26 March 2026

Get In Touch

Soroti Mahasiswa Rentan Bunuh Diri, Psikolog Desak Kampus Lakukan Screening Sejak Dini

Dosen dan Psikolog Universitas Islam Negeri Malang, Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog. (foto:ist)
Dosen dan Psikolog Universitas Islam Negeri Malang, Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog. (foto:ist)

MALANG (Lentera) - Dosen dan Psikolog Universitas Islam Negeri Malang, Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog mendesak perguruan tinggi melakukan screening kesehatan mental sejak dini, yakni di awal perkuliahan. 

Hal tersebut penting dilakukan, menyusul temuan riset yang menunjukkan kerentanan mahasiswa yang memiliki ide untuk bunuh diri berada pada level sedang hingga tinggi.

"Kami melakukan sampling pada sekitar 200-400 mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan swasta di Kota Malang. Hasilnya memang tingkat ide bunuh diri mahasiswa itu dari sedang ke tinggi," ujar Fuji, dikonfirmasi pada Kamis (26/3/2026). 

Menurutnya, jika merujuk pada data tersebut, kondisi kesehatan mental mahasiswa saat ini patut menjadi perhatian serius. Ia menilai situasi tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda yang tidak baik dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Lebih lanjut, Fuji menjelaskan faktor penyebab munculnya ide bunuh diri pada mahasiswa tidak bersifat tunggal. Salah satu faktor dominan adalah minimnya keterampilan dalam menyelesaikan masalah.

Ia juga menyoroti, anggapan publik yang kerap mengaitkan kasus bunuh diri mahasiswa dengan tekanan akademik seperti skripsi. Menurutnya, hal tersebut hanya menjadi pemicu, bukan akar utama permasalahan.

"Potensi atau ide bunuh diri biasanya sudah terbentuk sejak lama dan bersifat kompleks," katanya.

Fuji menambahkan, faktor lain yang turut berkontribusi antara lain pengalaman masa kecil yang kurang menyenangkan, pola pengasuhan yang tidak tepat, hingga pengalaman menjadi korban perundungan atau kekerasan dalam rumah tangga.

Selain itu, rasa kesepian dan beban psikologis yang dirasa terlalu berat juga menjadi faktor yang memperparah kondisi mahasiswa. Hal ini, menurutnya, semakin kompleks pada generasi Z yang memiliki kecenderungan perbandingan sosial yang tinggi.

"Cara pandang mahasiswa sekarang berbeda. Nilai yang sebenarnya masih baik bisa dianggap sebagai kegagalan karena standar yang mereka tetapkan sangat tinggi," ungkapnya.

Ia juga menilai, penggunaan media sosial turut memperkuat tekanan tersebut. Paparan konten yang menampilkan kehidupan serba ideal membuat mahasiswa terdorong untuk selalu terlihat sempurna.

Menanggapi kondisi ini, Fuji mendorong perguruan tinggi untuk mengambil langkah preventif. Melalui screening kesehatan mental bagi mahasiswa, khususnya sejak awal masa perkuliahan.

"Selama ini yang diuji hanya kemampuan akademik atau bahasa, padahal kondisi mental juga perlu dipetakan," tegasnya.

Dengan adanya screening tersebut, kampus diharapkan dapat mengidentifikasi mahasiswa yang memiliki potensi kerentanan sejak dini. Data tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam merancang program pendampingan yang tepat.

"Dari situ, perguruan tinggi bisa menentukan pendekatan pembelajaran, sistem bimbingan, hingga dukungan akademik yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa," imbuhnya.

Fuji juga menyarankan, agar screening tidak hanya dilakukan sekali, melainkan secara berkala, setidaknya satu tahun sekali, guna memantau perkembangan kondisi mental mahasiswa.

Meski membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya, Fuji menilai langkah tersebut sebanding dengan dampak yang dihasilkan dalam upaya pencegahan risiko kesehatan mental.

"Di lapangan, banyak mahasiswa yang sebenarnya sedang berjuang dengan kondisi hidupnya. Jadi upaya pencegahan ini sangat penting," katanya.

Selain peran kampus, ia juga menekankan pentingnya dukungan dari lingkungan sekitar. Menurutnya, sikap saling menjaga dan meminimalisir konflik dapat membantu mengurangi beban psikologis individu.

"Kalau tidak bisa membahagiakan orang lain, setidaknya jangan menyakiti. Kita tidak pernah tahu kondisi psikologis seseorang," tegasnya.

 

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Ais

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.