SURABAYA ( LENTERA ) - Hajar Aswad, yang dikenal juga sebagai Black Stone, kerap menjadi bahan perbincangan di kalangan peneliti. Sebagian di antaranya menduga batu tersebut berasal dari meteorit, meskipun hingga kini belum ada kesimpulan ilmiah yang benar-benar memastikan hal tersebut.
Batu yang terpasang di Ka'bah ini memiliki kedudukan istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Hajar Aswad disucikan dan menjadi bagian dari rangkaian ibadah haji maupun umrah.
Secara fisik, batu ini berdiameter sekitar 30 sentimeter dan terletak pada ketinggian kurang lebih 1,5 meter dari permukaan tanah.
Hajar Aswad diketahui pernah mengalami kerusakan hingga terpecah menjadi beberapa bagian pada abad pertengahan. Fragmen-fragmen tersebut kemudian disatukan kembali menggunakan bingkai perak dan dipasang pada sebuah batu penopang.
Seiring waktu, muncul berbagai pandangan mengenai asal-usul batu ini. Salah satu teori yang kerap dibahas menyebut Hajar Aswad sebagai meteorit. Namun, hingga kini, anggapan tersebut masih menjadi perdebatan dan belum memperoleh kepastian ilmiah.
Gagasan bahwa Hajar Aswad merupakan meteorit banyak dikemukakan oleh sejarawan sekuler. Sejumlah ahli geologi dari berbagai negara juga telah berupaya meneliti jenis dan karakteristik batu tersebut.
Meski demikian, penelitian secara langsung menghadapi keterbatasan yang berkaitan dengan aspek budaya dan keagamaan.
Dalam kajian ilmiah, Hajar Aswad pernah dideskripsikan sebagai batu basal, batu akik, atau batuan alami lainnya. Sementara itu, dugaan paling populer tetap mengarah pada kemungkinan sebagai meteorit berbatu.
Penelitian yang dilakukan oleh Anthony Hampton bersama tim geologi dari Universitas Oxford turut menambah bahan diskusi.
Mereka mempelajari sampel lokal dari area sekitar batu dan menemukan kandungan iridium serta sejumlah pecahan berbentuk kerucut, yang kerap dikaitkan dengan material hasil tumbukan. Namun, temuan tersebut belum cukup untuk memastikan asal-usul Hajar Aswad secara definitif.
Sejumlah temuan geologi langka turut memperkaya kajian mengenai asal-usul Hajar Aswad. Formasi tersebut diketahui terbentuk pada batuan dasar di bawah kawah tumbukan meteorit, sebagaimana dilaporkan oleh Paul Partsch dalam kajian komprehensif pertamanya tentang Black Stone pada 1857.
Pada 1980, peneliti dari University of Copenhagen, Elsebeth Thomsen, mengemukakan hipotesis bahwa Hajar Aswad kemungkinan merupakan pecahan dari meteorit yang terfragmentasi dan jatuh sekitar 6.000 tahun lalu.
Di lokasi yang dikaitkan dengan teori tersebut ditemukan balok-balok kaca silika berwarna putih dan kuning, serta cekungan berisi gas.
Karakteristik ini memungkinkan material tersebut mengapung di air, serupa dengan sifat yang kerap dikaitkan dengan Hajar Aswad, yang disebut dapat mengapung dan tidak mudah panas saat terkena api.
Di sisi lain, penelitian lain yang dilakukan oleh United States Geological Survey menyebutkan bahwa Hajar Aswad mungkin merupakan obsidian, yakni batuan hasil aliran lava yang umum ditemukan di kawasan harrat atau ladang vulkanik di pesisir barat Semenanjung Arab.
Sejumlah ahli geologi hingga kini masih berhati-hati dalam menyimpulkan asal-usul Hajar Aswad. Keraguan tersebut muncul karena masih terdapat sejumlah aspek ilmiah yang belum dapat dibuktikan secara pasti, termasuk dugaan bahwa batu tersebut merupakan obsidian.
Pandangan lain disampaikan oleh Robert S. Dietz dan John McHone dari Departemen Geologi Universitas Illinois, Amerika Serikat. Mereka berpendapat bahwa Hajar Aswad bukan berasal dari meteorit, melainkan batu akik, yakni mineral yang terbentuk secara alami di dalam bumi.
Dalam kajiannya, keduanya menyebut bahwa karakteristik fisik batu tersebut, termasuk pola difusi dan tampilannya, lebih sesuai dengan batu akik dibandingkan meteorit.
Pendapat itu dituangkan dalam jurnal berjudul Kaba Stone; Not a Meteorite, Probably an Agate, yang menyimpulkan bahwa Hajar Aswad kemungkinan besar bukan meteorit, melainkan jenis batuan akik.
Pada penelitian lain mencoba menjelaskan usia batuan itu. Disebutkan usianya sama dengan jangkauan pengamatan Arab kuno, dan kemungkinan dibawa ke Makkah lewat Oman.
Namun teori Hajar Aswad adalah meteor juga punya kelemahan. Karena batu meteor tidak mengapung, tidak pecah menjadi pecahan kecil, hingga sulit menahan erosi.
Asal-usul Hajar Aswad masih terus ditelusuri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan lain yang masih menjadi misteri. (Ella-UINSA, berkolaborasi dalam tulisan ini)




.jpg)
