18 June 2026

Get In Touch

Sekolah Rakyat Trenggalek Siapkan Gedung Baru, Usulkan Tambahan 44 SDM untuk Layani 270 Siswa

Kepala SRT 50 Trenggalek, Yogyantoro, menjelaskan kebutuhan tambahan 44 tenaga kependidikan untuk mendukung operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi menjelang pemanfaatan gedung permanen baru yang ditargetkan mampu menampung hingga 270 siswa.
Kepala SRT 50 Trenggalek, Yogyantoro, menjelaskan kebutuhan tambahan 44 tenaga kependidikan untuk mendukung operasional Sekolah Rakyat Terintegrasi menjelang pemanfaatan gedung permanen baru yang ditargetkan mampu menampung hingga 270 siswa.

TRENGGALEK (Lentera) – Menjelang operasional gedung permanen baru yang mampu menampung hingga 270 siswa, Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 50 Trenggalek mulai mempersiapkan kebutuhan sumber daya manusia. Sebanyak 44 tenaga kependidikan tambahan diusulkan untuk mendukung layanan pendidikan berbasis asrama agar pembelajaran, pengawasan, dan pembinaan karakter siswa tetap berjalan optimal.

Kepala SRT 50 Trenggalek, Yogyantoro, mengatakan peningkatan kapasitas sekolah harus diimbangi dengan penambahan tenaga pendamping dan staf pendukung lainnya. Karena itu, pihaknya telah mengajukan kebutuhan SDM kepada Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) serta Biro SDM.

"Kami tidak hanya mempersiapkan bangunan fisik, tetapi juga memastikan kebutuhan tenaga kependidikan terpenuhi ketika gedung baru mulai digunakan," kata Yogyantoro, Kamis (18/6/2026).

Ia menjelaskan, dari total kebutuhan tambahan tersebut, posisi wali asuh menjadi yang paling banyak diusulkan. Peran mereka dinilai sangat penting karena mendampingi siswa selama menjalani aktivitas sehari-hari di lingkungan asrama.

Adapun usulan tambahan SDM meliputi 27 wali asuh, 9 wali asrama, 3 operator sekolah, 3 bendahara, dan 2 tenaga tata usaha. Jumlah tersebut dibutuhkan untuk mendukung operasional sekolah yang nantinya menampung siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA dalam satu kawasan pendidikan terpadu.

Menurut Yogyantoro, saat ini jumlah tenaga pendamping yang dimiliki sekolah masih terbatas. SRT 50 Trenggalek baru memiliki 11 tenaga pendamping, sementara kebutuhan akan meningkat seiring bertambahnya jumlah siswa.

"Kami menargetkan satu wali asuh mendampingi sekitar 10 siswa. Dengan kapasitas sekolah yang jauh lebih besar nanti, tentu jumlah pendamping juga harus disesuaikan," ujarnya.

Selain mengawasi kegiatan belajar, wali asuh juga bertugas membangun kedisiplinan, membentuk karakter, serta memberikan pendampingan sosial dan psikologis kepada siswa yang tinggal di asrama.

Sementara itu, pembangunan gedung permanen SRT 50 Trenggalek terus menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan laporan yang diterima pihak sekolah, progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 80 persen.

"Informasi dari manajemen proyek dan Dinas Sosial menyebutkan pembangunan fisik sudah mencapai kurang lebih 80 persen. Kami optimistis proses penyelesaian berjalan sesuai target," ungkapnya.

Untuk menjaga kualitas layanan pendidikan, sekolah menetapkan syarat minimal lulusan sarjana atau S1 bagi calon wali asuh. Lulusan dari bidang pendidikan dan pendampingan anak menjadi prioritas, meski kesempatan tetap terbuka bagi pelamar dari jurusan lain.

Yogyantoro berharap penambahan kapasitas siswa di masa mendatang dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan kebutuhan SDM sehingga kualitas pendidikan dan pembinaan yang menjadi ciri khas Sekolah Rakyat tetap terjaga.

"Harapan kami, ketika jumlah siswa bertambah, tenaga kependidikan juga bertambah secara proporsional. Dengan begitu, seluruh proses pembelajaran dan pembinaan dapat berlangsung secara maksimal," pungkasnya.

Reporter: Herlambang|Editor: Arifin BH

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.