01 August 2026

Get In Touch

Soal Regenerasi Seniman Muda, DPRD Surabaya Minta Fasilitas dan Anggaran Diperkuat

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah. (Amanah/Lentera)
Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah. (Amanah/Lentera)

SURABAYA (Lentera) – Upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melestarikan seni dan budaya lokal dinilai tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan event atau pertunjukan budaya. Regenerasi pelaku seni perlu diperkuat dengan mengenalkan kesenian tradisional kepada anak-anak dan generasi muda sejak usia sekolah.

Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, dr. Zuhrotul Mar’ah, mengatakan langkah tersebut sejalan dengan semangat Raperda tentang Pemajuan Kebudayaan yang tengah didorong. Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menyangkut kesenian tertentu seperti Reog, tetapi juga berbagai kesenian khas Surabaya, termasuk Ludruk dan Tari Remo.

“Pelestarian budaya itu memang harus dilaksanakan sesuai dengan Perda tentang Pemajuan Kebudayaan. Salah satunya adalah melestarikan budaya, termasuk kesenian. Tidak hanya Reog,” ucap dr. Zuhro, Jumat (31/7/2026).

Ia menilai generasi muda tidak cukup hanya diperkenalkan dengan kesenian tradisional. Pemerintah juga perlu menciptakan pola pembinaan yang membuat anak-anak tertarik untuk mempelajari dan kemudian meneruskan kesenian tersebut.

dr. Zuhro bahkan mendorong agar Tari Remo dapat dikenalkan secara luas kepada pelajar di Surabaya. Ia mencontohkan Bali yang dinilai berhasil menanamkan kecintaan terhadap seni tradisional kepada generasi mudanya.

“Kalau bisa Surabaya seperti itu juga. Setiap anak bisa ngeremo, minimal mengenal dan bisa menari Remo,” tuturnya.

Menurutnya, pengenalan budaya lokal dapat dilakukan melalui berbagai agenda tahunan Pemkot Surabaya. Setiap kegiatan besar di Kota Pahlawan, kata dia, idealnya tidak hanya menampilkan kesenian populer, tetapi juga memberikan ruang bagi seni tradisional Surabaya.

“Dalam setiap event, terutama acara pembukaan, harus ada Tari Remo. Jadi tidak hanya Reog. Surabaya punya kesenian tradisional yang ikonik, yaitu Remo dan Ludruk,” jelasnya.

Ia juga mendorong agar keberadaan Ludruk kembali diperkuat. Selama ini, menurutnya, pertunjukan Reog dan Wayang relatif lebih sering terlihat dalam sejumlah kegiatan masyarakat, termasuk agenda bersih desa. Sementara Ludruk sebagai salah satu kesenian khas Surabaya dinilai masih kurang mendapatkan ruang tampil.

Politisi dari PAN ini mengakui salah satu tantangan Ludruk adalah format pertunjukannya yang cenderung membutuhkan waktu cukup panjang. Namun, kondisi tersebut dinilai bukan alasan untuk mengesampingkannya. 

Menurutnya, format pertunjukan Ludruk dapat dikembangkan agar lebih sesuai dengan karakter generasi muda dan kebutuhan berbagai kegiatan. “Sekarang juga sudah ada komunitas Ludruk milenial. Ini harus didukung dan diberi ruang untuk tampil,” ujarnya.

Selain melalui event, ia berharap pelestarian budaya dapat diperluas melalui sektor pariwisata dan perhotelan. Setelah Raperda Pemajuan Kebudayaan disahkan, Pemkot Surabaya dinilai dapat menggandeng hotel untuk menampilkan kesenian tradisional Surabaya dalam menyambut maupun menghibur tamu.

Di sisi lain, persoalan fasilitas latihan juga menjadi perhatian. dr. Zuhro menyebut sejumlah sanggar dan kampung tematik telah menyediakan ruang bagi aktivitas kesenian. Namun, jika ingin pembinaan dilakukan secara merata, fasilitas latihan perlu diperluas berdasarkan wilayah.

“Kalau dikatakan cukup, ya kita ngomongnya kurang, karena Surabaya itu luas. Mungkin di Surabaya Pusat ada fasilitasnya, di Surabaya Timur ada lagi, sehingga anak-anak tidak perlu jauh-jauh untuk latihan,” katanya.

Ia menilai Balai Pemuda maupun fasilitas kebudayaan lainnya dapat dioptimalkan sebagai ruang latihan bagi komunitas seni. Pemkot juga perlu memetakan kebutuhan fasilitas berdasarkan wilayah agar akses pembinaan tidak terpusat di kawasan tertentu.

Selain fasilitas, keberlanjutan program seni di sekolah juga dinilai penting. Kegiatan ekstrakurikuler kesenian tradisional dapat menjadi salah satu jalur paling efektif untuk membangun regenerasi seniman sejak dini.

Namun, program tersebut membutuhkan dukungan sumber daya manusia. 

“Kalau kita ingin kebudayaan kita maju dan terukur, anggarannya juga harus dicukupkan,” tegasnya.

Ia menambahkan, komitmen terhadap pelestarian budaya pada akhirnya harus diterjemahkan ke dalam kebijakan yang konkret, mulai dari penyediaan ruang latihan, penguatan komunitas, pembinaan di sekolah, pemberian ruang tampil hingga dukungan anggaran.

Menurutnya, penguatan budaya lokal bukan sekadar mempertahankan kesenian agar tidak hilang, tetapi juga membangun karakter generasi muda agar memiliki keterikatan dengan identitas daerah di tengah derasnya pengaruh budaya global.

“Terutama generasi muda agar mereka mengenal dan melestarikan budaya tradisional Indonesia, khususnya budaya Surabaya,” pungkasnya. (*)

 

Reporter: Amanah
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.