JAKARTA (Lentera) - Di tengah blokade militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz, sejumlah kapal yang terkena sanksi AS dan terkait dengan Iran memilih memutar rute melalui perairan Iran untuk berhasil masuk ke Teluk Persia.
Melansir dari Bloomberg, berdasarkan data pelacakan kapal, kapal pengangkut gas alam cair (LPG) G Summer memasuki Teluk Persia pada Rabu (15/4/2026) sore, melalui jalur sempit di antara Pulau Larak dan Qeshm milik Iran.
Kapal tersebut diketahui dalam kondisi kosong dan menyiarkan identitas sebagai milik serta dioperasikan oleh China, praktik umum untuk alasan keamanan dengan tujuan Pelabuhan Khor Al Zubair di Irak.
Tak lama berselang, kapal tanker minyak mentah super besar (VLCC) Hong Lu yang juga masuk daftar hitam AS karena keterkaitannya dengan Iran, mengikuti rute serupa.
Kapal dengan kapasitas hingga dua juta barel minyak mentah itu kini berlayar di sepanjang garis pantai Iran tanpa muatan, sambil menunggu instruksi lanjutan setelah sempat mencantumkan Basrah sebagai tujuan.
Sebelum memasuki Selat Hormuz, kedua kapal tersebut diketahui sempat berada di perairan Fujairah, Uni Emirat Arab. Mereka kemudian bergerak ke timur laut melintasi Teluk Oman, mendekati garis pantai Iran, sebelum akhirnya mengambil jalur berliku menuju selat strategis tersebut.
Selain itu, kapal curah Rosalina juga terpantau mengambil rute serupa beberapa jam sebelumnya. Kapal tersebut diduga menuju pelabuhan Iran dengan membawa pasokan pangan. Sementara itu, kapal tanker produk berukuran kecil, Nobler, justru bergerak keluar dari Teluk Persia menuju Teluk Oman melalui jalur selatan Pulau Larak dengan tujuan Sohar, Oman.
Pergerakan Nobler mengikuti dua kapal kontainer terkait Iran, Golbon dan Kashan, yang sehari sebelumnya dilaporkan meninggalkan Teluk Persia dan menyusuri pantai Iran menuju perairan dekat Pakistan.
Meski lalu lintas belum sepenuhnya terhenti, blokade ganda ini terbukti memperlambat arus pelayaran secara drastis. Tidak terlihat adanya kapal tanker minyak Iran bermuatan yang keluar melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini berpotensi mengganggu distribusi minyak hingga 1,7 juta barel per hari selama konflik berlangsung.
Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Rabu (15/4/2026) menyatakan tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade. Sebanyak sembilan kapal disebut telah mematuhi instruksi pasukan AS untuk kembali ke perairan Iran.
Sebaliknya, Teheran mengklaim salah satu kapal tanker raksasanya berhasil menerobos blokade tersebut. Meski tidak menyebutkan nama, klaim itu diduga merujuk pada kapal Alicia, yakni kapal kosong yang juga masuk daftar sanksi AS yang tercatat melintasi perairan dekat Pulau Larak beberapa jam sebelum Hong Lu.
Data juga menunjukkan, sebanyak 11 kapal dagang melintas pada Selasa (14/4/2026), turun dibandingkan rata-rata 16 kapal pada akhir pekan sebelumnya. Angka ini masih jauh di bawah kondisi normal sebelum konflik, yang mencapai rata-rata sekitar 135 kapal per hari.
Dari sisi kepemilikan, G Summer tercatat dimiliki oleh Seaport-Glory Marine Co Ltd yang berbasis di Hong Kong, meski detail kontak perusahaan tidak tersedia. Sementara itu, identitas pemilik Hong Lu tidak terungkap, dianggap sebagai fenomena yang lazim pada kapal-kapal yang tergolong dalam "armada gelap".
Kapal Rosalina terdaftar dimiliki oleh Pacific Dream Shipping yang berbasis di Monaco, berbagi alamat dengan Sea World Management s.a.m., namun belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.
Adapun Nobler dimiliki oleh Ruisheng Ship Management Ltd yang beralamat sama dengan pengelolanya, Qingdao Shengxiang Shipping Co di China, yang juga belum merespons permintaan komentar.
Editor: Santi





.jpg)
