18 April 2026

Get In Touch

Berat Badan Ideal dengan Chrononutrition: Bukan Menu, Tapi Pilihan Jam Makannya

Berat Badan Ideal dengan Chrononutrition: Bukan Menu, Tapi Pilihan Jam Makannya


SURABAYA ( LENTERA ) - Selama puluhan tahun, perdebatan mengenai penurunan berat badan selalu berputar pada dikotomi "apa" dan "berapa banyak" yang kita makan. Namun, gelombang riset terbaru di bidang nutrisi kini mengarahkan lampu sorot pada dimensi yang sering kita abaikan yaitu "kapan".

Sains mulai membuktikan bahwa tubuh manusia bukanlah sekadar kalkulator kalori yang bekerja 24 jam dengan cara yang sama, melainkan sebuah sistem biologis yang sangat bergantung pada waktu.

Sebuah studi mendalam yang dirilis oleh Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) memberikan bukti empiris bahwa mengatur jendela waktu makan--terutama dengan makan lebih awal dan memperpanjang puasa malam--merupakan faktor penentu dalam menjaga Indeks Massa Tubuh (BMI) tetap rendah. Temuan ini menegaskan bahwa untuk mencapai tubuh ideal, kita harus belajar bekerja sama dengan jam biologis kita sendiri.

Metabolisme dan Ritme Sirkadian

Penelitian yang melibatkan lebih dari 7.000 partisipan dewasa ini membedah hubungan antara kronotipe (jam internal tubuh) dengan efisiensi metabolisme. Tubuh kita diatur oleh ritme sirkadian, sebuah siklus internal 24 jam yang tidak hanya mengatur kapan kita tidur, tetapi juga kapan organ pencernaan kita bekerja paling optimal.

Hasil studi menunjukkan bahwa mereka yang menyelaraskan asupan nutrisi dengan cahaya matahari, yakni makan saat hari masih terang dan berhenti saat malam tiba, memiliki metabolisme yang jauh lebih efisien. Hal ini dikarenakan sensitivitas insulin dan kemampuan tubuh membakar lemak berada pada puncaknya di pagi hingga sore hari.

“Kami menemukan bahwa memperpanjang puasa malam dapat membantu menjaga berat badan jika diikuti makan malam dan sarapan lebih awal,” papar Luciana Pons-Muzzo, peneliti dari ISGlobal.

Pons-Muzzo menekankan bahwa pola ini bukan sekadar soal membatasi asupan, melainkan memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan regenerasi seluler di malam hari tanpa terganggu oleh proses pencernaan yang berat.

Perilaku Sehat dan Korelasi Gender

Menariknya, studi ini juga menemukan bahwa waktu makan merupakan cerminan dari keseluruhan kualitas gaya hidup seseorang. Terdapat perbedaan pola yang cukup tajam antara pria dan wanita dalam menjaga konsistensi ini.

Partisipan perempuan secara umum ditemukan lebih disiplin dalam mengikuti pola diet sehat seperti diet Mediterania, yang secara alami berkontribusi pada angka BMI yang lebih rendah.

Di sisi lain, penelitian mencatat bahwa pria yang memiliki kebiasaan makan lebih siang atau sering mengonsumsi makanan berat di larut malam, cenderung memiliki keterkaitan dengan gaya hidup yang kurang sehat lainnya.

Hal ini mencakup kurangnya aktivitas fisik, serta tingginya konsumsi alkohol dan rokok. Data ini menunjukkan bahwa seseorang yang mampu mengatur waktu makannya dengan baik, biasanya juga memiliki kesadaran kesehatan yang lebih tinggi pada aspek kehidupan lainnya.

Kekeliruan Strategi Melewatkan Sarapan

Salah satu poin paling krusial yang disoroti dalam riset ini adalah evaluasi terhadap tren intermittent fasting yang keliru. Banyak orang mengira bahwa dengan melewatkan sarapan dan hanya makan di siang hingga malam hari, mereka bisa memangkas berat badan. Namun, data menunjukkan hasil sebaliknya.

Pada kelompok partisipan pria yang melewatkan sarapan dan baru mengonsumsi makanan pertama mereka setelah pukul 14.00, tidak ditemukan manfaat penurunan berat badan yang signifikan. Justru, kelompok ini cenderung mengalami lonjakan nafsu makan di malam hari yang memicu konsumsi kalori berlebih. Peneliti menyimpulkan bahwa melewatkan sarapan bukanlah strategi yang efektif atau berkelanjutan untuk menjaga berat badan dalam jangka panjang.

Mengenal Chrononutrition

Seluruh analisis ini berakar pada bidang chrononutrition, sebuah disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana waktu asupan makanan berinteraksi dengan metabolisme. Ketika kita makan di waktu yang salah. Misalnya makan besar sesaat sebelum tidur, kita sedang memaksa sistem pencernaan bekerja saat tubuh seharusnya masuk ke fase pemulihan. Gangguan ini menyebabkan ketidakseimbangan hormon yang berujung pada penumpukan lemak dan risiko gangguan kesehatan jangka panjang.

Pada akhirnya, menjaga berat badan ideal bukan berarti harus terjebak dalam diet ekstrem yang menyiksa. Kuncinya terletak pada moderasi dan ketepatan waktu. Dengan memajukan jam makan malam dan memberikan jeda yang cukup bagi tubuh untuk beristirahat hingga sarapan esok harinya, kita sedang memberikan hak bagi tubuh untuk berfungsi sesuai kodrat biologisnya. Sehat, dalam perspektif ini, adalah soal harmoni antara apa yang kita konsumsi dengan putaran jam di dinding. (Ist/dya)

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.