JAKARTA (Lentera) - Stok bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU Shell hingga kini masih kosong sejak awal tahun 2026. Kondisi ini terjadi lantaran perusahaan masih menunggu kejelasan aturan dan rekomendasi impor BBM dari pemerintah. Sehingga distribusi berbagai produk seperti Super hingga V-Power belum dapat kembali berjalan normal.
"Terima kasih sudah jadi pelanggan setia Shell dan mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah terkait permohonan rekomendasi impor BBM tahun 2026 sesuai dengan tata laksana yang berlaku," ujar akun resmi Shell Indonesia, menanggapi pertanyaan sejumlah warganet terkait kepastian pasokan BBM di SPBU berlogo kerang kuning tersebut, Senin (23/3/2026).
Pernyataan tersebut sejalan dengan keterangan sebelumnya yang disampaikan President Director and Managing Director Mobility Shell Indonesia, Ingrid Siburian, pada Januari 2026 lalu. Dikutip dari detikOto, Inggrid menyebut pihaknya masih melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.
"Kami berkoordinasi dengan pemerintah terkait dan pemangku kepentingan lainnya agar berbagai varian produk BBM tersedia kembali di jaringan SPBU Shell sesuai standar bahan bakar berkualitas Shell," ujar Ingrid.
Di sisi lain, pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut memberikan tanggapan terkait kondisi tersebut. Ia menegaskan pemerintah tidak akan memberikan perlakuan khusus kepada badan usaha tertentu dalam distribusi energi.
Menurut Bahlil, setiap badan usaha memiliki kesempatan yang sama untuk menjaga keberlanjutan operasional, termasuk dalam hal pemenuhan stok BBM.
Bahlil juga mendorong adanya skema kerja sama business to business (B2B) antar pelaku usaha sebagai salah satu solusi untuk menjaga ketersediaan pasokan energi di lapangan.
"Bagi kelompok-kelompok yang ingin tetap bertahan dan memiliki stok, silakan berkolaborasi dengan badan usaha lain," ujar Bahlil.
Editor:Santi,ist





.jpg)
