SURABAYA (Lentera) -Musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Jawa Timur berdampak pada sektor pertanian. Anggota DPRD Jawa Timur Dapil IX, Missery Efendy, mengakui sejumlah lahan pertanian tidak dapat kembali ditanami padi karena keterbatasan pasokan air.
“Memang di dapil kami ada lahan-lahan pertanian yang akhirnya tidak bisa ditanami padi kembali karena kondisi air yang terbatas,” ungkap Missery, Minggu (21/6/2026).
Menurut Politisi Demokrat tersebut, pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk mengurangi dampak kekeringan. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali infrastruktur sumber daya air yang selama ini menjadi penopang kebutuhan pertanian.
“Pemprov bersama pemerintah kabupaten berupaya mengaktifkan kembali jaringan-jaringan yang ada, mulai dari waduk, embung hingga saluran irigasi yang tersedia. Dengan penormalan dan pengaktifan kembali fasilitas tersebut, insya Allah dampak kekeringan bisa diatasi,” katanya.
Missery menilai pemerintah daerah juga telah menyiapkan program strategis melalui pembangunan dan pemanfaatan sumur dalam yang didukung jaringan listrik hingga ke kawasan pertanian.
Menurutnya, program tersebut dijalankan melalui kolaborasi pemerintah daerah dengan PLN agar pasokan listrik dapat menjangkau lokasi-lokasi pertanian yang membutuhkan sumber air alternatif.
“Sekarang banyak jaringan PLN yang sudah masuk ke area pertanian. Ini untuk mendukung operasional sumur-sumur dalam agar lahan pertanian tetap bisa mendapatkan pasokan air,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan sumur dalam menjadi pelengkap sarana penampungan air lainnya seperti embung dan waduk yang telah dibangun pemerintah.
“Selain embung dan waduk, sumur dalam menjadi salah satu solusi yang sudah diantisipasi oleh pemerintah daerah, baik kabupaten maupun provinsi, untuk menghadapi potensi kekeringan,” pungkasnya.
Reporter: Pradhita|Editor: Arifin BH




.jpg)
