SURABAYA (Lentera) -Siapa sangka, sebuah gang sempit yang pernah dikenal sebagai jalur pelarian pencuri kini berubah menjadi oasis hijau penuh tanaman herbal di kawasan Krembangan Selatan, Surabaya.
Transformasi ini bermula dari keresahan warga terhadap maraknya aksi pencurian pada periode 2017–2018, di mana para pelaku memanfaatkan celah sempit di sisi kantor Ajenrem 084 Dam V Brawijaya sebagai jalan melarikan diri.
Tak ingin situasi itu berlarut, Eleyanoor Pelupessy, Ketua RW 11 RT 2, memilih bertindak.
Ia merogoh kocek pribadi dari gajinya sebagai ketua RW untuk mengubah gang itu menjadi destinasi wisata tanaman rempah.
Nama Kampung Rempah sendiri lahir dari deretan nama gang di kawasan tersebut, Gang Kunir, Pala, Kapulaga, Merica, dan Lada, yang seolah sudah memberi petunjuk takdir.
Pada 2019, Eleyanoor resmi merintis kampung tersebut bersama empat warga lansia bernama Tini, Lukas, Linda, dan Endang.
Alasan pemilihan keempat sosok itu sederhana tetapi logis.
Mereka adalah penghuni setia yang tidak berpindah-pindah, berbeda dengan banyak warga lain yang kerap keluar-masuk Surabaya.
Modal pertama hanya Rp 3 juta, tetapi semangatnya jauh melampaui angka itu.
"Sejak awal, saya tidak ingin uang RW masuk kantong sendiri. Niatnya memang untuk kepentingan bersama," ujar Eleyanoor dikutip Kompas, Minggu (31/5/2026).
Aral Rintangan
Perjalanan merawat tanaman herbal di tengah kota bukanlah tanpa aral.
Benih yang sulit didapat, lahan yang sempit, tanaman yang mati berulang kali, tanah yang harus didatangkan dari luar kota, hingga serangan tikus menjadi ujian yang datang silih berganti.
Namun, keempat lansia itu pantang menyerah.
Dengan semangat berkebun otodidak, mereka mempelajari kebutuhan masing-masing tanaman satu per satu.
Kini, gang sepanjang 200 meter itu telah menampung lebih dari 100 jenis tanaman herbal, mulai dari daun insulin, patekin, belalai gajah, hingga patah tulang.
Sebagian besar tanaman merupakan sumbangan dari warga perantau yang berasal dari Bali, Kalimantan, hingga Maluku, termasuk komunitas warga asal Ambon yang memang banyak bermukim di sana.
"Kebetulan banyak warga di sini yang berasal dari Ambon. Itu kami manfaatkan untuk titip beli tanaman rempah," imbuhnya.
Manfaat Nyata
Total dana yang telah dikeluarkan Eleyanoor kini melebihi Rp 30 juta, termasuk untuk membangun kolam terapi ikan sebagai sumber pemasukan yang direncanakan diberikan kepada para lansia perawat tanaman.
Tanah yang digunakan pun kini khusus didatangkan dari wilayah Mojokerto demi menjamin kesuburan dan kualitas tumbuh tanaman.
Manfaat nyata Kampung Rempah telah dirasakan banyak orang.
Seorang guru olahraga penderita diabetes basah yang lukanya parah di kaki rutin mengambil daun binahong dan daun insulin di sana dan tiga tahun berselang, kondisinya semakin membaik.
Selain itu, seorang warga pascaoperasi jantung pun merasakan pemulihan yang lebih cepat setelah rutin mengonsumsi seduhan daun sirih cina dari gang hijau ini.
Bagi Tini dan ketiga rekannya, keberhasilan ini bukan soal uang.
Kepuasan terbesar mereka adalah melihat tetangga yang terbantu.
Harapan mereka ke depan sederhana, yaitu agar Kampung Rempah bisa dikenal lebih luas, menjadi ruang edukasi terbuka, dan terus berkembang dengan koleksi tanaman yang semakin beragam sebuah warisan hijau di tengah hiruk-pikuk kota.
"Inginnya kampung herbal bisa dikenal lebih luas. Bisa menjadi ruang edukasi dan bermanfaat untuk warga sekitar. Lebih baik lagi kalau ada tambahan tanaman," singkat Tini.
Setidaknya, setiap hari menjadi rutinitas bagi Tini, Linda, Lukas, dan Endang untuk menyiram setiap tanaman herbal tersebut.
Mereka bergantian melakukannya dan memiliki spesialis di setiap ragam tanaman yang tumbuh di Kampung Rempah.
"Kalau salah kasih air bisa mati. Jadi, harus paham kebutuhan tanaman yang sedang disiram," pungkasnya (*)
Editor: Arifin BH




.jpg)
