11 March 2026

Get In Touch

Minyak Dunia Sentuh 100 Dolar AS per Barel, Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik Sampai Idulfitri

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (foto:ist/Ant)
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. (foto:ist/Ant)

JAKARTA (Lentera) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak naik sampai dengan Hari Raya Idulfitri, meskipun harga minyak mentah dunia melonjak hingga sempat melampaui 100 dolar AS per barel.

Bahlil di hadapan wartawan, menyebut per hari ini harga minyak mentah dunia telah turun di bawah 100 dolar AS per barel. Harga minyak mentah dunia, masih fluktuatif pada kisaran 80-90 dolar AS per barel.

Dijelaskan, dirinya telah membicarakan masalah subsidi itu dengan Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa.

"Pemerintah, kemarin kita juga melakukan pembahasan dengan Menteri Keuangan, saya dapat memastikan untuk menyangkut subsidi BBM, sampai dengan Hari Raya (Idulfitri) Insyaallah tidak ada kenaikan apa-apa. Jadi, negara hadir untuk memastikan bahwa sekali pun ada kenaikan harga minyak mentah dunia, tetapi untuk subsidi tetap sama, tidak ada kenaikan harga, untuk minyak subsidi ya," kata Bahlil saat ditemui sebelum mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan RI, Jakarta melansir Antara, Selasa (10/3/2026).

Di lokasi yang sama dalam waktu terpisah, Menkeu Purbaya menjelaskan ketersediaan anggaran untuk subsidi BBM, terutama selama bulan Ramadhan hingga Hari Raya Idul Fitri, masih aman.

"Kita masih aman, masih kuat. Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh. Rata-rata setahun 70 (dolar AS per barel) asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saya. Jadi, belum cukup untuk mengubah anggaran kita. Jadi kita masih bisa absorb," kata Purbaya menjawab pertanyaan wartawan.

Sejalan dengan itu, Purbaya juga meyakini harga minyak mentah dunia masih akan fluktuatif.

"Itu bisa naik, bisa turun cepat loh. Jadi, kita lihat, pastikan, betul enggak naik, betul enggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik, ya sudah kita bisa antisipasi naik terus. Ini kan enggak. (Harga, red.) naik, tiba-tiba turun lagi. Nanti kalau harga minyak turun, kita ubah lagi, repot kan. Jadi, menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibandingkan dengan merespons gerakan saham," ujar Purbaya.

Oleh karena itu, Purbaya melanjutkan pemerintah akan mengamati lebih dulu tren harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu sebelum mengambil kebijakan untuk merespons dinamika tersebut.

"Saya pikir cukup (sebulan mengamati harga, red.), sekarang ini berubah-ubah kan. 120 (dolar AS per barel) yang kemarin, tinggi. Berapa sekarang, 90 (dolar AS per barel). Kalau turun lagi bagaimana? Kan berubah terus. Jadi, kita nanti tebak arahnya yang sebetulnya seperti apa," kata Menkeu Purbaya.

 

 

Editor: Arief Sukaputra

 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.