SURABAYA ( LENTERA ) - Riset sepanjang 2015–2025 ini memanfaatkan data pelacakan satelit terhadap 70 hiu paus yang telah diberi penanda.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Marine Science mengungkap bahwa upaya perlindungan hiu paus tak bisa hanya berfokus pada
lokasi agregasi yakni tempat mereka berkumpul untuk mencari makan.
Perlindungan juga harus mencakup jalur migrasi hingga ke laut lepas, termasuk area makan yang berfungsi seperti “rest area” di jalur perjalanan mereka. Hal ini penting mengingat status hiu paus yang terancam punah, dengan populasi yang telah merosot hingga 79 persen dalam 120 tahun terakhir.
Penelitian selama 2015–2025 ini menganalisis data pelacakan satelit dari 70 hiu paus bertanda di empat lokasi agregasi utama di Indonesia Teluk Cenderawasih (Papua Tengah), Kaimana (Papua Barat), Teluk Saleh (Nusa Tenggara Barat), dan Teluk Tomini (Gorontalo) serta menelusuri pergerakan mereka di kawasan Indo-Pasifik.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi peneliti dari Konservasi Indonesia, Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, serta Conservation International. Kerja sama lintas lembaga dan disiplin ini memungkinkan pemetaan yang lebih menyeluruh terkait pola pergerakan, habitat penting, dan faktor lingkungan yang memengaruhi migrasi hiu paus.
Hasil studi menunjukkan hiu paus tidak bergantung pada satu lokasi saja. Mereka bergerak dari perairan pesisir ke laut lepas, mengikuti ketersediaan pakan dan dinamika lingkungan laut.
“Sekarang kita tidak hanya mengetahui lokasi kemunculan hiu paus, tetapi juga pola pergerakan serta faktor yang memengaruhinya,” ujar Iqbal dalam keterangan tertulis, 30 April 2026.
Menurutnya, temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan hiu paus tidak bisa hanya berbasis lokasi, tetapi harus mempertimbangkan keterhubungan ekosistem laut secara menyeluruh.
“Habitat musiman justru mendominasi jangkauan spesies ini. Area luas di Indo-Pasifik seperti Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram, Laut Timor, hingga Samudra Hindia bagian tenggara dan Samudra Pasifik dimanfaatkan secara dinamis untuk migrasi dan mencari makan, yang sangat dipengaruhi proses oseanografi,” ujar Iqbal.
Temuan studi ini menunjukkan bahwa habitat hiu paus memiliki fungsi yang berbeda-beda. Di lokasi agregasi seperti Teluk Saleh, aktivitas hiu paus didominasi oleh perilaku mencari makan yang relatif stabil sepanjang tahun.
Sebaliknya, perairan yang lebih luas hingga laut lepas berperan sebagai koridor migrasi sekaligus area mencari makan secara oportunistik, terutama ketika daya dukung di lokasi agregasi tidak lagi mencukupi kebutuhan dan variasi mangsa.
Iqbal menambahkan, hanya sedikit lokasi yang benar-benar mampu mendukung keberadaan hiu paus sepanjang tahun. Di antaranya adalah Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh yang dinilai sebagai habitat kunci yang tak tergantikan.
“Kedua lokasi tersebut memiliki peran strategis dalam menjaga populasi hiu paus secara keseluruhan. Habitat sepanjang tahun sangat terbatas. Jika lokasi seperti Teluk Saleh dan Teluk Cenderawasih tidak dilindungi dengan baik, maka dampaknya bisa terasa pada populasi di seluruh kawasan Indo-Pasifik,” ungkap Iqbal.
Hasil riset ini juga menunjukkan bahwa sebagian besar jalur pergerakan hiu paus berada di luar kawasan perlindungan. Spesies ini tercatat melintasi sedikitnya 13 negara serta wilayah laut lepas yang tata kelolanya masih terbatas.
Pergerakannya mencakup kawasan lintas negara seperti Australia, Christmas Island, Timor-Leste, Kepulauan Gilbert, Guam, Indonesia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Filipina, dan Kepulauan Solomon, serta area luas di luar yurisdiksi nasional.
“Ini menunjukkan bahwa hiu paus adalah spesies yang sangat lintas batas, sehingga perlindungannya tidak bisa dilakukan oleh satu negara saja. Kolaborasi di tingkat lokal maupun internasional sangat diperlukan untuk meningkatkan praktik pariwisata berbasis hiu paus, perikanan lebih berkelanjutan, serta menyesuaikan lalu lintas laut guna mengurangi risiko terhadap spesies yang terus mengalami penurunan ini,” ungkap Edy Setyawan, Lead Conservation Scientist dari Elasmobranch Institute Indonesia.
Edy menyatakan bahwa temuan ini menegaskan pendekatan konservasi berbasis lokasi saja tidak lagi memadai. Meski kawasan konservasi laut di titik agregasi tetap penting, perlindungan tersebut baru mencakup sebagian kecil dari keseluruhan ruang jelajah serta fase awal kehidupan hiu paus. (Itqiyah_mahasiswa UINSA yang berkontribusi dalam tulisan ini).





.jpg)
