05 May 2026

Get In Touch

Tak Berhenti Pada Fisik, DPRD Surabaya Minta Revitalisasi Pasar Berbasis Konsep Tematik

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni. (Amanah/Lentera)
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) - Program revitalisasi pasar tradisional di Surabaya didorong tidak berhenti pada pembenahan fisik semata. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surabaya menilai, pasar perlu naik kelas menjadi ruang ekonomi modern sekaligus destinasi wisata berbasis konsep tematik.

Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, mengatakan momentum revitalisasi harus dimanfaatkan untuk membangun identitas pasar yang kuat dan berdaya saing.

Menurutnya, pendekatan tematik dapat menjadi strategi efektif untuk menghidupkan kembali pasar tradisional yang selama ini mulai kehilangan daya tarik.

"Surabaya ini kota besar dan kota transit. Harusnya bisa punya pasar tematik yang kuat identitasnya. Tinggal bagaimana pengelolaannya diarahkan sesuai potensi lokal," ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Ia mencontohkan potensi pasar-pasar besar di Surabaya yang dapat dikembangkan berdasarkan karakter masing-masing, mulai dari Pasar Genteng, Pasar Pabean, hingga berbagai sentra kuliner. Pengelompokan berbasis tema seperti kuliner khas, pusat oleh-oleh, hingga produk unggulan daerah dinilai mampu menciptakan pengalaman baru bagi pengunjung.

Fathoni menuturkan, setelah revitalisasi fisik selesai, langkah selanjutnya adalah merancang konsep yang jelas dan berkelanjutan. Tanpa itu, pasar berpotensi mengalami kondisi serupa sejumlah Sentra Wisata Kuliner (SWK) yang kurang diminati.

"Jangan sampai sudah dibangun tapi tidak hidup. Kuncinya di konsep dan pengelolaan yang berkelanjutan," tuturnya.

Salah satu lokasi yang disorot adalah Pasar Tunjungan. Menurutnya, pasar tersebut memiliki posisi strategis karena berada di kawasan ikonik Jalan Tunjungan yang dikenal sebagai pusat aktivitas wisata dan gaya hidup.

"Kalau dijadikan pusat oleh-oleh khas Surabaya, UMKM bisa tumbuh dan wisatawan punya tujuan yang jelas saat berkunjung," jelasnya.

Proses revitalisasi Pasar Kembang Surabaya. (Amanah/Lentera)
Proses revitalisasi Pasar Kembang Surabaya. (Amanah/Lentera)

Untuk memastikan keberlanjutan, ia mendorong pengelola pasar menggandeng berbagai pihak, mulai dari pelaku usaha, konten kreator, hingga biro perjalanan wisata. Kolaborasi ini dinilai penting agar pasar tidak hanya ramai saat awal dibuka, tetapi terus hidup dalam jangka panjang.

"Surabaya punya potensi wisatawan, termasuk dari kapal pesiar dan ekspatriat. Ini peluang besar jika diarahkan ke pasar tematik," katanya.

Selain itu, Fathoni menekankan pentingnya manajemen pasar yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Pedagang perlu didorong meningkatkan kualitas produk, mulai dari tampilan, kemasan, hingga pemasaran digital agar mampu bersaing.

Ia juga menyoroti perlunya kebijakan pengelolaan stan yang lebih dinamis. Evaluasi berkala diperlukan agar tidak ada stan yang dibiarkan tidak produktif dalam jangka panjang.

"Kalau satu tahun tidak aktif, harus dievaluasi. Jangan sampai stan disewa lama tapi tidak dimanfaatkan. Itu menghambat perputaran ekonomi," ujarnya.

Di sisi lain, politisi dari Fraksi Golkar ini mengingatkan agar sistem retribusi tidak memberatkan pedagang. Penyederhanaan pungutan dinilai penting agar pelaku usaha kecil tetap bisa bertahan di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif.

Melalui pendekatan tematik yang terarah dan manajemen modern, DPRD optimistis pasar tradisional di Surabaya dapat bertransformasi menjadi ruang ekonomi yang hidup sekaligus destinasi wisata unggulan.

"Kalau bersih, tertata, punya konsep, dan dikelola dengan baik, pasar tradisional bisa jadi ikon kota. Ini bukan hanya soal jual beli, tapi juga pengalaman wisata," pungkasnya.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.