23 June 2026

Get In Touch

Makanan yang Diam-Diam Bisa Memicu Dehidrasi

Makanan yang Diam-Diam Bisa Memicu Dehidrasi

SURABAYA ( LENTERA ) - Ketika suhu udara meningkat dan musim kemarau mencapai puncaknya, tubuh manusia bekerja lebih keras untuk menjaga keseimbangan cairan. Cuaca panas ekstrem tidak hanya membuat kulit terasa lebih gerah atau tubuh lebih cepat lelah, tetapi juga meningkatkan risiko dehidrasi secara signifikan.

Dalam kondisi ini, tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat dan proses metabolisme. Namun yang sering tidak disadari, bukan hanya lingkungan yang berperan, pilihan makanan sehari-hari juga bisa memperburuk kondisi hidrasi tubuh.

Beberapa jenis makanan ternyata dapat menarik cairan keluar dari sel tubuh, meningkatkan produksi urine, atau memicu rasa haus berlebihan. Kombinasi ini membuat tubuh lebih rentan kekurangan cairan, terutama saat asupan air tidak cukup.

Daging Olahan: Praktis, Tapi Tinggi Natrium

Daging olahan seperti sosis, kornet, hingga nugget memang menjadi pilihan cepat saji yang praktis. Namun di balik kemudahannya, makanan ini menyimpan kandungan natrium yang cukup tinggi.

Kandungan garam yang berlebih dapat memicu proses osmosis, yaitu kondisi ketika air dari dalam sel tubuh tertarik keluar untuk menyeimbangkan kadar natrium. Akibatnya, tubuh menjadi lebih cepat merasa haus.

Jika kondisi ini tidak diimbangi dengan konsumsi air yang cukup, risiko dehidrasi pun meningkat. Tubuh akan kesulitan menjaga keseimbangan cairan, terutama di tengah cuaca panas yang sudah membuat cairan lebih cepat hilang.

Makanan Pedas: Picu Cairan Hilang

Makanan pedas sering dianggap menyegarkan bagi sebagian orang, tetapi di tengah cuaca panas, efeknya bisa berbeda. Meskipun tidak secara langsung menyebabkan dehidrasi, makanan pedas dapat memicu tubuh mengeluarkan lebih banyak keringat.

Kandungan capsaicin dalam cabai menjadi pemicu utama. Senyawa ini merangsang reseptor di mulut dan tenggorokan, sehingga tubuh merespons seolah-olah sedang mengalami peningkatan suhu.

Akibatnya, produksi keringat meningkat, dan cairan tubuh pun berkurang lebih cepat. Jika tidak diimbangi dengan hidrasi yang cukup, kondisi ini dapat mempercepat rasa lelah dan haus.

Camilan Manis: Cairan Terganggu

Camilan manis seperti kue, permen, dan makanan tinggi gula memang memberikan efek “kenikmatan instan”. Namun di balik itu, asupan gula berlebih dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh.

Ketika kadar gula dalam darah meningkat, tubuh akan berusaha menyeimbangkannya dengan menarik cairan dari sel. Selain itu, tubuh juga meningkatkan produksi urine untuk membuang kelebihan gula.

Proses ini membuat cairan tubuh berkurang lebih cepat, sehingga risiko dehidrasi pun meningkat, terutama jika konsumsi air tidak mencukupi.

Acar: Asam dan Tinggi Natrium

Acar sering menjadi pelengkap makanan yang menyegarkan. Namun di balik rasanya yang khas, makanan ini juga mengandung natrium dalam jumlah cukup tinggi.

Jika dikonsumsi berlebihan, kandungan garam dalam acar dapat memberikan efek yang sama seperti makanan olahan: menarik cairan dari dalam tubuh dan meningkatkan rasa haus.
Karena itu, jika ingin tetap mengonsumsi acar, disarankan memilih versi dengan kadar garam yang lebih rendah agar tidak mengganggu keseimbangan cairan tubuh.

Asparagus: Sehat, Tapi Bersifat Diuretik

Berbeda dengan makanan lain dalam daftar ini, asparagus sebenarnya dikenal sebagai sayuran sehat yang kaya nutrisi. Sayuran ini mengandung vitamin K, folat, serat, dan antioksidan yang baik untuk tubuh.

Namun, asparagus juga mengandung asparagin, senyawa yang memiliki efek diuretik. Artinya, senyawa ini dapat meningkatkan produksi urine.
Efek ini dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Selain itu, asparagus juga diketahui dapat mengubah aroma urine pada sebagian orang. Meski demikian, sayuran ini tetap aman dikonsumsi selama tidak berlebihan dan diimbangi dengan asupan cairan yang cukup.

Dalam kondisi suhu tinggi, tubuh membutuhkan perhatian lebih dalam menjaga keseimbangan cairan. Selain menghindari makanan pemicu dehidrasi, penting juga untuk memahami asupan yang justru membantu hidrasi.

Air putih menjadi komponen utama yang tidak tergantikan. Rekomendasi umum menyarankan konsumsi sekitar 2–3 liter per hari untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.
Selain itu, buah dan sayuran dengan kandungan air tinggi juga dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan harian.

Dalam panduan kesehatan yang dirilis Health and Wellbeing Queensland, disebutkan bahwa makanan dan minuman memiliki peran penting dalam membantu tubuh mengatur suhu dan menjaga hidrasi, terutama saat cuaca panas ekstrem. Air putih, misalnya, tidak hanya menghidrasi tubuh tetapi juga membantu mengatur suhu internal agar tetap stabil.

Dehidrasi sering kali dianggap hanya berkaitan dengan kurang minum. Padahal, apa yang dikonsumsi sehari-hari juga memiliki pengaruh besar terhadap keseimbangan cairan tubuh.

Di tengah cuaca panas yang semakin intens, kesadaran untuk memilih makanan menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.(ist/dya)
 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.