08 May 2026

Get In Touch

WHO Pastikan Hantavirus di Kapal Pesiar Tak Berpotensi Jadi Pandemi Baru

Tampilan udara kapal pesiar MV Hondius yang membawa penumpang terduga kasus hantavirus di dalam kapal, saat bersiap meninggalkan Praia, Praia, Selasa (6/5/2026). (REUTERS)
Tampilan udara kapal pesiar MV Hondius yang membawa penumpang terduga kasus hantavirus di dalam kapal, saat bersiap meninggalkan Praia, Praia, Selasa (6/5/2026). (REUTERS)

JAKARTA (Lentera) - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) memastikan wabah hantavirus yang ditemukan di kapal pesiar MV Hondius tak berpotensi menjadi pandemi baru seperti pandemi COVID-19.

"Ini adalah lingkungan spesifik dan terbatas, tempat orang-orang berinteraksi dalam kontak dekat berkepanjangan," ujar Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdirahman Mahamud, kepada wartawan di Jenewa, melansir Antara, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, WHO tidak melihat indikasi wabah tersebut akan memicu rantai penularan luas antar manusia. Pengalaman penanganan wabah sebelumnya serta langkah mitigasi yang dilakukan negara-negara anggota dinilai cukup untuk menekan risiko penyebaran.

"Kami percaya wabah ini tak akan menyebabkan rantai penularan lanjutan," katanya.

Sejauh ini, WHO mencatat 5 kasus terkonfirmasi yang berkaitan dengan virus Andes, salah satu strain hantavirus langka yang dalam kondisi tertentu dapat menular antar manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Kasus tersebut ditemukan di kapal pesiar MV Hondius. Diagnosis infeksi dikonfirmasi melalui pengujian laboratorium di Afrika Selatan dan Swiss.

WHO meminta pasien yang terinfeksi tetap menjalani isolasi, sementara orang-orang yang sempat terpapar diminta berada dalam pemantauan aktif selama 42 hari. Namun, penerapan kebijakan itu disebut dapat berbeda di tiap negara.

Mahamud menjelaskan beberapa negara kemungkinan menerapkan karantina institusional, sedangkan negara lain memilih pengawasan kesehatan harian oleh petugas medis.

Sementara itu, Direktur WHO untuk Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi, Maria Van Kerkhove, menegaskan wabah hantavirus ini sangat berbeda dengan COVID-19.

"Ini bukan SARS-CoV-2. Ini bukan awal pandemi COVID. Penyebarannya tidak sama seperti virus corona," katanya.

Sebagian besar hantavirus diketahui ditularkan melalui hewan pengerat, baik lewat air liur, urine, maupun kotorannya. Penularan antar manusia tergolong sangat jarang terjadi.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pihaknya telah memberi notifikasi kepada 12 negara yang warganya berada di kapal pesiar tersebut dan sebelumnya sempat turun di Saint Helena.

Adapun ke-12 negara itu meliputi Kanada, Denmark, Jerman, Belanda, Selandia Baru, Saint Kitts dan Nevis, Singapura, Swedia, Swiss, Turkiye, Inggris, dan Amerika Serikat.

Tedros mengungkapkan, 2 pasien pertama yang terkonfirmasi sebelumnya sempat melakukan perjalanan ke Argentina, Chile, dan Uruguay sebelum menaiki kapal pesiar. Mereka juga diketahui mengunjungi lokasi pengamatan burung yang menjadi habitat tikus pembawa virus Andes.

Saat ini, MV Hondius tengah berlayar menuju Kepulauan Canary setelah memperoleh izin dari pemerintah Spanyol.

Meski kapal tersebut masih melanjutkan perjalanan, WHO menilai risiko penyebaran hantavirus, termasuk di Kepulauan Canary, tetap berada pada level rendah.

Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.