Seminar Karsa Nusantara 2026 Jadi Ruang Kolaborasi Teknologi, Budaya, dan Industri Kreatif
SURABAYA (Lentera) - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) dinilai tidak harus menggeser nilai budaya lokal. Sebaliknya, teknologi justru dapat menjadi alat strategis untuk melestarikan budaya sekaligus memperkuat daya saing industri kreatif Indonesia di tingkat global.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional Karsa Nusantara 2026 Batch 2 "Sinergi Teknologi dan Kearifan Lokal dalam Memperkuat Industri Kreatif" yang digelar Fakultas Teknik Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), Selasa (19/5/2026).
Dosen teknik komputer ITS Surabaya Mochamad Hariadi, sebagai narasumber mengatakan, Indonesia memiliki kekayaan budaya, tradisi, dan kearifan lokal yang sangat besar, namun belum sepenuhnya dioptimalkan secara digital maupun ekonomi.
Menurutnya, tantangan globalisasi, percepatan digitalisasi, hingga perubahan perilaku konsumen menuntut adanya kolaborasi nyata antara teknologi dan budaya lokal.
"Budaya kita kuat, tetapi belum optimal secara digital dan ekonomi. Karena itu sinergi antara teknologi dan kearifan lokal menjadi kunci untuk menciptakan karya kreatif yang berdaya saing global," ujarnya.
Dalam paparannya, Hariadi menjelaskan konsep utama sinergi antara teknologi dan kearifan lokal. Teknologi dinilai memiliki kekuatan dalam aspek skalabilitas, efisiensi, inovasi, dan jangkauan global. Sementara kearifan lokal menjadi sumber identitas, filosofi, kreativitas tradisi, hingga nilai gotong royong masyarakat Indonesia.
Ia menegaskan, inovasi tidak boleh tercerabut dari akar budaya bangsa. Menurutnya, kreativitas global justru akan semakin kuat ketika dibangun di atas identitas lokal yang khas.
Selain itu, Hariadi memaparkan empat pilar utama dalam framework sinergi teknologi dan budaya lokal. Pilar pertama adalah teknologi digital, seperti AI, data analytics, Internet of Things (IoT), cloud computing, hingga keamanan siber. Pilar kedua yakni kearifan lokal yang meliputi nilai budaya, tradisi, seni, dan keterampilan lokal.
Kemudian pilar ketiga adalah kolaborasi multipihak yang melibatkan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat. Sedangkan pilar keempat menitikberatkan pada dampak dan keberlanjutan berupa pertumbuhan ekonomi kreatif, pelestarian budaya, hingga pembangunan berkelanjutan.
Salah satu poin penting yang disorot dalam seminar tersebut adalah digitalisasi budaya. Hariadi menyebut pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi sarana dokumentasi, pelestarian, sekaligus promosi budaya Indonesia ke dunia internasional.
"Digitalisasi budaya adalah jembatan antara masa lalu yang berharga dan masa depan yang berdaya," ungkapnya.
Ia menjelaskan, strategi digitalisasi budaya dapat dilakukan melalui dokumentasi digital artefak dan tradisi, pembangunan arsip digital, pengembangan platform akses global, hingga penggunaan teknologi interaktif seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).
"Langkah ini tidak hanya menjaga keberlangsungan budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif baru berbasis budaya lokal dan sektor pariwisata," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Karsa Nusantara 2026, Nia Saurina, mengatakan dunia saat ini berubah sangat cepat sehingga menuntut semua pihak untuk adaptif, responsif, dan kolaboratif.
Ia berharap seminar tersebut tidak berhenti sebagai forum akademik satu hari, melainkan menjadi awal kolaborasi berkelanjutan antarperguruan tinggi, industri, dan masyarakat.
"Mari kita jadikan seminar ini sebagai awal perjalanan panjang untuk membangun Indonesia yang inovatif dan mandiri," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor UWKS, Prof. Dr. Ir. Rr. Nugrahini Susantinah Wisnujati mengapresiasi penyelenggaraan Karsa Nusantara sebagai forum ilmiah tahunan yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu dan pemangku kepentingan.
Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan di tengah arus globalisasi dan perkembangan AI yang semakin pesat. Ia menegaskan bahwa teknologi dan budaya lokal bukan dua hal yang saling bertentangan.
"Teknologi justru harus menjadi alat utama untuk melestarikan, mengemas, dan mempromosikan produk budaya agar lebih kompetitif dan mampu bersaing secara global," tutupnya.
Reporter: Amanah





.jpg)
