di-cancel, confirm cancel itu H-1, tanggal 3. Jadi... iya jadi juga cukup shocking ya. Memang dari TL sudah...tapi kok ya ada yang jalan? Jadi kami nggak bisa menebak mana yang cancel, mana yang jalan.
Ya karena waktu itu masih dilihat bahwa penerbangan kita on schedule, tour leader-nya mungkin berpikir ya sudah kita daripada keluar biaya lagi, kita terbang sesuai jadwal aja. Tapi ternyata H-1 confirm di-cancel. Jadi makin panik lah. Itu.
Nah, kita sempat mencari beberapa alternatif tiket-tiket dan kami mendengar bahwa yang sudah dapat tiket pun merasa sudah senang bisa terbang ternyata mau terbang di-cancel. H-1 di-cancel, H berapa jam di-cancel gitu kan? Jadi kita jadi takut, oh ternyata kita pegang booking tiket ini belum tentu kita terbang juga gitu.
Makanya kemudian kita sempat juga berpikir mau alternatif apa lagi, sudah buntu semua lah. Terakhir ya akhirnya kita kejar KBRI kan untuk maksudnya mungkin dari KBRI bisa bantu evakuasi kita atau bagaimana? Karena kami mengikuti berita yang di apa yang di lokal ini serem banget gitu. Mereka update berapa-berapa apa namanya misil yang diluncurkan, misil yang ini dan sebagainya. Jadi itu menambah kekhawatiran kami.
Dan lagi Jordan ini deket banget sama Israel sehingga kalau ada-ada ledakan di Israel itu kami masih bisa dengar dari kamar hotel gitu. Jadi saya kalau malam itu lullaby saya itu adalah rudal gitu kan, mereka main rudal kayak main kembang api kan, langsung cung-cung-cung gitu. Terus kemudian pagi-pagi bangun ya kan belum melek mata itu juga sudah bum lalu wiung-wiung ya walaupun tidak separah pada saat di Israel, bunyinya juga lebih maksudnya lebih-lebih kecil tapi masih terdengar dari kamar hotel kami.
Nah, saya juga khawatir ya tentu yang usianya lebih-lebih senior dari saya ini saya lihat semakin lama mereka secara psikologis sudah mulai terdampak gitu. Makanya kita berusaha untuk mencari alternatif yang sesegera mungkin takutnya mereka nanti kalau sakit di sini dan apa dan sebagainya, kami kan juga nggak punya channel ini untuk maksudnya ngurus ini itunya gitu.
Nah, syukur sih kemarin-kemarin salah satu dari peserta-peserta tur kami itu menginisiasi kita bikin konten aja gitu kan. Kemudian kita minta tolong kenalan-kenalan kita untuk maksudnya membagikan di sosmed gitu kan. Tujuannya sih sebenarnya supaya kita dapat atensi sih, butuh bantuan untuk solusi bukan maunya bagaimana gitu. Ya puji Tuhan hari ini akhirnya bisa ketemu dengan perwakilan KBRI yang datang ke hotel kami. Di hotel kami ada 79 WNI yang tinggal di hotel yang sama.
Itu satu rombongan Ce? 79 itu satu rombongan?
Nah itu ada empat, ada empat tur grup tapi yang satu itu kayaknya sudah ada yang check-out tadi pagi juga. Lalu yang satu lagi sisa tiga orang. Yang grup besar hanya grup kami 24 orang dan satu lagi grup dari tur lain itu 30 orang.
Kalau yang tergolong usia lanjut tadi dari grup Cece berapa orang Ce?
Wah kalau grup saya dari 24 yang muda itu hanya saya, satu lagi sama tour leader, tiga orang aja yang muda. Yang lain senior. Jadi kita kayak-kayak jadi ini ya jadi suster-susternya mereka gitu jadi caregiver kita di sini ya. Kita juga nggak bisa gimana ya, keluarga mereka di Surabaya juga khawatir, telepon juga saling pesan tolong jangan ditinggal ya mama saya gitu kan ya jadi miris juga ya sudahlah kita saling bahu-membahulah.
Tapi komunikasi sama keluarga kan tetap lancar toh Ce? Komunikasi sama keluarga?
Ya-ya harus lancar lah ya. Di sini wifi lumayan bagus jadi cukup-cukup bisa apa cukup bisa berkomunikasi dengan baik. Cuma kami kan nggak tahu ya Pak kadang-kadang itu di Indonesia itu beritanya seperti apa yang kaminya di sini ya. Yang kayaknya kalau saya lihat di berita Indo yang deket-deket sama area pengeboman gitu kan, sedangkan kami kan sebenarnya ada jarak. Tapi ya kami punya kesulitan dan kekhawatiran yang keluarga juga khawatir sekarang ini mereka kita terbang pulang juga khawatir ya kan kalau pesawatnya kena rudal gimana gitu. Tapi kita stay di sini juga nggak mungkin. Iya dilema banget.
Kondisinya sekarang di sana kan semua baik-baik saja toh Ce? Kondisi semua baik-baik saja?
Ooo ya ini selama obat tersuplai kami harapkan baik-baik saja tapi sekarang ini sudah beberapa dari kami tumbang sakit gitu. Mungkin ya sudah mulai kepikiran, sudah mulai lelah gitu ya, terus berharap-harap cemas gitu. Makanya saya kemarin-kemarin saya sempat ngobrol sama Pak Nur satu hampir satu-setengah jam ya. Saya juga maksudnya minta, 'Pak apakah nggak ada apa namanya sebuah alternatif inisiasi dari pemerintah untuk evacuate kita dari tempat ini gitu lho?' Karena kita melihat beberapa warga negara lain sudah dijemput dan sudah diberi arahan oleh KBRI-KBRI mereka masing-masing, sedangkan kita di sini tour leader-nya yang lebih repot kayaknya untuk ngurus ini itu cari ini itu.
Tapi juga ya bersyukur hari ini bertemu dengan bapak-bapak dari KBRI yang kemudiannya kelihatannya bisa memberikan solusi-solusi yang bagi kami itu dead end gitu. Kayak misalkan visa itu kan kita dead end, kita sudah nggak bisa mengusahakan lebih gitu kan tapi kan kami berharap dengan hubungan diplomasi yang baik antara Indonesia dan negara di mana mereka membutuhkan visa itu bisa terfasilitasi gitu. Seperti itu.
Oke semoga semua bisa pulang dengan selamat.
Iya terima kasih. Kita juga berharap kalau misalkan ada kami ini mikir ya Pak kemarin gini di Mesir itu kan kami dengar bahwa ada sekitar 450 WNI yang mereka itu stuck nggak dapat penerbangan. Kalau ditambah kami 54 kan jumlahnya 500 sekian gitu kan. Kami mikir sebenarnya kalau misalkan nih bukan masa ya tapi berharap lah sebenarnya kayak Indonesia charter dua-dua pesawat misalkan di sini untuk menerbangkan kami pulang itu kan mestinya bukan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Cuma kami juga maksudnya kami sudah sampaikan ke Pak-Pak Nur Ibrahim ya, namun dijawab Pak Nur bahwa 'Bu mohon maaf kalau harapan Ibu itu di luar kewenangan kami, itu haruslah pemerintah pusat yang memberikan apa namanya perintah eksekusi untuk mengevakuasi bapak-ibu baru kami ini bisa melaksanakan'. Jadi sifat saya baru tahu juga kalau ternyata KBRI di sini nih sifatnya adalah eksekutor dan keputusan itu yang ngambil adalah pemerintah pusat gitu.
Berarti harapan-harapan Cece ke pemerintah pusat seperti apa Ce?
Ya harapannya kami didengarkan difasilitasi dan cepat dikeluarkan Pak dari tempat ini karena kami baca berita-berita lokal di sini dan banyak orang memprediksi terutama dari keluarga segala macam ini perang akan semakin panas gitu dan kami takut kalau kami nggak segera keluar dari sini nanti kami malah di-lockdown di sini sangat lama dan itu-itu nggak ampun. Bayangin kalau kayak Covid 3 tahun, mateng!
Jadi harapan-harapan sekarang saat ini ya itu tadi ya Ce ya?
Iya jadi ya kami mohon pemerintah pusat memberikan atensi perhatian kepada kami WNI yang ada di sini yang saat ini terkatung-katung di negeri orang. Bukan maksud kami juga kami berada di tempat ini saat perang seperti ini tapi ini kan suatu kondisi yang memang di luar dari apa-apa yang dapat kami prediksikan bersama gitu. Namun, kami berharap perhatian dari pemerintah untuk memulangkan kami sesegera mungkin ke tanah air karena kami juga sudah mulai lelah secara fisik, secara mental, secara psikologis dan fisik juga sangat penting ya untuk kepulangan.
Kalau misalkan fisiknya tidak-tidak cukup bagus kan kami juga pulang susah gitu kan kalau misalkan ada orang tua yang kemudian secara fisik pulangnya sakit kan kami juga repot di sini. Nah sesegera mungkin karena kami takut kalau misalkan perang ini semakin memanas, kami akan terkunci lebih lama di tempat ini di mana kami juga tidak memiliki sanak saudara di sini, kami juga tidak punya akses di sini dan kami punya pekerjaan di rumah, kami punya keluarga di rumah, kami punya anak yang masih kecil, anak saya masih 11 tahun Pak.
Jadi, ya kami berharap pemerintah pusat kalau memang memungkinkan membantu untuk arrangement mungkin hanya dibutuhkan dua pesawat untuk memulangkan kami semua yang ada di sini.
Jadi, di Mesir sudah di-confirm bahwa ini info dari tur lokal jadi kelihatannya cukup valid bahwa yang stuck di sana masih sekitar 450, kemarin ada 500 gitu sudah bisa pergi 450 orang ya.
Moga-moga pemerintah memberi perhatianlah kepada WNI, kami WNI yang ada di negeri orang ini, untuk memulangkan kami dengan sesegera mungkin. Jadi mohon bantuan dari teman-teman media, siapa saja yang mendengar, untuk menyuarakan, membantu kami untuk menyuarakan kepada pemerintah pusat agar mereka dengan segera melakukan apa pun yang saya percaya itu akan mudah bagi pemerintah dan walaupun itu sulit bagi kami, itu akan bisa dilakukan dengan cepat dan segera sebelum ada jatuh korban. Jadi kami mohon bantuannya dengan sangat ke teman-teman media. Terima kasih banyak.
Terima kasih, semoga semua lancar, bisa kembali ke Surabaya dengan selamat sesegera mungkin.
Iya, tolong doanya.
Iya, makasih ya. Thank you, thank you. (*)
Reporter : Lutfi
Editor : Lutfiyu Handi




.jpg)
