Hilirisasi Garam Malang Tunggu Lampu Hijau Pusat, Nilai Jual Berpotensi Naik hingga 3 Kali Lipat
MALANG (Lentera) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang masih menunggu lampu hijau dari pemerintah pusat untuk merealisasikan program hilirisasi garam di wilayah pesisir selatan. Jika program tersebut terealisasi, nilai jual garam produksi Kabupaten Malang berpotensi meningkat hingga tiga kali lipat dibanding harga garam krosok saat ini.
"Untuk hilirisasi garam sampai sekarang ini kami masih terus berkomunikasi, karena belum ada kepastian program hilirisasi garam untuk Kabupaten Malang dari pemerintah pusat," ujar Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Victor Sembiring, dikutip pada Senin (29/6/2026).
Disebutkannya, sebagai bentuk kesiapan, Pemkab Malang telah mengusulkan Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo, sebagai lokasi proyek hilirisasi garam. Wilayah tersebut dipilih karena menjadi sentra produksi garam krosok dengan sistem tunnel, yang dinilai memiliki kualitas lebih baik.
Victor mengatakan, berdasar data Dinas Perikanan Kabupaten Malang, produksi garam krosok di Desa Sumberoto yang berada di kawasan Pantai Modangan mencapai 30.150 kilogram hingga semester I 2026.
Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan sentra garam lainnya, yakni Pantai Ngantep, Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, dengan produksi 3.200 kilogram serta Pantai Perawan, Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, yang menghasilkan 1.250 kilogram.
"Secara keseluruhan, kami menargetkan produksi garam krosok pada 2026 mencapai 60 ribu kilogram," kata Victor.
Dijelaskannya, hilirisasi akan memberikan nilai tambah karena garam krosok tidak lagi dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi berbagai produk turunan, seperti garam konsumsi, bahan baku industri makanan dan minuman, farmasi, hingga produk kecantikan.
Menurut Victor, peningkatan nilai jual menjadi salah satu keuntungan terbesar dari program tersebut. Saat ini garam krosok hanya dipasarkan dengan harga sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram.
Sementara itu, setelah diolah menjadi garam konsumsi, harganya dapat mencapai sedikitnya Rp6.000 per kilogram, bahkan lebih tinggi karena garam hasil produksi sistem tunnel masuk dalam kategori kualitas K1.
"Kalau dalam bentuk garam krosok masih dipasarkan dengan harga Rp2.000 sampai Rp3.000 per kilogram, sedangkan garam konsumsi yang bahan bakunya dari garam krosok minimal Rp6.000 per kilogram, bahkan bisa lebih karena garam dari tunnel masuk kategori K1," jelasnya.
Karena itu, pihaknya berharap pemerintah pusat dapat segera merealisasikan program hilirisasi garam sehingga potensi ekonomi komoditas tersebut dapat dimaksimalkan.
Sementara itu, pemasaran garam krosok produksi Kabupaten Malang saat ini masih didominasi untuk kebutuhan industri pengolahan garam di Kabupaten Tulungagung. Adapun pasar lokal di Malang sebagian besar dimanfaatkan sebagai garam ternak dan garam untuk pengolahan ikan.
"Pasar lokal di Malang garamnya untuk ternak dan garam ikan," pungkas Victor.
Reporter: Santi Wahyu





.jpg)
