05 May 2026

Get In Touch

Anggarkan Revitalisasi Pasar Rp18,9 Miliar, Wakil Ketua DPRD Surabaya: Momentum Transformasi Menyeluruh

Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Arif Fathoni.

SURABAYA (Lentera) - Program revitalisasi pasar tradisional di Kota Surabaya didorong tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, tetapi menjadi momentum besar untuk mentransformasi wajah dan pengelolaan pasar agar lebih modern, bersih, dan kompetitif. 

Pihak DPRD Kota Surabaya menilai, langkah ini harus dibarengi perubahan manajemen serta pola pikir pengelola dan pedagang.

Disampaikan Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, yang mengalokasikan anggaran sekitar Rp18,9 miliar untuk revitalisasi pasar pada tahun ini. 

Menurutnya, kebijakan tersebut menunjukkan keberpihakan terhadap penguatan ekonomi kerakyatan sekaligus upaya menghapus stigma pasar tradisional yang selama ini identik dengan kumuh dan kurang tertata.

“Revitalisasi ini harus menjadi momentum untuk mengubah citra pasar tradisional agar lebih bersih, nyaman, dan menarik bagi masyarakat,” kata Fathoni, Senin (4/5/2026).

Fathoni menuturkan, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik. Ia meminta Perusahaan Daerah (PD) Pasar Surya sebagai pengelola melakukan rebranding total, termasuk dalam sistem manajemen dan pelayanan.

“Kami berharap ini menjadi titik awal untuk me-rebranding pengelolaan pasar. Tidak bisa lagi berjalan autopilot,” tuturnya.

Menurutnya, pengelolaan pasar di Surabaya perlu mulai beradaptasi dengan perkembangan teknologi, khususnya dalam mendukung pemasaran pedagang. Ia mencontohkan sejumlah pasar besar seperti Tanah Abang yang mulai memanfaatkan platform digital melalui penjualan berbasis live streaming.

“Pedagang harus adaptif, bisa memanfaatkan media sosial seperti TikTok atau live streaming untuk memperluas pasar. Ini penting untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di pasar,” jelasnya.

Untuk mendukung hal tersebut, DPRD mendorong PD Pasar Surya menggandeng konten kreator guna memperkuat promosi sekaligus membangun citra baru pasar tradisional di mata publik.

Selain digitalisasi, pembinaan pedagang juga dinilai menjadi faktor kunci keberhasilan revitalisasi. Edukasi terkait kebersihan, penataan dagangan, hingga manajemen usaha harus dilakukan secara berkelanjutan.

“Pedagang perlu di-upgrade, mulai dari menjaga kebersihan hingga cara mengemas produk agar lebih menarik,” tambahnya.

Politisi dari Golkar ini mengingatkan, agar revitalisasi tidak berhenti pada pembangunan fisik tanpa diikuti peningkatan kualitas pengelolaan. Tanpa perubahan tersebut, pasar dikhawatirkan akan kembali ke kondisi semula.

“Jangan sampai pemkot sudah menunjukkan keberpihakan, tetapi tidak diimbangi dengan pengelolaan yang maksimal. PD Pasar harus proaktif,” ujarnya.

Ia juga menyoroti, fenomena pasar krempyeng atau pasar rakyat mandiri yang justru lebih hidup dibandingkan pasar yang dikelola secara resmi. Hal ini, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi serius.

“Pasar yang dikelola masyarakat saja bisa ramai. Ini harus menjadi otokritik bagi kita semua,” tegasnya.

Ke depan, DPRD berharap, revitalisasi pasar tradisional dapat menjadikan Surabaya sebagai kota percontohan dalam pengelolaan pasar rakyat modern berbasis kolaborasi antara kekuatan ekonomi tradisional dan teknologi digital.

“Kalau pasar sudah bersih, manajemennya modern, dan pedagangnya adaptif, maka pasar tradisional Surabaya bisa benar-benar naik kelas,” pungkasnya.

 

Reporter: Amanah/Editor: Ais

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.