21 April 2026

Get In Touch

Kisah Misyani di Hari Kartini: Ketangguhan Menyusun Hidup dari yang Dibuang Orang Lain

Aktivitas Misyani, perempuan lansia yang hidup dengan memungut sampah di TPS Jalan Borobudur, Kota Malang. (Santi/Lentera)
Aktivitas Misyani, perempuan lansia yang hidup dengan memungut sampah di TPS Jalan Borobudur, Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) -Pagi belum sepenuhnya terang ketika Misyani (54) mulai menyusuri tumpukan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Jalan Borobudur, Kota Malang, Selasa (21/4/2026).

Di peringatan Hari Kartini, kisahnya menjadi potret lain tentang ketangguhan perempuan yang bertahan untuk hidup.

Sebagai perempuan yang menyusun hidup dari yang dibuang orang lain, Misyani memungut kardus, botol plastik, dan berbagai sisa yang kerap diabaikan, lalu mengubahnya menjadi penopang hari-hari.

"Mulai jam 05.30 sampai jam 05.00, kemudian istirahat, lanjut lagi sampai jam 10.30 atau jam 11.00. Saya lebih cari kardus, plastik, botol minuman plastik," ujarnya saat ditemui di tengah aktivitasnya di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Jalan Borobudur, Kota Malang.

Rutinitas itu telah dijalaninya selama bertahun-tahun. Di sela-sela waktu, ia kerap berhenti sejenak, mengatur napas sebelum kembali memilah tumpukan sampah.

Barang-barang tersebut dikumpulkan dalam karung besar, kemudian dijual ke pengepul. Namun nilainya tidak tinggi. Botol plastik hanya dihargai sekitar Rp500 per kilogram, sementara kardus Rp1.500 per kilogram. Dari situlah, penghasilannya bergantung setiap hari.

"Kalau dihitung, minimal Rp35 ribu. Kalau pas banyak, bisa sampai Rp50 ribu," tuturnya.

Pekerjaan ini bukan hal baru bagi Misyani. Ia sudah melakukannya sejak sekitar tahun 2004, dulu bersama suaminya. Namun setelah sang suami meninggal dunia, ia harus melanjutkan sendiri. "Dulu sama bapaknya anak-anak, sekarang saya sendiri," ucapnya.

Di rumah, Misyani harus cermat mengatur kebutuhan sehari-hari. Untuk makan, ia kerap mencampur nasi putih dengan jagung agar lebih hemat. "Biar nutut," katanya singkat.

Sesekali, Misyani mengaku mendapat tambahan penghasilan dengan membantu membersihkan rumah kos di sekitar tempat tinggalnya.

Ketika ditanya apakah ingin beralih pekerjaan, ia hanya menjawab singkat. "Wis kulino (red-Bahasa Malangan: sudah biasa), ujarnya. Baginya, pekerjaan ini memberi ruang untuk mengatur waktu. Sekitar pukul 11.00 atau 12.00 siang, ia sudah bisa pulang.

Misyani memiliki 4 anak yang kini telah berkeluarga dan tinggal di rumah masing-masing, tak jauh dari tempat tinggalnya. Kedekatan itu menjadi penguat di tengah hidup yang ia jalani sendiri. "Saya anaknya empat. Semuanya sudah berkeluarga. Kalau misal saya masak kurang garam, bisa minta ke anak," ungkapnya.

Di balik kesederhanaan hidupnya, Misyani menyimpan harapan yang tak muluk-muluk. Ia hanya ingin tetap sehat dan bisa terus bekerja. "Semoga saya masih diberi kesehatan, rezeki yang berkah, panjang umur supaya bisa terus bekerja," katanya.

Reporter: Santi Wahyu|Editor: Arifin BH

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.