YOGYAKARTA (Lentera) - Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menemukan 45 suspek campak 6 di antaranya terkonfirmasi positif, penyebabnya dari tertular dan orang tua tidak memberikan vaksin kepada anaknya.
Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah menjelaskan, seluruh suspek sudah melalui pemeriksaan.
“Tahun 26 (2026) kalau dari data dari kami itu untuk suspek ada 45. Suspek tuh 45, semuanya kita lakukan pemeriksaan laboratorium. Kemudian dari hasil itu yang positifnya enam,” ujarnya mengutip Kompas.com, Kamis (5/3/2026).
Ia menyampaikan, jumlah tersebut masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan daerah lain dan sebaran kasus masih terkendali.
“Oh, enggak. Kita enggak KLB. Kasus yang enam itu pun juga tuh rata-rata memang nggak divaksin ya,” tandasnya.
Ia menambahkan, penyebab dari enam orang tertular campak karena menolak untuk mendapatkan vaksinasi. Lanjutnya, Puskesmas telah melakukan edukasi kepada masyarakat terkait dengan vaksinasi namun masih ada yang menolak.
“Kota Jogja sih biasanya menolak ya, menolak. Ya kami dan teman-teman Puskesmas ya sudah mengedukasi gitu ya untuk supaya, melakukan vaksinasi. Karena kan sebetulnya vaksinasi pada anak, bayi, balita ini hampir semua tersedia ya di Puskesmas,” ungkapnya.
Lana memastikan, sampai sekarang tidak ada kasus pasien meninggal dunia akibat terpapar Campak.
“Enggak ada, semuanya bisa kita tangani,” katanya.
Lana menyampaikan, Dinkes Kota Yogyakarta sudah melakukan berbagai upaya salah satunya melalui pendekatan dengan menggandeng pemuka agama agar masyarakat paham pentingnya vaksinasi bagi kesehatan.
“Tapi ya namanya orang yang sudah, mempunyai anggapan vaksin itu nggak perlu gitu ya. Jadi itu memang agak susah. Mungkin yang harus kita lakukan ya lebih gigih lagi untuk menyebarluaskan informasi,” paparnya.
“Momen KLB di nasional ini, juga sebetulnya satu titik poin yang cukup baik ya untuk kita bisa menginformasikan ke masyarakat, Ini lho, ini lho akibatnya jika tidak, tidak divaksin,'” katanya.
Ia menambahkan, vaksin diberikan gratis oleh pemerintah melalui Puskesmas maupun fasilitas layanan kesehatan lainnya. Lana memastikan, keenam anak yang terpapar Campak sudah mendapat perawatan dan sudah dinyatakan sembuh.
Terkait dengan waktu sembuh, setiap anak berbeda-beda tergantung dengan kondisi masing-masing pasien.
“Ya, tergantung kondisi si pasien. Kalau misalnya relatif tidak terlalu berat ya mungkin dalam 5 sampai 7 hari ya bisa sembuh. Tapi kalau misalnya sampai ke komplikasi tentunya akan lebih lama,” imbuhnya.
Sebelumnya, Campak kembali mencuri perhatian publik di tengah lonjakan kasus dalam beberapa waktu terakhir. Perbincangan makin meluas setelah seorang influencer Ruce Nuenda mengeklaim dirinya mengidap campak tanpa mengetahui dan menyadari risiko penularannya.
Kondisi tersebut memantik kritik sekaligus membuka ruang diskusi soal bahaya campak. Campak merupakan penyakit yang sangat menular dan memiliki risiko berkembang menjadi penyakit berat. Melalui akun resmi X, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat untuk tidak meremehkan penyakit campak.
"Penyakit campak kembali bermunculan dan tidak bisa dianggap sepele. Sebab, penularannya sangat cepat dan dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi penyakit berat," tulis Kemenkes mengawali penjelasannya, Rabu (4/3/2026).
Editor: Arief Sukaputra




.jpg)
