25 April 2026

Get In Touch

Tren Kafe di Kota Malang: Ramai Bermunculan, Cepat Berguguran

Ilustrasi: Suasana di salah satu kafe yang berlokasi di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang. (Santi/Lentera)
Ilustrasi: Suasana di salah satu kafe yang berlokasi di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Tren kafe di Kota Malang bergerak dinamis, ramai bermunculan namun cepat berguguran. Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mencatat, sejak beberapa tahun terakhir puluhan kafe baru yang didominasi usaha mikro terus bermunculan, namun tingginya persaingan membuat banyak yang tak bertahan lama.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Penanaman Modal, dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, menjelaskan mayoritas kafe yang hadir di Kota Malang masuk dalam kategori usaha mikro, dengan nilai investasi di bawah Rp5 miliar.

"Kalau kafe itu masuk kategori usaha mikro. Artinya usahanya mempunyai modal di bawah Rp5 miliar. Karena itu risikonya rendah, cukup memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) saja," ujar Arif, Sabtu (25/4/2026).

Ditambahkannya, proses pengurusan NIB dilakukan secara mandiri oleh pelaku usaha melalui sistem yang telah disediakan pemerintah. Karena itu, pihaknya baru dapat memantau keberadaan usaha tersebut setelah NIB terbit.

Selain itu, keberadaan kafe biasanya baru terdata lebih jelas ketika pelaku usaha mengurus perizinan bangunan. Dari dokumen tersebut, menurutnya pemerintah dapat mengetahui peruntukan bangunan yang digunakan sebagai usaha kafe.

"Dari situ nanti terlihat peruntukannya untuk apa. Apakah memang digunakan untuk usaha kafe atau lainnya," katanya.

Arif mengungkapkan, dalam beberapa waktu terakhir jumlah kafe yang bermunculan di Kota Malang mencapai puluhan unit. Sebagian besar masih berskala kecil dengan nilai investasi di bawah Rp5 miliar.

Meski demikian, keberadaan kafe-kafe tersebut tetap memberikan kontribusi terhadap iklim penanaman modal di Kota Malang. Selain mencatatkan nilai investasi awal, sektor ini juga berperan dalam penyerapan tenaga kerja.

"Pasti berpengaruh. Karena ada penyerapan tenaga kerja di situ, kemudian investasi awalnya juga tercatat. Nanti bisa dilihat melalui Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), apakah ada peningkatan atau tidak," tegasnya.

Namun di balik pertumbuhan tersebut, Arif mengakui adanya dinamika persaingan yang cukup ketat. Tidak sedikit kafe yang baru berdiri harus tutup dalam waktu relatif singkat karena kalah bersaing.

Fenomena ini, kata Arif, dipengaruhi oleh karakter pasar di Kota Malang yang cenderung cepat berubah, terutama di kalangan mahasiswa yang menyukai tempat-tempat baru.

"Ketika ada yang baru biasanya langsung ramai. Tapi nanti kalau muncul lagi yang baru, bisa bergeser. Jadi ada yang ramai, ada yang kemudian sepi," jelasnya.

Sementara itu, untuk usaha kategori menengah dengan nilai investasi di atas Rp5 miliar, Arif menyebutkan belum ada penambahan signifikan di Kota Malang pada tahun 2026 ini.

Melihat kondisi tersebut, Arif menyebut tren kafe di Kota Malang diperkirakan masih akan didominasi oleh usaha mikro. Dengan dinamika pertumbuhan yang fluktuatif, seiring tingginya minat pelaku usaha sekaligus ketatnya persaingan di sektor ini.

Reporter: Santi Wahyu/Editor: Santi

Share:

Punya insight tentang peristiwa terkini?

Jadikan tulisan Anda inspirasi untuk yang lain!
Klik disini untuk memulai!

Mulai Menulis
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.