25 April 2026

Get In Touch

65 Tahun Dorong Gerobak Cilok Antarkan Nenek 85 Tahun Raih Mimpi ke Tanah Suci

Mislicha Kasib (kanan) didampingi sang anak Mariatul Kibtiyah.
Mislicha Kasib (kanan) didampingi sang anak Mariatul Kibtiyah.

SURABAYA (Lentera) - Di usia yang tak lagi muda, langkah Mislicha Kasib tetap teguh. Selama 65 tahun, ia mendorong gerobak cilok menyusuri jalanan Kota Pasuruan, menyimpan satu mimpi yang tak pernah pudar untuk diraih, berangkat ke Tanah Suci. Kini, di usia 85 tahun, mimpi untuk berhaji itu akhirnya terwujud.

Setiap pagi sejak puluhan tahun lalu, Mislicha berjalan perlahan mendorong gerobak cilok dari rumahnya di wilayah Kecamatan Bugul Kidul menuju Jalan Trunojoyo, tepat di depan SMPN 5 Pasuruan.

Jarak sekitar satu kilometer itu ia tempuh sendiri, tanpa mengeluh, demi menyambung hidup sekaligus menabung mimpi.

"Saya jualan cilok sudah 65 tahun. Dari pagi sampai anak-anak pulang sekolah. Dorong gerobak sendiri dari rumah, saya kuat," ujarnya dikutip pada Sabtu (25/4/2026).

Di dalam gerobaknya, panci berisi cilok dan tahu hangat siap disajikan. Satu per satu pembeli datang, kebanyakan anak-anak sekolah yang sudah akrab dengan cita rasa dagangannya. Rutinitas itu ia jalani sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 13.00 WIB, selama lebih dari 6 dekade.

Perjalanan panjang itu tidak ia jalani sendiri. Anak-anaknya turut membantu, mulai dari menyiapkan bahan sejak dini hari hingga ikut berjualan. Dari delapan anak yang dimilikinya, sebagian besar ikut menjaga tradisi usaha keluarga ini.

Dari penghasilan hariannya, Mislicha mampu mengantongi sekitar Rp50 ribu. Sedikit demi sedikit uang ia sisihkan, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp15 ribu. Ia juga mengandalkan arisan sebagai cara lain mengumpulkan biaya berhaji. "Kalau tidak nabung, ya tidak bisa. Kebutuhan juga banyak," tuturnya.

Kegigihan yang tak pernah goyah tersebut akhirnya berbuah manis. Pada 2015, Mislicha mendaftar haji. Hari demi hari ia jalani dengan sabar, hingga waktu yang dinanti itu benar-benar tiba. Usai belasan tahun menunggu, tahun ini namanya tercatat sebagai jemaah Kloter 10 yang berangkat ke Tanah Suci.

Rasa haru dan bahagia tak bisa ia sembunyikan. Terlebih, ia tidak berangkat sendiri. Putri bungsunya, Mariyatul Kibtiyah (35), turut mendampingi.

"Alhamdulillah senang. Di sini juga ketemu teman-teman, ada tetangga juga yang berangkat. Saya berangkat sama anak saya," katanya.

Mislicha menyebut, putrinya mendaftar haji pada tahun 2020 melalui skema penggabungan mahram. 

"Senang bisa menemani ibu. Saya juga nabung dari jualan cilok, dari sisa belanja bahan sedikit-sedikit disimpan," ujar Mariyatul.

Kisah Mislicha menjadi pengingat, mimpi besar bisa diraih dengan langkah kecil yang konsisten. Dari gerobak sederhana dan recehan yang ditabung setiap hari, ia membuktikan ketekunan dan doa mampu membuka jalan hingga ke Tanah Suci.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.