24 May 2026

Get In Touch

Olok-olok Aktivis Flotilla Gaza, Menteri Israel Tuai Kecaman Termasuk dari Netanyahu

Kapal flotilla Global Sumud. (REUTERS)
Kapal flotilla Global Sumud. (REUTERS)

JAKARTA (Lentera) - Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menuai kecaman internasional setelah mengolok-olok para aktivis Global Sumud Flotilla (GSF) yang ditahan aparat Israel usai armada mereka dicegat dalam perjalanan menuju Gaza. Kontroversi itu semakin membesar setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ikut menegur tindakan Ben-Gvir.

Kontroversi mencuat usai sejumlah video yang diunggah langsung oleh Ben-Gvir di platform X pada Rabu (20/5/2026) viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, Ben-Gvir tampak mengolok-olok para aktivis GSF yang ditahan aparat keamanan Israel setelah armada mereka dicegat saat menuju Gaza.

Pernyataan dan tindakan Ben-Gvir itu langsung memicu reaksi keras, termasuk dari Netanyahu sendiri. Meski membela keputusan Israel mencegat armada GSF, Netanyahu menilai tindakan menterinya telah melampaui batas.

"Israel memiliki hak penuh untuk mencegah armada provokatif pendukung Hamas memasuki perairan teritorial kami dan mencapai Gaza," kata Netanyahu dalam pernyataannya, mengutip Kompas, Kamis (21/5/2026).

"Namun, cara Menteri Ben Gvir menangani para aktivis armada tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel," lanjutnya.

Kritik serupa juga datang dari Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar. Melalui akun X miliknya, Saar menilai aksi Ben-Gvir telah memperburuk citra Israel di mata dunia. "Anda sengaja merusak reputasi negara lewat penampilan memalukan ini, dan ini bukan pertama kalinya. Tidak, Anda bukan wajah Israel," tulis Saar.

Ben-Gvir kemudian membalas kritik tersebut dengan menyatakan Israel bukan lagi negara yang bisa ditekan pihak luar.

"Siapa pun yang datang ke wilayah kami untuk mendukung terorisme akan mendapat tamparan," katanya.

Kecaman juga datang dari Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter. Ia menyebut aksi Ben-Gvir sebagai "pertunjukan sembrono" yang merusak upaya diplomatik Israel.

"Ulah Ben Gvir menghancurkan upaya diplomatik kita, sementara musuh-musuh Israel memanfaatkan setiap tindakan tidak masuk akal untuk mendiskreditkan dan menjelek-jelekkan Israel," ujarnya.

Dari pihak Amerika Serikat, Duta Besar AS untuk Israel, Mike Huckabee, turut melontarkan kritik tajam. "Flotilla itu memang aksi bodoh, tetapi Ben Gvir telah mengkhianati martabat negaranya," kata Huckabee.

Kontroversi tersebut juga memicu respons diplomatik dari sejumlah negara Eropa. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyebut tindakan Ben-Gvir sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima".

Pemerintah Italia bahkan memanggil duta besar Israel di Roma dan menuntut permintaan maaf atas perlakuan terhadap para aktivis.

Langkah serupa dilakukan Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menyatakan Paris telah memanggil duta besar Israel untuk meminta penjelasan.

"Apa pun pendapat orang tentang armada ini, warga negara kami yang ikut di dalamnya harus diperlakukan dengan hormat dan dibebaskan secepat mungkin," tulis Barrot di X.

Sementara itu, kelompok advokasi hukum berbasis di Israel, Adalah, menuduh otoritas Israel menerapkan "kebijakan kriminal berupa pelecehan dan penghinaan" terhadap para aktivis.

Dalam pernyataannya, Adalah menyebut perlakuan tersebut mengikuti pola tindakan serupa yang sebelumnya juga dialami para aktivis dalam misi armada terdahulu.

"Israel tidak pernah dimintai pertanggungjawaban atas tindakan tersebut," kata kelompok itu.

Adalah menambahkan bahwa tim pengacara dan relawan mereka telah memberikan bantuan hukum kepada para aktivis di Ashdod serta mendesak pembebasan segera terhadap seluruh peserta armada.

"Masyarakat internasional harus mengambil langkah mendesak untuk melindungi anggota armada dari tindakan brutal dan ilegal pejabat Israel,"demikian pernyataan Adalah.

Salah satu video memperlihatkan Ben-Gvir berjalan di tengah sekitar 430 aktivis yang dijaga ketat polisi dan tentara Israel. Sambil mengibarkan bendera Israel berukuran besar, ia melontarkan komentar provokatif.

"Selamat datang di Israel, kami adalah tuan tanahnya," ujar Ben-Gvir, dikutip dari CBS News, Rabu (21/5/2026).

Dalam rekaman yang sama, seorang aktivis dengan tangan diborgol terdengar meneriakkan "Bebaskan Palestina" ketika Ben-Gvir melintas. Tak lama kemudian, aktivis tersebut terlihat didorong aparat hingga jatuh ke tanah.

Video lain memperlihatkan para aktivis dalam kondisi berlutut dengan tangan terikat di belakang punggung dan kepala menunduk menyentuh lantai. Rekaman itu diduga diambil di lokasi penahanan sementara di Pelabuhan Ashdod, Israel, serta di atas dek kapal armada.

Ben-Gvir juga kembali melontarkan komentar bernada mengejek terhadap para aktivis. "Mereka datang ke sini dengan penuh kebanggaan seperti pahlawan besar. Lihat mereka sekarang," katanya dalam video lain.

Tak hanya itu, ia bahkan meminta Netanyahu memberinya izin untuk memenjarakan para aktivis tersebut dalam "waktu yang sangat, sangat lama".

Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.