07 July 2026

Get In Touch

Ketika Rhabdomyolysis Mengintai Pelari

Ketika Rhabdomyolysis Mengintai Pelari

SURABAYA ( LENTERA ) - Lari marathon kini bukan lagi sekadar olahraga. Bagi banyak orang, berlari puluhan kilometer menjadi simbol pencapaian, tantangan diri, bahkan gaya hidup. Dari lomba 5K, 10K, half marathon hingga marathon penuh, jumlah orang yang mencoba menaklukkan jarak panjang terus bertambah.

Namun, di balik euforia mengejar catatan waktu dan garis finis, tubuh memiliki batas yang tidak boleh diabaikan. Memaksakan diri saat fisik sudah kelelahan bisa membawa risiko serius, salah satunya rhabdomyolysis atau rhabdomiolisis, kondisi ketika otot mengalami kerusakan berat hingga melepaskan kandungannya ke aliran darah.

Rhabdomyolysis terjadi ketika jaringan otot rangka mengalami kerusakan cepat. Saat sel otot pecah, protein bernama mioglobin dan berbagai elektrolit keluar masuk ke dalam aliran darah. Jika jumlahnya berlebihan, mioglobin dapat membebani ginjal karena organ ini harus menyaring zat tersebut.

Dalam kondisi tertentu, rhabdomyolysis dapat berkembang menjadi cedera ginjal akut atau acute kidney injury, yaitu kondisi ketika fungsi ginjal menurun secara tiba-tiba.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Tunggul Situmorang, mengingatkan kondisi ini bisa terjadi ketika seseorang tetap memaksakan aktivitas meski tubuh sudah memberikan tanda kelelahan.
"Dia kelelahan akut. Dipaksakan kok itu, dia udah merasa lelah, sudah itu dipaksakan sama dia," ujar Tunggul.

Menurutnya, perubahan kondisi tubuh harus menjadi perhatian, terutama jika mulai muncul tanda gangguan pada urine.

"Acute kidney injury artinya mendadak. Bisa terlihat kencingnya misalnya menjadi, proteinnya banyak kemudian kegelapan warna kencingnya," katanya.

Tunggul menjelaskan warna urine yang berubah berkaitan dengan mioglobin, protein yang berasal dari otot yang mengalami kerusakan.
"Karena memang mioglobin itu, pecahan protein dari otot. Nah, kalau ini cepat ditangani, sebenarnya reversible itu," ujarnya.

Risiko rhabdomyolysis tidak hanya mengintai atlet profesional. Orang yang baru memulai olahraga berat juga dapat mengalami kondisi ini, terutama jika langsung meningkatkan intensitas latihan tanpa persiapan.

Aktivitas fisik ekstrem, dehidrasi, berolahraga di cuaca panas, hingga memaksakan tubuh melewati batas kemampuan menjadi beberapa pemicu yang sering ditemukan.

Selain olahraga berat, rhabdomyolysis juga dapat disebabkan oleh cedera seperti kecelakaan, benturan keras, tekanan berkepanjangan pada otot, sengatan listrik, hingga kondisi medis tertentu.

Ada pula faktor lain seperti infeksi, gangguan metabolisme, konsumsi alkohol berlebihan, maupun efek penggunaan obat tertentu.
Ketika otot rusak, masalah tidak berhenti pada rasa nyeri. Pelepasan zat dari jaringan otot dapat mengganggu keseimbangan tubuh. Salah satunya peningkatan kadar kalium dalam darah atau hiperkalemia yang berisiko memicu gangguan irama jantung.

Gejala rhabdomyolysis sering kali tidak langsung terasa saat seseorang masih berlari. Dalam beberapa kasus, tanda-tandanya baru muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah aktivitas berat.

Beberapa gejala yang harus diwaspadai antara lain nyeri otot yang tidak biasa, tubuh sangat lelah, kelemahan otot, mual, dehidrasi, berkurangnya frekuensi buang air kecil, hingga urine berwarna lebih gelap seperti kecokelatan.
Urine gelap menjadi salah satu tanda penting karena bisa menunjukkan adanya mioglobin yang keluar melalui ginjal.

Untuk memastikan kondisi tersebut, dokter biasanya melakukan pemeriksaan darah dan urine. Salah satu indikator yang diperiksa adalah kadar creatine kinase (CK), enzim yang meningkat ketika terjadi kerusakan otot.

Pemeriksaan juga dapat melihat kadar mioglobin, elektrolit seperti kalium, serta kreatinin untuk mengetahui kondisi fungsi ginjal.
Penanganan rhabdomyolysis bergantung pada tingkat keparahannya. Pada kasus awal, dokter dapat memberikan cairan infus untuk membantu tubuh membuang mioglobin dan menjaga kerja ginjal.

Namun, jika sudah menyebabkan gangguan ginjal berat, pasien bisa membutuhkan tindakan seperti hemodialisis atau cuci darah.
Pencegahan menjadi langkah paling penting. Pelari disarankan membangun latihan secara bertahap, menjaga asupan cairan, tidak memaksakan diri saat tubuh sudah kelelahan, serta memperhatikan kondisi lingkungan saat berolahraga.

Sebab, marathon bukan hanya soal siapa yang paling cepat mencapai garis akhir. Bagi tubuh, kemenangan terbesar adalah bisa menyelesaikan perjalanan tanpa mengorbankan kesehatan.(dtc,ist/dya)
 

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.