ZINTAN (Lentera) -Saif Al Islam Khadafi, putra kedua sekaligus sosok paling menonjol dari mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi, tewas dalam serangan bersenjata di Kota Zintan, barat daya Ibu Kota Tripoli, Selasa (3/2/2026).
Kabar kematian pria berusia 53 tahun itu diumumkan oleh pengacaranya, Khaled Al Zaidi, serta penasihat politiknya, Abdulla Othman, dalam unggahan terpisah di Facebook. Keduanya tidak menyampaikan rincian lebih lanjut terkait kejadian tersebut.
Media lokal Libya, Fawasel Media, mengutip keterangan Othman yang menyatakan bahwa Saif tewas dibunuh di rumahnya oleh kelompok bersenjata.
“Empat pria bertopeng menyerbu rumahnya dan membunuhnya dalam pembunuhan pengecut dan keji,” tulis tim politik Khadafi, dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa Saif sempat melakukan perlawanan terhadap para pelaku, yang terlebih dahulu mematikan kamera CCTV di rumahnya.
Sementara itu, klaim berbeda diutarakan saudara perempuan Saif. Dikutip dari BBC, ia menyebutkan bahwa Saif tewas di dekat perbatasan negara dengan Aljazair.
Menanggapi insiden tersebut, mantan kepala Dewan Negara Tinggi Libya yang berbasis di Tripoli, Khaled Al Mishri, menyerukan adanya penyelidikan mendesak dan transparan atas pembunuhan anak Muammar Khadafi.
Dikenal sebagai pewaris takhta
Lahir di Tripoli pada Juni 1972, Saif Al Islam dikenal sebagai sosok terpelajar dan fasih berbahasa Inggris.
Ia pernah menempuh pendidikan di London School of Economics dan dianggap sebagai wajah moderat dari pemerintahan represif ayahnya.
Saif memainkan peran penting dalam memperbaiki hubungan Libya dengan negara-negara Barat, termasuk memimpin negosiasi pembatalan program senjata pemusnah massal dan pemberian kompensasi atas tragedi bom Pan Am Flight 103 di Lockerbie, Skotlandia, tahun 1988.
Saif juga sempat menyerukan reformasi, termasuk pembentukan konstitusi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia, sehingga kerap dipandang sebagai calon reformis di mata internasional.
Namun, ketika gelombang pemberontakan Arab Spring melanda Libya pada 2011, Saif justru memilih bertahan bersama ayahnya dan menjadi salah satu arsitek penindasan terhadap oposisi
“Kita berjuang di sini di Libya, kita mati di sini di Libya,” kata Saif dalam wawancara dengan Reuters saat itu.
Ia memperingatkan bahwa sungai darah akan mengalir, dan pemerintah akan berjuang hingga titik penghabisan.
“Seluruh Libya akan hancur. Kita akan membutuhkan 40 tahun untuk mencapai kesepakatan tentang bagaimana menjalankan negara ini,” ujarnya, mengutip dari Kompas.
Pada Februari 2011, Saif masuk dalam daftar sanksi PBB dan dilarang bepergian. Ia juga dicari oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan selama konflik 2011.
Setelah oposisi merebut Tripoli, Saif mencoba melarikan diri ke Niger dengan menyamar sebagai anggota suku Badui.
Akan tetapi, ia ditangkap di jalan gurun oleh milisi Brigade Abu Bakr Sadik dan diterbangkan ke Zintan.
Pada 2015, pengadilan Tripoli menjatuhkan hukuman mati in absentia terhadapnya setelah Pemerintah Libya diberi kewenangan untuk mengadilinya.
Meski begitu, dua tahun kemudian da dibebaskan sebagai bagian dari program amnesti umum.
Sejak saat itu, Saif hidup dalam persembunyian di Zintan.
Cita-cita politik yang terhenti
Pada November 2021, Saif Al Islam Khadafi kembali mencuri perhatian publik setelah mengumumkan pencalonan dirinya dalam pemilihan presiden Libya.
Langkah ini menuai penolakan dari berbagai kekuatan politik di Libya bagian barat dan timur.
Pencalonannya menjadi sorotan karena ia telah divonis hukuman mati pada 2015. Ketika berusaha mengajukan banding, sekelompok pasukan memblokir akses ke pengadilan.
Kontroversi ini turut berkontribusi pada kegagalan proses pemilu dan kembali membekukannya situasi politik Libya.
Sejak saat itu, Saif tetap berada di Zintan hingga tewas ditembak oleh kelompok bersenjata pada 3 Februari 2026. Identitas para pelaku maupun motif pembunuhan masih belum terungkap hingga kini (*)
Editor: Arifin BH





.jpg)
