24 May 2026

Get In Touch

Doa Sang Ibu Jadi “Jimat”, Anak Pedagang Fotokopi Ini Resmi Jadi Dokter

Benta Malika El Ghameela.
Benta Malika El Ghameela.

SURABAYA (Lentera) -Setiap ujian yang dijalani selama menempuh pendidikan dokter, Benta Malika El Ghameela selalu membawa satu “jimat” dari rumahnya di Madura. Bukan benda pusaka atau keberuntungan, melainkan doa panjang sang ibu yang tak pernah putus dibacakan hingga ujian selesai.

Sebelum memasuki ruang ujian, Benta selalu mengirim pesan singkat kepada ibunya. Isi pesannya sederhana: nama penguji, jam ujian, dan ruangan tempat ia diuji. Setelah itu, sang ibu mulai membaca Surah Yasin hingga putrinya memberi kabar bahwa ujian telah selesai.

“Kalau saya sudah chat, ‘Ma, sudah selesai,’ baru Mama berhenti,” kenang Benta sambil menahan haru.

Doa itulah yang disebutnya sebagai “jimat” selama bertahun-tahun menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.

Kini, perjuangan panjang itu berbuah manis. Kamis (21/5/2026), Benta resmi diambil sumpahnya bersama 15 dokter baru lainnya. Ia menjadi dokter pertama di keluarga besarnya yang seluruhnya berlatar belakang pedagang kecil.

Mimpi menjadi dokter sebenarnya sudah tumbuh sejak ia kecil. Saat itu, ia sering melihat sang kakek menjalani cuci darah akibat komplikasi diabetes dan gangguan ginjal.

“Waktu itu saya berpikir, kalau saya jadi dokter, mungkin saya bisa merawat keluarga saya sendiri,” tuturnya dikutip Sabtu (23/5/2026).

Cita-cita itu semakin kuat ketika ia bersekolah di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya. Dalam setiap surat ulang tahun untuk kedua orang tuanya, Benta selalu menulis kalimat yang sama di bagian akhir.

“Dari putri cantik kalian, dokter Benta.”

Kalimat sederhana itu diam-diam disimpan oleh kedua orang tuanya sebagai harapan besar untuk masa depan anak mereka.

Namun jalan menuju fakultas kedokteran tidak pernah mudah. Orang tua Benta hanya memiliki usaha fotokopi dan percetakan kecil. Meski begitu, mereka tak pernah memperlihatkan kesulitan di depan anaknya.

“Orang tua saya tidak pernah bilang kalau mereka kesulitan. Mereka cuma bilang, ‘Kamu belajar saja. Soal biaya, Mama dan Abah usahakan,’” ujarnya.

Cobaan terbesar datang saat pandemi Covid-19 melanda. Usaha fotokopi keluarga nyaris berhenti total karena sekolah dan kantor tutup. Tidak ada pelanggan, pemasukan pun menurun drastis.

Di tengah kondisi itu, Benta sempat takut harus menghentikan kuliah kedokterannya.

Namun kedua orang tuanya memilih bertahan. Mereka memulai usaha baru dengan berjualan pakaian demi memastikan putri sulung mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.

“Di situ saya benar-benar melihat bagaimana orang tua saya berjuang agar saya tetap bertahan di kedokteran,” kata perempuan kelahiran Bangkalan, 9 April 2000 tersebut.

Perjuangan Benta tidak hanya soal biaya. Di lingkungan kampus, ia juga pernah merasa minder karena bukan berasal dari keluarga dokter atau kalangan berada.

Ia datang ke kampus dengan sepeda motor, menggunakan telepon genggam biasa, sementara sebagian teman-temannya tampil dengan mobil mewah dan fasilitas lengkap.

“Banyak yang bilang anak kedokteran harus bawa mobil. Saya sempat minder. Tapi saya berpikir, saya harus punya nilai dari diri saya sendiri,” katanya.

Perasaan itu justru membuatnya semakin aktif dan terus berkembang. Ia mengikuti berbagai organisasi mahasiswa kedokteran tingkat nasional, memperluas relasi, dan membuktikan diri lewat kerja keras.

Saat menjalani masa koas, tekanan mental menjadi tantangan berikutnya. Jadwal panjang, tugas menumpuk, hingga dimarahi pasien maupun tenaga kesehatan menjadi bagian dari kesehariannya.

Namun di tengah kelelahan itu, ada satu momen yang tak pernah ia lupakan. Seorang pasien yang sempat dirawat intensif akhirnya membaik dan diperbolehkan pulang. Keluarga pasien menghampirinya dan mengucapkan terima kasih sederhana.

“Dok, terima kasih sudah sering nengok Bapak.”

Kalimat singkat itu justru menjadi titik yang semakin menguatkan langkahnya.

“Saya merasa ternyata ilmu saya berguna,” tutur Benta.

Kini, setelah resmi menyandang gelar dokter, Benta ingin melanjutkan mimpi berikutnya, yakni menjadi dokter spesialis bedah dan kembali mengabdi di Madura yang masih membutuhkan banyak tenaga spesialis.

Di balik toga dan sumpah dokter yang ia ucapkan, tersimpan kisah tentang anak pedagang kecil yang tak menyerah pada keadaan, orang tua yang rela memulai usaha dari nol demi pendidikan anaknya, serta doa seorang ibu yang terus mengiringi setiap langkah perjuangan.

“Kalau orang tua saya tidak pernah mengeluh soal biaya, saya juga tidak boleh mengeluh soal pendidikan,” pungkasnya.

Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.