15 March 2026

Get In Touch

DPRD Jatim Desak Imunisasi Masif Usai Lonjakan Suspek Campak di Tulungagung

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas.

SURABAYA (Lentera) – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Puguh Wiji Pamungkas, mendesak penguatan program imunisasi campak-rubella secara masif menyusul meningkatnya kasus suspek campak di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk di Tulungagung.

Berdasarkan data Januari–Februari 2026, tercatat 38 kasus suspek campak di wilayah tersebut, dengan satu pasien telah terkonfirmasi positif. Puguh menilai tren kenaikan kasus ini menjadi sinyal serius yang harus segera mendapat perhatian pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur.

“Kalau kita lihat, bukan hanya di Tulungagung, di beberapa daerah juga sempat terjadi kejadian luar biasa (KLB). Ini harus menjadi atensi serius bagi Pemprov Jawa Timur, khususnya Dinas Kesehatan, agar kasus seperti ini tidak semakin banyak muncul di berbagai daerah,” ungkap Puguh, Sabtu (14/03/2026).

Menurut Politisi PKS tersebut, data dari dinas kesehatan menunjukkan adanya peningkatan kasus dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menegaskan bahwa potensi penyebaran campak di Jawa Timur masih perlu diwaspadai.

Puguh mendorong agar langkah awal yang dilakukan adalah memperkuat koordinasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur dengan dinas kesehatan di seluruh kabupaten dan kota. Selain itu, perlu dilakukan pemetaan wilayah berdasarkan tingkat risiko penularan.

“Pemetaan ini penting untuk mengetahui daerah dengan potensi penularan tinggi, sedang, maupun rendah. Salah satu indikatornya bisa dilihat dari capaian angka imunisasi di wilayah tersebut,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya percepatan program imunisasi campak-rubella secara masif dengan pendekatan jemput bola melalui berbagai fasilitas kesehatan yang telah tersedia di masyarakat.

“Imunisasi harus dimasifkan melalui sekolah, posyandu, serta fasilitas kesehatan. Infrastruktur kesehatan yang sudah ada harus dimanfaatkan secara maksimal agar cakupan imunisasi meningkat,” jelasnya.

Selain itu, Puguh meminta penguatan pengawasan dan deteksi dini melalui sistem surveilans di fasilitas kesehatan. Rumah sakit, puskesmas hingga fasilitas kesehatan lainnya diminta aktif memantau gejala awal seperti demam, ruam, batuk pilek hingga mata merah.

Menurutnya, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur perlu mengeluarkan surat edaran agar seluruh fasilitas kesehatan melakukan pemantauan secara sistematis.

“Dengan adanya surveilans yang aktif, Dinas Kesehatan Provinsi bisa memiliki database yang kuat sehingga dapat melakukan respons cepat ketika ditemukan kasus,” katanya.

Puguh juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai imunisasi, terutama kepada para orang tua agar tidak menunda pemberian vaksin kepada anak.

“Di tingkat desa sudah ada kader kesehatan, puskesmas pembantu hingga puskesmas. Semua itu bisa dilibatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya imunisasi,” ujarnya.

Menjelang arus mudik Lebaran, ia mengingatkan mobilitas masyarakat yang meningkat berpotensi mempercepat penularan penyakit menular, termasuk campak.

“Momentum mudik ini harus menjadi perhatian bersama karena mobilitas dan interaksi masyarakat sangat tinggi. Ini berpotensi meningkatkan penularan penyakit, termasuk campak,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Aris Setiawan, menyebutkan jumlah suspek campak pada awal 2026 meningkat cukup signifikan.

Berdasarkan data Januari–Februari 2026 terdapat 38 kasus suspek campak. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang hanya tercatat 12 kasus.

“Awal tahun 2025 lalu ada 12 kasus suspek campak. Kemudian awal tahun 2026 naik menjadi 38 suspek campak,” ujarnya, Rabu (11/3/2026). (*)

 

Reporter: Pradhita
Editor : Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.