07 March 2026

Get In Touch

Studi Ungkap Olahraga Bisa Jadi Senjata Utama Lawan Depresi

Studi Ungkap Olahraga Bisa Jadi Senjata Utama Lawan Depresi

SURABAYA ( LENTERA ) - Olahraga seperti lari, berenang, hingga menari kini diakui sebagai salah satu terapi utama untuk mengatasi depresi ringan dan gangguan kecemasan. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa aktivitas fisik tidak hanya membantu memperbaiki suasana hati, tetapi juga dapat memberikan dampak yang setara, bahkan dalam kondisi tertentu lebih kuat, dibandingkan terapi konvensional pada kasus gejala ringan.

Temuan ini diperkuat oleh riset berskala besar yang dipublikasikan dalam British Journal of Sports Medicine. Studi tersebut menganalisis 63 tinjauan ilmiah yang melibatkan hampir 80.000 partisipan dari berbagai kelompok usia yang memiliki latar belakang berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa olahraga mampu menurunkan gejala depresi serta kecemasan.

Dampak positif paling signifikan ditemukan pada kelompok usia muda, yakni 18-30 tahun, serta perempuan setelah melahirkan. Kelompok ini dinilai memiliki respons yang lebih baik terhadap aktivitas fisik sebagai bagian dari perawatan kesehatan mental.

Psikolog dari James Cook University, Neil Munro, menjelaskan bahwa olahraga dapat bekerja dengan mekanisme yang mirip dengan pengobatan tradisional pada kasus ringan. Ia menekankan bahwa bentuk gerakan apa pun selama sesuai dengan kondisi dan preferensi individu, dapat berpotensi membantu meredakan gejala depresi dan kecemasan. Pernyataan tersebut ia sampaikan seperti dikutip dari The Guardian.

Jenis olahraga yang meningkatkan detak jantung, seperti lari dan berenang, tercatat memberikan pengaruh paling besar dalam menurunkan gejala depresi. Sementara itu, latihan yoga dan tai chi juga memberikan manfaat, meski dengan efek yang relatif lebih kecil.

Menariknya, untuk gangguan kecemasan, olahraga dengan intensitas rendah yang dilakukan secara konsisten selama beberapa minggu justru menunjukkan hasil yang cukup baik. Penelitian juga menemukan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan secara berkelompok atau dengan pendampingan profesional memberikan hasil yang lebih optimal dibandingkan olahraga yang dilakukan sendiri. Menurut Munro, aspek sosial seperti interaksi, rasa kebersamaan, dan dukungan berperan penting terhadap efek antidepresan.

Dari sisi biologis, olahraga memicu pelepasan zat kimia di otak yang berperan dalam mengatur suasana hati dan respons terhadap stres. Dari sisi sosial, aktivitas bersama dapat meningkatkan rasa kebersamaan dengan orang lain. Psikiater dari University College London, Profesor Michael Bloomfield, menilai olahraga kelompok seperti zumba efektif karena mengombinasikan gerak fisik, interaksi sosial, kesenangan, serta rutinitas. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa olahraga sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti, terapi medis terutama pada kasus yang lebih berat.

Pandangan serupa disampaikan Profesor senior dari King’s College London, Dr Brendon Stubbs. Ia menekankan bahwa sebagian besar penelitian masih berfokus pada gejala ringan. Pada kondisi tersebut, olahraga dapat dipertimbangkan sebagai pilihan terapi awal. Namun, ia menegaskan bahwa tidak ada bukti yang mendukung bahwa pasien harus menghentikan psikoterapi atau obat-obatan yang telah diresepkan. Pada depresi berat, bahkan aktivitas harian dasar pun bisa menjadi tantangan, sehingga perawatan medis tetap sangat dibutuhkan.

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan lebih dari 280 juta orang di dunia hidup dengan depresi, dan sekitar 301 juta mengalami gangguan kecemasan. Angka ini terus meningkat, terutama di kalangan usia 16-24 tahun dan ibu yang baru melahirkan. Dalam konteks tersebut, olahraga dinilai sebagai tindakan yang relatif murah, mudah diakses, dan memiliki manfaat ganda bagi kesehatan fisik maupun mental. Meski demikian, jenis dan intensitas olahraga tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu dan tidak dimaksudkan untuk menggantikan terapi medis pada kasus sedang hingga berat. (Inna – Mahasiswa UINSA berkontribusi dalam tulisan ini)
Beberapa jenis olahraga ringan yang dapat meredakan depresi dan kecemasan:

Lari atau jogging
Aktivitas ini meningkatkan detak jantung dan merangsang pelepasan endorfin yang membantu memperbaiki suasana hati. Lari juga memberi rasa pencapaian yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.
 

Berenang
Gerakan berulang dalam air membantu menenangkan pikiran sekaligus melatih seluruh tubuh. Efek relaksasi dari air sering kali membantu mengurangi ketegangan emosional.
 

Zumba
Menari menggabungkan musik, gerakan, dan ekspresi diri. Jika dilakukan berkelompok, aktivitas ini juga memperkuat interaksi sosial yang penting bagi kesehatan mental.
 

Yoga
Yoga membantu mengatur pernapasan, meningkatkan kesadaran tubuh, dan menurunkan tingkat stres. Cocok bagi individu yang membutuhkan aktivitas dengan intensitas rendah.
 

Tai Chi
Olahraga ini menekankan gerakan lambat dan terkontrol yang dapat membantu menenangkan pikiran serta meningkatkan keseimbangan emosional.(*)

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.