MALANG (Lentera) - Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan perluasan intervensi penanganan kesehatan ibu dan anak dengan mengoptimalkan Program RT Berkelas. Langkah ini diarahkan untuk menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) dengan melibatkan peran aktif RT dan RW.
"Identifikasi data awal itu dari kelurahan. Maka kami mengajak pemangku wilayah, termasuk RT dan RW, untuk aktif terlibat agar tidak ada kasus yang terlewat," ujar Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin, ditemui usai pencanangan Gerakan Penting (Penurunan AKI, AKB, dan Stunting), Selasa (5/5/2026).
Dijelaskannya, momentum Program RT Berkelas, yakni bantuan Rp50 juta per RT, dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen pendukung dalam penguatan intervensi sosial di bidang kesehatan. Program tersebut sebelumnya memang difokuskan pada pemberdayaan masyarakat, termasuk aspek pengamanan sosial.
Ke depan, Pemkot Malang berencana memasukkan indikator kesehatan, khususnya terkait penurunan AKI, AKB, dan stunting, ke dalam kamus usulan Program RT Berkelas tahun 2027. Dengan demikian, intervensi dapat lebih terarah berdasarkan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
"Kalau misal ada data yang menunjukkan masih ada kecamatan dengan angka tinggi, maka sebagian arah RT Berkelas di 2027 bisa difokuskan untuk pendampingan peningkatan kesehatan masyarakat," jelasnya.
Ali juga membuka peluang pemanfaatan RT Berkelas untuk mendukung intervensi kesehatan, meski hal tersebut masih akan melalui kajian lebih lanjut bersama Dinas Kesehatan (Dinkes).
"Nanti kami analisis dulu apakah kebijakan dari Dinkes ini butuh dorongan tambahan. Kalau memang perlu dan masuk dalam Dasa Bakti, seperti Ngalam Tahes, akan kami integrasikan," tegasnya.
Selama ini, anggaran penanganan kesehatan ibu dan bayi masih melekat pada Dinkes. Namun, jika target nol persen angka kematian membutuhkan pendekatan yang lebih luas, maka intervensi berbasis komunitas melalui RT Berkelas dinilai menjadi opsi strategis.
Ali menegaskan, arah pembangunan Kota Malang tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan manusia, terutama dalam aspek kesehatan masyarakat.
"Kami tidak ingin ada ibu hamil yang tidak terdeteksi. Semua harus terdata sejak awal," katanya.
Gerakan PENTING sendiri menjadi bagian dari Dasa Bakti Pemkot Malang, khususnya dalam program Ngalam Tahes yang berfokus pada peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Dengan target menekan hingga nol angka kematian ibu melahirkan, kematian bayi, serta kasus stunting.
Dalam pelaksanaannya, setiap puskesmas akan diperkuat dengan pendampingan dokter spesialis, yakni dokter anak dan dokter kandungan. Sementara itu, RSUD Kota Malang juga akan terus ditingkatkan fasilitas dan layanannya sebagai rujukan utama.
Ali memastikan, pasca pencanangan Gerakan PENTING, Pemkot Malang akan melakukan monitoring dan evaluasi secara lebih masif dan terukur. Titik-titik dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi akan menjadi prioritas intervensi.
"Semua akan terdeteksi. Dari situ kami bisa menentukan langkah yang lebih cepat dan tepat," pungkasnya.
Reporter: Santi Wahyu





.jpg)
