08 May 2026

Get In Touch

Timur Tengah Bergejolak, AS dan Iran Dilaporkan Saling Serang

Seorang polisi Iran berjaga di atas kendaraan lapis baja saat berlangsungnya aksi keagamaan yang diselenggarakan pemerintah di pusat kota Teheran, Iran, 29 April 2026. (TIME)
Seorang polisi Iran berjaga di atas kendaraan lapis baja saat berlangsungnya aksi keagamaan yang diselenggarakan pemerintah di pusat kota Teheran, Iran, 29 April 2026. (TIME)

JAKARTA (Lentera) - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali bergejolak. Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan saling serang, usai Itan meluncurkan serangan rudal terhadap pasukan AS sebagai balasan atas aksi militer AS terhadap kapal tanker berbendera Iran di sekitar Teluk Oman.

Dilansir dari berbagai sumber, laporan tersebut disampaikan televisi nasional Iran pada Kamis (7/5/2026) dengan mengutip sumber militer.

Sehari sebelumnya, Rabu (6/5/2026), Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya telah melumpuhkan sebuah kapal tanker yang mengibarkan bendera Iran di kawasan Teluk Oman. 

Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi apakah insiden terhadap kapal tanker tersebut berkaitan langsung dengan serangan rudal Iran.

Media pemerintah Iran melaporkan kapal-kapal militer AS sempat terkena tembakan saat melintas di Selat Hormuz hingga mengalami kerusakan sebelum akhirnya mundur dari kawasan tersebut.

Meski demikian, laporan tersebut tidak merinci waktu pasti maupun tingkat kerusakan yang dialami armada AS.

Situasi di Iran juga dilaporkan semakin tegang setelah suara ledakan terdengar di wilayah barat Teheran pada Kamis (7/5/2026). Kantor berita Mehr mengonfirmasi sistem pertahanan udara Iran diaktifkan di ibu kota menyusul meningkatnya ancaman serangan.

Di saat yang sama, media AS melaporkan Washington turut melancarkan serangan terhadap Pelabuhan Qeshm dan Kota Bandar Abbas. Fox News, mengutip pejabat senior militer AS, menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari respons keamanan di kawasan Teluk Persia.

Meski demikian, pemerintah AS disebut menegaskan operasi militer tersebut tidak dimaksudkan untuk memulai kembali perang terbuka dengan Iran.

Sebelumnya, AS disebut hampir mencapai kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang.

"Kedua pihak hampir mencapai kesepakatan mengenai nota kesepahaman satu halaman untuk mengakhiri perang dan menetapkan kerangka kerja untuk negosiasi nuklir yang lebih rinci," tulis Axios dalam laporannya, Rabu (6/5/2026).

Diketahui, Iran dan AS sempat melakukan kesepakatan gencatan senjata pada 7 April 2026. Kesepakatan itu tercapai usai serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari 2026 yang menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban sipil.

Namun, proses diplomasi pasca gencatan senjata belum menunjukkan hasil berarti. Perundingan yang digelar di Islamabad dilaporkan gagal mencapai kesepakatan lanjutan antara kedua negara.

Presiden AS Donald Trump bahkan sempat memperpanjang masa gencatan senjata guna memberi waktu tambahan bagi Iran menyusun proposal gabungan untuk penyelesaian konflik.

Eskalasi konflik tersebut kini berdampak langsung terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz. Sejumlah laporan menyebut aktivitas kapal tanker minyak dan LNG di kawasan itu nyaris terhenti akibat meningkatnya risiko keamanan.

Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.