11 June 2026

Get In Touch

Kisah Inspiratif 3 Mahasiswa KIP-K Unusa Raih Gelar Ganda, Siap Berkarier di Taiwan

Tiga mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil meraih gelar ganda (double degree) dari Indonesia dan Taiwan.
Tiga mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil meraih gelar ganda (double degree) dari Indonesia dan Taiwan.

SURABAYA (Lentera) - Tiga mahasiswa penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil meraih gelar ganda (double degree) dari Indonesia dan Taiwan. Bahkan, setelah lulus, mereka berencana membangun karier internasional di Negeri Formosa tersebut.

Ketiga mahasiswa tersebut, yakni Muchsin Maulana, Birrul Walidain Al Musthofa, dan Muhammad Halili. Mereka menjadi bagian dari tujuh mahasiswa Program Studi Sistem Informasi Unusa yang resmi diwisuda di St. John's University, Taiwan, Sabtu (6/6/2026).

Keberhasilan mereka merupakan hasil dari Program International Industrial Talents Education Special Program (INTENSE), program kerja sama antara Unusa dan St. John's University yang didukung Kementerian Pendidikan Taiwan. Program ini dirancang untuk mencetak talenta internasional melalui perpaduan pendidikan tinggi dan pengalaman industri.

Bagi ketiga mahasiswa tersebut, pencapaian ini bukan sekadar memperoleh gelar akademik, tetapi juga membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghalang untuk meraih pendidikan dan pengalaman global.

"Senang akhirnya bisa wisuda, tetapi juga terasa berbeda. Biasanya momen seperti ini dihadiri orang tua. Karena keluarga tidak bisa datang langsung ke Taiwan, mereka menyaksikan melalui siaran langsung," ujar Muhammad Halili, Selasa (9/6/2026).

Perjalanan menuju kelulusan tidaklah mudah. Selama menempuh pendidikan di Taiwan, mereka harus beradaptasi dengan bahasa, budaya, sistem pendidikan, hingga cuaca yang sangat berbeda dengan Indonesia.

Halili mengaku tantangan terbesar yang dihadapinya adalah bahasa Mandarin dan proses penyesuaian diri dengan lingkungan baru.

"Awalnya cukup berat karena bahasa Mandarin dan lingkungan yang benar-benar baru. Tetapi seiring waktu kami mulai terbiasa dan kemampuan bahasa Inggris maupun komunikasi kami semakin berkembang," katanya.

Pengalaman serupa dirasakan Birrul Walidain Al Musthofa. Menurutnya, kesempatan belajar sekaligus menjalani program magang dan bekerja di perusahaan Taiwan menjadi pengalaman berharga yang membuka wawasan baru.

"Kami bukan hanya kuliah, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja langsung di industri. Ini membuka wawasan sekaligus meningkatkan kepercayaan diri untuk bersaing secara global," ujarnya.

Sementara itu, Muchsin Maulana mengaku bersyukur dapat menjadi bagian dari program internasional tersebut. Sebagai mahasiswa penerima KIP-K, ia tidak pernah membayangkan akan memiliki kesempatan belajar di lingkungan internasional dan berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara.

"Senang bisa sampai di titik ini karena tidak menyangka mendapat kesempatan seperti ini. Kami belajar di lingkungan internasional, berinteraksi dengan berbagai budaya, sekaligus memperoleh peluang karier yang lebih luas," tutur Muchsin.

Selain tantangan akademik, ketiganya juga harus beradaptasi dengan biaya hidup, jenis makanan, hingga menjalani kehidupan sebagai minoritas Muslim di Taiwan. Namun pengalaman tersebut justru membentuk karakter mereka menjadi lebih mandiri, tangguh, dan adaptif.

Pengalaman belajar dan bekerja di Taiwan juga membuka pandangan baru tentang dunia kerja global yang semakin kompetitif dan berbasis teknologi. Karena itu, setelah lulus mereka berencana melanjutkan karier profesional di Taiwan guna menambah pengalaman internasional sebelum kembali berkontribusi di Indonesia.

Sementara itu, Rektor Unusa, Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA., IPU., ASEAN.Eng., mengatakan keberhasilan para mahasiswa tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Indonesia, termasuk penerima KIP-K, mampu bersaing di tingkat internasional apabila mendapatkan kesempatan dan dukungan yang memadai.

"Prestasi ini menunjukkan keterbatasan ekonomi bukan hambatan untuk meraih pendidikan berkualitas dan pengalaman global. Yang terpenting adalah kemauan belajar, kerja keras, serta dukungan ekosistem pendidikan yang membuka akses seluas-luasnya bagi mahasiswa," ujar Prof. Tri Yogi.
 

Ia berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani bermimpi besar dan memanfaatkan berbagai peluang internasional yang tersedia selama masa perkuliahan.

Diketahui, program INTENSE sendiri menjadi salah satu upaya Unusa dalam memperluas akses mahasiswa terhadap pendidikan global, sekaligus mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi internasional dan siap bersaing di pasar kerja dunia.

Reporter: Amanah/Editor: Santi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.