11 March 2026

Get In Touch

Tidak Boleh Dekat Bocah

Membantu sesama pasien
Membantu sesama pasien

\SURABAYA (Lentera) -Selama setengah hari, Selasa siang kemarin (10/3/2026) saya jalani Positron Emission Tomography  (PET) Scan di rumah sakit Kemenkes, Indrapura, Surabaya.

PET Scan adalah prosedur kedokteran nuklir untuk melihat fungsi dan metabolisme sel tubuh secara mendetailsering digunakan mendeteksi dini kanker, gangguan saraf, dan penyakit jantung. Prosedur ini menggunakan cairan radioaktif dosis rendah untuk mendeteksi area dengan aktivitas seluler tidak normal. 

Setelah menjalani PET Scan, saya tidak boleh dekat bocah atau bayi usia lima tahun selama 24 jam. Pun ibu yang menyusui, atau ibu hamil.

Sebab, obat radiofarmaka setengah CC yang disuntik ke tubuh saya, mengandung radiasi yang berbahaya.

"Karena obat yang disuntikan ke tubuh bapak mengandung radiasi, bapak tidak boleh dekat dengan bayi, balita, ibu hamil atau yang sedang menyusi," kata operator yang suntik di punggung tangan saya.

"Berapa lama. Di rumah ada cucu masih bayi," tanya saya.

"Selama 24 jam Pak," sahut perawat itu singkat.

"Waduh ... lama juga," kataku.

"Bapak harus minum air putih yang banyak untuk menggelontor," lanjutnya lagi.

Ini sedang jalani ibadah puasa. Tidak boleh makan dan minum. "Setelah buka puasa pak," katanya.

Yang menjadi problem larangan itu, karena di rumah ada cucu. Yang baru berusia 10 bulan. Dan ibunya yang masih menyusui.

Saya terpaksa terisolir dari mereka. Cucuku tak henti-henti menangis. Minta digendong seperti biasa. Karena terbiasa dengan saya di rumah.

Tak hanya itu. Di Masjid Al Wahyu, tempat saya shalat di Rungkut Menanggal Harapan, banyak anak-anak balita yang ikut orang tuanya shalat tarwih. Saya pun harus menjauhi mereka.

Meski datang ke masjid terlambat. Usai adzan, namun berusaha mencari celah di shaf paling depan. Atau kedua, yang tidak ada anak-anak kecil. Yang biasa berlarian di belakang, saat orang sedang shalat isya dan tarwih.

Karena khawatir, radiasi yang ada di tubuh, terpapar pada mereka.

Cara menyuntikan obat ini, beda dengan injeksi biasa. Sama dengan suntikan kemo. Yang beda hanya jarumnya, lebih kecil.

Obat radiofarmaka setengah CC yang disuntik ke tubuh mengandung radiasi yang berbahaya
Obat radiofarmaka setengah CC yang disuntik ke tubuh mengandung radiasi yang berbahaya

Setelah dipasang jarum, lalu dimasukan cairan infus sebagai pendahulu.

Kalau kemo cairan infus digantung, sebagai obat pendahulunya, tapi untuk PET Scan, speit cairannya digantung di punggung tangan.

Anggaplah cairan infus ini, sebagai pembuka jalan. Agar obat yang ngandung radiasi itu, bisa mengalir ke seluruh tubuh.

Setengah jam kemudian, baru obat radiofarmaka yang berfungsi untuk pencitraan PET Scan ini, disuntik. Lewat jarum yang dipasang di punggung tangan itu 

Sambil rileks, disuruh menunggu obat ini mengakir ke seluruh tubuh. Baru laksanakan Positron Emission Tomography (PET) Scan itu, dilaksanakn.

Dengan mengenakan baju khusus pasien. Dan celana yang tidak menggunakan resleting dari besi atau tembaga, berbaring di atas tempat tidur selebar tubuh itu.

Kaki, tubuh, dan tangan diikat. Agar tidak bergerak. Karena kakau bergerak bisa mengganggu hasil gambar rekamannya.

Tapi lucunya, ternyata celana trening yang saya kenakan. Kantongnya ada resleting besi.

Ketahuan setelah scan itu dimulai. Tubuh saya sudah berada di dalam tabung.

Akhirnya terpaksa mesin dihentikan. "Pak, di kantong calananya resleting besi," kata Agista, gadis cilik berjilbab, yang bertugas sebagai operator. Yang dibantu beberapa mahasiswa.

Karena tubuh sudah masuk ke dalam tabung sempit itu, akhirnya celana ditarik dari ujung kaki, sampai lutut.

Untung mengenakan celana dalam. Pasien lain saya lihat, rata-rata mengenakan sarung. Mungkin juga tidak mengenakan celana dalam ... hehehe (bersambung)

Penulis: Nazaruddin Ismail, Wartawan Senior|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.