02 April 2026

Get In Touch

PBB Kecam Serangan Israel: Pasukan Perdamaian Tak Boleh Jadi Sasaran

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix. (foto:ist)
Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix. (foto:ist)

JAKARTA (Lentera) - Kecaman keras dilontarkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyusul serangan militer Israel di Lebanon selatan yang menewaskan 3 prajurit Indonesia dari misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian, Jean-Pierre Lacroix, menegaskan pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran konflik apa pun.

"Kami menyatakannya dengan jelas dan ini perlu diulang berkali-kali, pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran. Semua tindakan yang membahayakan pasukan penjaga perdamaian harus segera dihentikan," kata Lacroix dalam Pertemuan Darurat Dewan Keamanan (DK) PBB di New York, seperti dipantau secara daring di Jakarta, melansir Antara, Rabu (1/4/2026) dini hari.

Pertemuan darurat tersebut berlangsung atas permintaan Indonesia dan Prancis, usai insiden serangan Israel di Lebanon selatan.

Serangan tersebut terjadi di tengah kemajuan serangan darat yang terus berlanjut oleh pasukan Israel dan di tengah bentrokan sengit dengan Hizbullah. Sementara serangan udara, yang belum pernah terjadi sebelumnya, terus dilaporkan terjadi.

Pasukan Israel menguasai wilayah cukup luas di sebelah utara garis demarkasi yang dipetakan PBB di antara Israel dan Lebanon, sehingga korban sipil terus meningkat akibat permusuhan tersebut. Termasuk pasukan UNIFIL.

"Sekretaris Jenderal (Antonio Guterres) telah mengutuk keras dua insiden mengerikan yang menyebabkan kematian tiga pasukan penjaga perdamaian kita dalam waktu 24 jam dan beberapa lainnya cedera serius," ungkap Lacroix.

Dikatakannya, UNIFIL saat ini tengah melakukan investigasi untuk menentukan perkembangan kejadian tercela terebut.

"Peristiwa tragis tersebut seharusnya tidak terjadi. Saya menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada keluarga para penjaga perdamaian yang gugur dan kepada Pemerintah Indonesia. Saya juga berharap agar mereka yang terluka segera pulih sepenuhnya," kata Lacroix.

Pihaknya juga meminta semua pihak yang terlibat untuk mematuhi kewajiban mereka dalam memastikan keselamatan dan keamanan para penjaga perdamaian setiap saat. "Keutuhan instalasi PBB harus dihormati," tegas diplomat Prancis itu.

Sejak Hizbullah mengeklaim serangan terhadap Israel pada 2 Maret lalu, kelompok tersebut telah melakukan serangan harian, termasuk dengan roket, rudal, dan drone, ke target di Israel dan Dataran Tinggi Golan Suriah yang diduduki.

Menurut laporan sebelumnya, pasukan Israel telah mengeluarkan perintah pengungsian untuk seluruh wilayah operasi UNIFIL dan terus melakukan serangan harian secara intensif.

Lacroix mengatakan, para politikus di Israel saat ini secara terbuka sedang berdiskusi tentang niat untuk memperluas apa yang disebut 'zona keamanan' atau 'zona penyangga', dengan menghancurkan desa-desa di sepanjang garis demarkasi dan beberapa jembatan di atas Sungai Litani.

"Hanya dalam sepekan terakhir, ribuan perlintasan telah diamati di kedua arah serta serangan dari pesawat tempur dan kendaraan udara tak berawak. Pasukan Israel semakin maju ke Lebanon dan bentrokan pun terjadi, termasuk di lokasi yang sangat dekat dengan Markas Besar UNIFIL di Naqoura telah menjadi sasaran berbagai dampak," kata Lacroix.

Editor:Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.