SURABAYA (Lentera)– Mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya) berhasil menciptakan robot catur yang mampu membaca posisi papan, menganalisis langkah permainan, hingga menggerakkan bidak secara otomatis.
Inovasi yang dikembangkan Agung, mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik Ubaya (FT Ubaya) itu, menggabungkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), teknologi robotik, dan pemrosesan gambar berbasis kamera.
Sistem robot bekerja dengan memanfaatkan kamera sebagai "mata" untuk membaca kondisi papan catur. Selanjutnya, kamera menangkap perubahan posisi bidak yang dilakukan lawan.
Data visual tersebut kemudian diproses oleh AI untuk menentukan posisi bidak dan menganalisis langkah yang perlu dilakukan.
Setelah keputusan permainan diperoleh, sistem mengirimkan instruksi kepada lengan robot untuk mengambil dan memindahkan bidak ke posisi yang telah ditentukan.
“Cara kerjanya kurang lebih sama dengan atlet catur yang sebenarnya. Ada mata yang melihat, otak yang berpikir, dan lengan yang melakukan pergerakan,” jelas Agung dikutip Sabtu (1/8/2026).
Menurut Agung, ide tersebut berawal dari ketertarikannya terhadap permainan catur. Ia kemudian melihat peluang pemanfaatan robot UR-CB3 yang dimiliki Program Studi Teknik Elektro Ubaya untuk dikembangkan menjadi sistem robotik yang mampu bermain catur.
Ia selanjutnya meminta bimbingan Kepala Program Studi Teknik Elektro Ubaya Hendi Wicaksono Agung Darminto, Ph.D. untuk mengembangkan sistem tersebut. Robot UR-CB3 kemudian digunakan sebagai bagian dari tugas akhirnya.
“Syukurnya, saya juga mendapatkan izin untuk menggunakan robot UR-CB3 tersebut untuk keperluan tugas akhir saya di bawah bimbingan Pak Hendi secara langsung,” ungkapnya.
Pengembangan robot catur tersebut tidak dilakukan secara instan. Agung membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun untuk mengembangkan dan mengintegrasikan seluruh sistem.
Pada tiga bulan pertama, ia menyusun roadmap untuk memetakan kebutuhan sumber daya, tahapan pengerjaan, sekaligus menentukan teknologi yang akan digunakan.
Dua bulan berikutnya digunakan untuk mempelajari lebih dalam teknologi AI yang dipilih agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan robot catur. Setelah itu, Agung menghabiskan hampir dua bulan untuk memperdalam pengetahuan mengenai robotik sekaligus melakukan pengaturan parameter AI.
Tantangan terbesar muncul ketika AI harus diintegrasikan dengan lengan robot. Sistem tidak hanya dituntut mampu mengenali posisi bidak, tetapi juga harus mengubah informasi visual tersebut menjadi koordinat yang presisi agar robot tidak salah mengambil atau memindahkan bidak.
Proses tersebut berlangsung sekitar lima bulan. Agung harus mengonversi koordinat papan catur berdasarkan satu titik acuan agar sistem mampu menentukan lokasi bidak dan mengirimkan perintah gerak yang akurat kepada robot.
“Data dari internet sudah berkali-kali saya gunakan, tetapi akurasinya masih kurang. Akhirnya, datanya saya kumpulkan dari sekitar 2.600 gambar yang saya ambil sendiri dari sudut yang disesuaikan dengan kamera yang digunakan,” ujarnya.
Data visual tersebut kemudian digunakan untuk mendukung proses AI image processing. Agung membutuhkan sekitar enam bulan untuk melatih sistem agar mampu mengenali kondisi papan dan bekerja secara mandiri.
Dengan rangkaian proses tersebut, robot catur akhirnya dapat mengintegrasikan kemampuan penglihatan komputer, pengambilan keputusan berbasis AI, dan pergerakan mekanis robot.
Agung mengatakan sistem yang dikembangkan memiliki fleksibilitas dalam pengaturan kemampuan bermain. Tingkat kecerdasan permainan dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan.
“Robot terintegrasi ini dapat kita atur. Misalnya, kecerdasannya dapat disesuaikan menjadi pemain catur level nonmaster, master, bahkan grandmaster. Selain itu, kecepatan pergerakannya juga dapat diatur,” ungkapnya.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada permainan catur. Menurut Agung, prinsip kerja sistem dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan lain yang membutuhkan kemampuan robot dalam membaca lingkungan, mengambil keputusan, dan melakukan tindakan secara presisi.
Setelah melalui pengujian dan dinyatakan berhasil, Agung berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan lebih jauh, terutama untuk kebutuhan industri.
“Logikanya, robot ini bahkan dapat bermain catur yang dipandang sulit dan membutuhkan strategi tertentu. Jadi, apabila dikembangkan lebih jauh, pasti dapat digunakan untuk kebutuhan industri dengan skala yang lebih besar,” tegasnya.
Pengembangan robot catur tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi AI, computer vision, dan robotik dapat dipadukan dalam satu sistem.
"Proyek semacam ini tidak hanya menjadi sarana menerapkan teori perkuliahan, tetapi juga menjadi latihan untuk menyelesaikan persoalan nyata yang membutuhkan kombinasi kemampuan pemrograman, pengolahan data, kecerdasan buatan, dan rekayasa robotik," tutupnya.
Reporter: Amanah|Editor: Arifin BH





.jpg)
