09 April 2026

Get In Touch

Gus Iim, Cicit Pendiri NU Pengasuh Ponpes Salafiyah Seblak Jombang Berpulang

Info tentang meninggalnya Gus Lim yang beredar di grup-grup WA.
Info tentang meninggalnya Gus Lim yang beredar di grup-grup WA.

JOMBANG (Lentera) – Innalillahi wa innailaihi rajiun! Kalangan pesantren dan Nahdlatul Ulama (NU) berduka. KH Abdul Halim Mahfudz, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Seblak, Kwaron, Diwek, Jombang, meninggal dunia hari ini Rabu (8/4/2026.

Informasi meninggalnya Gus Iim (sapaan akrabnya) yang juga cicit pendiri NU KH Hasyim Asyari ini tersebar di berbagai grup WA nahdliyin dan di luarnya.

Keponakan Gus Iim, yakni Sholahudin membenarkan kabar duka tersebut. Menurutnya, Gus Iim meninggal di RS Sudono Madiun, tadi pagi sekitar pukul 10.57 WIB.

"Jenazah diberangkatkan dari Madiun sekitar pukul 13.00 dan dikebumikan di makam Ponpes Seblak sore ini," tutur Sholahudin, Rabu (8/4/2026).

Gus Iim adalah kakak kandung dari KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), yang juga Pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang.

Lahir pada 17 Juli 1954, Gus Iim bukan hanya pewaris darah biru pesantren, tetapi juga penjaga nilai dan pemikir masa depan tentang bagaimana keberkahan bisa hadir dalam dunia kewirausahaan modern.

Ia adalah putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah. Dari garis keturunan ibunya, Halim masih merupakan cicit dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari Tebuireng.

Ibundanya, Nyai Abidah adalah putri dari KH Ma’shum Ali dan Nyai Choiriyah, yang tak lain adalah putri KH Hasyim Asy’ari.

Meski lahir dan dibesarkan oleh keluarga pesantren, Gus Iim bisa bergaul dengan siapa saja. Sikap ini terlihat ketika berkerja di Harian Surya, Surabaya.

Keluar dari Surya, dia hijrah ke Jakarta dan bekerja untuk lembaga-lembaga internasional seperti The Asia Foundation, Burson-Marsteller, Coca-Cola Indonesia, dan Standard Chartered Bank.

Namun, darah pesantren dalam dirinya memanggil kembali. Sejak 2017, ia menerima amanat mengelola Yayasan Pendidikan dan Pesantren Rohmah serta mengasuh Pesantren Seblak, tempat kakek buyutnya dulu mengabdi.

Gus Iim dikenal sebagai penggerak pendidikan halalpreneurship, sebuah konsep yang menjembatani nilai-nilai pesantren dengan semangat kewirausahaan modern.

“Di kelas saya, ada empat puluh mahasiswa dari beragam latar belakang. Menariknya, hanya dua belas orang yang beragama Islam. Tapi justru dari keberagaman itulah saya melihat sesuatu yang berharga, yakni toleransi yang tumbuh dengan alami. Tidak ada sekat keyakinan, yang ada hanyalah rasa saling menghargai,” ujarnya, dikutip dari beberapa sumber.

Almarhum yang gemar bermain gitar, meninggalkan seorang istri dan tiga anak.

 

Reporter: Sutono/Editor: Ais

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.