WASHINGTON (Lentera) - Amerika Serikat mengklaim Presiden China Xi Jinping, telah memberikan jaminan kepada Presiden Donald Trump bahwa Beijing tidak menyuplai senjata ke Iran di tengah konflik.
"Presiden Xi memastikan kepada Presiden Trump, mereka tak memasok senjata kepada Iran selama konflik berlangsung. Jaminan tersebut disampaikan kepada presiden," ujar Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt dalam sebuah konferensi pers, melansir Antara, Rabu (15/4/2026).
Namun di sisi lain, Amerika Serikat tetap menyoroti hubungan ekonomi erat antara China dan Iran, khususnya dalam sektor energi. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan ketergantungan China terhadap minyak Iran masih sangat tinggi.
"China membeli lebih dari 90 persen minyak Iran, yang setara dengan sekitar delapan persen dari total kebutuhan energi mereka," kata Bessent.
Ditambahkannya, situasi di Selat Hormuz menjadi faktor krusial yang dapat memengaruhi aliran energi tersebut. Menurutnya, blokade di jalur strategis itu berpotensi menghentikan sementara pembelian minyak mentah China dari Iran.
Dalam upaya menekan aliran dana ke Teheran, pemerintah AS juga mulai mengambil langkah terhadap institusi keuangan yang diduga terlibat. Bessent mengungkapkan, dua bank di China telah menerima peringatan resmi dari Departemen Keuangan AS.
"Dua bank China telah menerima surat dari Kementerian Keuangan. Saya tidak akan menyebutkan namanya, tetapi kami menegaskan bahwa jika terbukti ada dana Iran yang mengalir melalui rekening mereka, maka sanksi sekunder akan diberlakukan," tegasnya.
Sebelumnya, Iran dilaporkan secara efektif menutup Selat Hormuz bagi sebagian besar pelayaran internasional menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.
Upaya diplomasi sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama 2 pekan antara Washington dan Teheran. Kedua negara juga menggelar perundingan di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026.
Namun, negosiasi tersebut berakhir tanpa kesepakatan. Iran dilaporkan menolak membuka kembali Selat Hormuz serta menghentikan program pengayaan uranium yang menjadi salah satu tuntutan utama AS.
Merespons kebuntuan tersebut, Presiden Donald Trump kemudian memerintahkan militer AS untuk melakukan blokade terhadap Selat Hormuz mulai Senin (13/4/2026).
Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan memutus salah satu sumber pendapatan utama negara tersebut dari sektor energi.
Blokade tersebut tidak hanya menyasar kapal Iran, tetapi juga berlaku bagi seluruh kapal dari berbagai negara yang memasuki atau keluar dari pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di kawasan Teluk Arab dan Teluk Oman.
Editor: Santi





.jpg)
