SURABAYA (Lentera) – Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Ony Setiawan menilai pemikiran Bung Karno tentang Marhaenisme masih relevan dalam menjawab berbagai tantangan ekonomi di era modern.
Menurutnya, perubahan bentuk kolonialisme saat ini menuntut nilai-nilai Pancasila dan Marhaenisme tetap dijadikan pijakan dalam pembangunan.
Ony mengungkapkan, pemikiran Bung Karno mengenai anti-kolonialisme dan anti-imperialisme melahirkan Marhaenisme yang kemudian menjadi landasan penting dalam memahami Pancasila.
"Pemikiran radikal Bung Karno tentang anti-kolonialisme dan imperialisme saat itulah yang melahirkan Marhaenisme, dan Pancasila yg di sampaikan bung karno dalam pidato 1 Juni lalu disempurnakan redaksinya hingga menjadi Pancasila seperti sekarang ini," ungkap Ony, Rabu (1/7/2026).
Menurut pria yang juga Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Tuban itu, kader partai harus memahami pemikiran Bung Karno karena menjadi dasar sikap politik PDI Perjuangan, termasuk posisinya sebagai partai penyeimbang dalam pemerintahan.
"Sehingga bagi kader PDI Perjuangan, maka harus mengenal dan memahami pemikiran-pemikiran soekarno. Itu juga yang mendasari posisi PDI Perjuangan dalam pemerintah saat ini, dimana PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang," jelasnya.
Ony menuturkan, secara esensial Marhaenisme merupakan ideologi yang berpihak kepada rakyat kecil yang memiliki alat produksi, namun tetap hidup dalam kemiskinan akibat sistem kapitalisme. Bung Karno, kata dia, merumuskan Marhaenisme dalam tiga pilar utama, yakni Sosio-Nasionalisme, Sosio-Demokrasi, dan Ketuhanan Yang Maha Esa.
"Bagi Bung Karno, Indonesia merdeka bukanlah akhir perjuangan, melainkan sebuah 'jembatan emas' untuk mencapai masyarakat yang adil, makmur, dan bebas dari penindasan," tuturnya.
Ia menambahkan, Pancasila yang digali Bung Karno dari nilai-nilai bangsa Indonesia tidak boleh dipahami sebatas teks, melainkan menjadi pedoman dalam mewujudkan keadilan sosial.
"Bagi Bung Karno, Pancasila adalah philosophische grondslag (landasan filosofis) dan Weltanschauung (pandangan hidup) yang digali dari nilai-nilai asli bumi Indonesia. Dan Marhaenisme adalah Pisau Analisa (jiwa penuntun/Ideologi) yang memastikan Pancasila tidak sekadar menjadi hafalan teks formal atau pajangan di dinding kelas," ucapnya.
Anggota Komisi B DPRD Jatim tersebut menegaskan, tujuan akhir dari penerapan nilai-nilai Pancasila dan Marhaenisme adalah menghapus segala bentuk penindasan terhadap manusia dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tantangan tersebut masih relevan hingga saat ini, karena bentuk ketimpangan telah bergeser dari kolonialisme fisik menjadi persoalan ekonomi global.
"Jika dahulu kolonialisme bersifat fisik, hari ini imperialism menjelma menjadi Neoliberalisme dan Neokolonialisme yang menciptakan ketergantungan ekonomi pada investasi asing yang tidak berpihak pada lokal," pungkasnya.
Reporter: Pradhita/Editor: Ais





.jpg)
