23 June 2026

Get In Touch

Tooth Gem, Ketika Fesyen Gigi Jadi Ekspresi Gen Z

Tooth Gem, Ketika Fesyen Gigi Jadi Ekspresi Gen Z

SURABAYA ( LENTERA ) - Media sosial kembali melahirkan tren kecantikan baru yang menyita perhatian publik. Jika selama beberapa tahun terakhir dunia kecantikan diramaikan oleh eksperimen pada makeup, warna rambut, seni menghias kuku, hingga berbagai modifikasi alis, kini giliran gigi yang menjadi kanvas ekspresi diri.

Tren yang dikenal dengan nama tooth gem sedang ramai diperbincangkan di Instagram dan TikTok, terutama di kalangan Generasi Z.
Tooth gem merupakan aksesori kecil berupa kristal, batu permata, hingga ornamen mini yang ditempelkan pada permukaan gigi.

Berbagai video yang menampilkan senyum berkilau dengan hiasan mungil tersebut viral dan mengumpulkan jutaan penonton di media sosial. Tidak sedikit kreator konten yang memamerkan koleksi tooth gem mereka sebagai bagian dari identitas gaya yang unik dan berbeda.

Bagi sebagian orang, tren ini bukan sekadar soal estetika. Di kalangan Gen Z, tooth gem dianggap sebagai bentuk ekspresi diri yang baru. Fenomena tersebut bahkan sering disebut sebagai cara untuk "mengustomisasi karakter" mereka di dunia nyata, layaknya ketika mengatur tampilan avatar dalam permainan video atau platform digital.

Generasi yang tumbuh bersama budaya digital memang terbiasa mempersonalisasi hampir semua hal. Mulai dari profil media sosial, avatar virtual, hingga tampilan perangkat elektronik. Kini konsep personalisasi itu merambah tubuh manusia. Setelah rambut, kuku, bulu mata, dan alis menjadi sarana berekspresi, gigi pun ikut mendapat sentuhan kreatif.

Meski kerap disebut sebagai tooth piercing, prosedur pemasangan tooth gem sebenarnya tidak melibatkan tindik ataupun pelubangan gigi. Aksesori tersebut ditempelkan menggunakan perekat khusus yang biasa digunakan dalam prosedur kedokteran gigi. Setelah itu, bahan perekat diperkuat dengan sinar khusus sehingga hiasan dapat menempel dalam jangka waktu tertentu.

Hasil akhirnya menciptakan kesan seolah-olah seseorang mengenakan perhiasan mini di dalam mulutnya. Karena tidak memerlukan proses melubangi jaringan tubuh, banyak orang menganggap tren ini lebih sederhana dibandingkan tindik konvensional.

Meski ramai dibicarakan saat ini, konsep menghias gigi sebenarnya bukan hal baru. Dalam budaya hip-hop Amerika Serikat, penggunaan grills atau pelapis gigi berbahan emas dan berlian telah populer sejak dekade 1980-an. Aksesori tersebut menjadi simbol status, kemewahan, dan identitas budaya.

Sejumlah musisi seperti Nelly, Lil Wayne, hingga Kanye West pernah mempopulerkan tren gigi berhias logam mulia. Namun berbeda dengan grills yang menutupi sebagian besar gigi, tooth gem tampil lebih minimalis dan dianggap lebih mudah diterima oleh kalangan muda.

Sejumlah media internasional seperti Vogue, Allure, hingga Harper's Bazaar dalam beberapa tahun terakhir mencatat meningkatnya popularitas tooth gem di kalangan generasi muda. Tren ini bahkan sempat menjadi bagian dari estetika Y2K yang kembali populer setelah kebangkitan budaya awal tahun 2000-an.

Pada era tersebut, banyak selebritas Hollywood mengenakan kristal kecil pada gigi sebagai simbol gaya yang berani dan futuristis. Kini tren yang sama muncul kembali dengan sentuhan baru yang lebih personal dan mudah diakses.

Fenomena tooth gem juga mencerminkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap kecantikan. Jika dahulu standar kecantikan cenderung menekankan kesempurnaan dan keseragaman, kini yang lebih dihargai adalah keunikan dan individualitas. Tooth gem sebagai bentuk personalisasi terbaru.

Popularitas tooth gem tidak bisa dilepaskan dari peran media sosial, terutama TikTok. Platform tersebut telah menjadi mesin utama yang mendorong lahir dan menyebarnya berbagai tren kecantikan dalam waktu singkat.
Jika sebelumnya TikTok mempopulerkan tren seperti clean girl aesthetic, latte makeup, strawberry makeup, hingga berbagai gaya kuku dan rambut tertentu, kini tooth gem menjadi salah satu simbol tren kecantikan generasi digital.

Banyak pengguna media sosial mengunggah proses pemasangan tooth gem, memperlihatkan hasil akhirnya, hingga membagikan inspirasi desain yang dapat dipilih. Algoritma media sosial membuat tren tersebut menyebar dengan cepat ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tren kecantikan modern tidak lagi lahir dari rumah mode besar atau industri hiburan semata. Kini tren dapat muncul dari unggahan kreator biasa yang kemudian menjadi viral dan ditiru jutaan orang di seluruh dunia.

Pakar Gigi Ingatkan Soal Keamanan

Di tengah popularitasnya, sejumlah dokter gigi di berbagai negara mengingatkan bahwa pemasangan tooth gem tetap harus dilakukan oleh tenaga profesional.

Media kesehatan dan kedokteran gigi di Amerika Serikat maupun Inggris mencatat bahwa pemasangan yang tidak tepat berisiko menyebabkan penumpukan plak, gangguan kebersihan mulut, iritasi gusi, hingga kerusakan email gigi ketika aksesori dilepas secara sembarangan.

Karena itu, para ahli menyarankan agar masyarakat tidak memasang tooth gem sendiri menggunakan lem biasa atau perekat yang tidak dirancang untuk kebutuhan medis.
Selain memperhatikan keamanan, pengguna juga dianjurkan menjaga kebersihan gigi secara rutin agar tidak terjadi penumpukan bakteri di sekitar aksesori.(Ist/dya)

Prosedur Pemasangan yang Aman (Dental Grade)
Pemasangan oleh profesional menggunakan teknik yang mirip dengan penempelan bracket behel tanpa perlu mengebor gigi

Pembersihan Gigi: Permukaan gigi dibersihkan dari plak dan noda agar lem menempel sempurna.

Aplikasi Etsa dan Bonding: Dokter mengoleskan bahan etsa khusus dental dan zat perekat (bonding) murni standar medis.

Penempelan Permata: Tooth gem diletakkan pada posisi estetis yang tepat, biasanya pada gigi seri atau taring.

Penyinaran (Light Cure): Sinar LED/UV digunakan selama beberapa menit untuk mengeringkan lem dengan cepat dan kuat.

Perawatan Pascapemasangan (Agar Tahan 6-12 Bulan)

Sikat Gigi dengan Lembut: Gunakan sikat gigi berbulu halus dan bersihkan area sekitar permata dengan hati-hati agar plak tidak menumpuk.

Hindari Makanan Keras/Lengket: Kurangi konsumsi makanan yang membutuhkan gigitan kuat di area gigi yang dipasang permata.

Gunakan Pasta Gigi Non-Abrasif: Hindari pasta gigi dengan formula pemutih (whitening) kuat yang bisa mengikis lapisan lem.

Batasi Alkohol: Kurangi penggunaan obat kumur beralkohol tinggi karena dapat melemahkan ikatan lem seiring waktu.

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.