06 August 2026

Get In Touch

Selalu Jadi Sasaran Nyamuk? Ternyata Bukan karena 'Darah Manis'

Selalu Jadi Sasaran Nyamuk? Ternyata Bukan karena 'Darah Manis'

SURABAYA ( LENTERA ) - Pernah merasa menjadi satu-satunya orang yang pulang dengan tubuh penuh bentol setelah berkumpul di luar ruangan? Sementara orang lain di sekitar tampak baik-baik saja. Banyak yang mengaitkannya dengan mitos "darah manis", padahal penelitian menunjukkan penyebabnya jauh lebih kompleks.

Menurut para ahli entomologi, nyamuk tidak memilih mangsa berdasarkan rasa darah. Serangga pengisap darah ini justru mengandalkan kombinasi sinyal biologis yang dipancarkan tubuh manusia, mulai dari karbon dioksida (CO₂), suhu tubuh, hingga aroma kulit yang dipengaruhi mikrobioma.

"Hanya nyamuk betina yang menggigit manusia karena mereka membutuhkan protein dari darah untuk perkembangan telurnya," tulis BBC dalam laporan yang merangkum berbagai hasil penelitian terbaru.

Edus Sasaran dari Jarak 10 Meter

Sebelum mendarat di kulit, nyamuk sebenarnya sudah mendeteksi keberadaan manusia dari kejauhan.
Peneliti menjelaskan, nyamuk menggunakan kombinasi penglihatan dan penciuman untuk menemukan target pada jarak hingga sekitar 10 meter. Salah satu sinyal terkuat adalah karbon dioksida yang dikeluarkan setiap kali manusia bernapas.

Semakin banyak CO₂ yang dilepaskan seseorang, semakin mudah pula nyamuk menemukannya.

Karena itu, orang dewasa umumnya lebih sering menjadi sasaran dibanding anak-anak. Begitu pula perempuan hamil yang menghasilkan lebih banyak karbon dioksida akibat meningkatnya aktivitas metabolisme selama kehamilan.

Fenomena inilah yang juga dimanfaatkan dalam berbagai perangkap nyamuk modern yang menggunakan karbon dioksida sebagai umpan.

Tubuh Hangat Lebih Menggoda 

Selain karbon dioksida, suhu tubuh juga menjadi penanda penting.
Nyamuk cenderung lebih tertarik pada tubuh yang hangat dan lembap. Itulah sebabnya seseorang yang baru selesai berolahraga sering kali menjadi sasaran empuk.
Aktivitas fisik meningkatkan produksi panas tubuh, mempercepat pernapasan, serta memicu keluarnya keringat. Kombinasi ketiga faktor tersebut menciptakan sinyal yang sangat mudah dikenali nyamuk.

Menurut Profesor Steve Lindsay dari Durham University, perempuan hamil memiliki daya tarik sekitar dua kali lebih besar dibanding perempuan yang tidak hamil karena menghasilkan lebih banyak panas tubuh dan karbon dioksida.

Orang dengan ukuran tubuh lebih besar juga umumnya menghasilkan panas dan CO₂ lebih banyak sehingga berpotensi lebih menarik bagi nyamuk.

Aroma Kulit

Mitos bahwa nyamuk menyukai orang yang memiliki "darah manis" telah lama dibantah para ilmuwan.
Yang sebenarnya menarik perhatian nyamuk adalah aroma khas kulit manusia.
Kulit manusia dihuni jutaan mikroorganisme yang membentuk mikrobioma. Mikroba ini memecah berbagai senyawa di permukaan kulit menjadi volatile organic compounds (VOCs) atau senyawa organik yang mudah menguap.
Senyawa inilah yang menghasilkan aroma tubuh unik pada setiap orang.

Para peneliti memperkirakan terdapat lebih dari 500 jenis VOC pada kulit manusia. Nyamuk mampu membedakan kombinasi aroma tersebut dan menggunakan informasi itu untuk memilih target.
Salah satu kelompok senyawa yang paling menarik perhatian nyamuk adalah asam karboksilat.

Penelitian yang dilakukan Rockefeller University terhadap 64 responden menemukan orang dengan kadar asam karboksilat lebih tinggi pada kulitnya bisa memiliki tingkat daya tarik terhadap nyamuk hingga 100 kali lebih besar dibanding individu lain.

Menariknya, karakteristik aroma tubuh tersebut relatif stabil selama bertahun-tahun meski pola hidup seseorang berubah.

Faktor Genetik Ikut Berperan

Tidak hanya aroma kulit, faktor keturunan juga diyakini memengaruhi seberapa menarik seseorang bagi nyamuk.

Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan bahwa pasangan kembar identik memiliki tingkat daya tarik terhadap nyamuk yang hampir sama, sedangkan kembar tidak identik menunjukkan perbedaan yang lebih besar.
Temuan itu mengindikasikan adanya pengaruh genetik terhadap aroma tubuh maupun respons biologis yang membuat seseorang lebih sering menjadi target gigitan.

Soal Bentol Lebih Parah

Merasa lebih sering digigit belum tentu berarti nyamuk memang lebih banyak hinggap di tubuh seseorang.

Menurut Profesor Heather Ferguson dari University of Glasgow, sebagian orang memiliki respons sistem imun yang lebih kuat terhadap air liur nyamuk sehingga bentol menjadi lebih besar, lebih merah, dan lebih gatal.
Sebaliknya, ada orang yang sebenarnya sama seringnya digigit, tetapi hampir tidak menunjukkan reaksi sehingga mengira dirinya "kebal" terhadap nyamuk.

Karena itu, persepsi seseorang sebagai "magnet nyamuk" tidak selalu mencerminkan jumlah gigitan yang sebenarnya.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa siapa pun tetap berisiko digigit nyamuk dan terpapar penyakit yang ditularkan, seperti demam berdarah, chikungunya, hingga malaria di wilayah endemis. Perlindungan terhadap gigitan nyamuk tetap diperlukan, baik seseorang merasa sering digigit maupun tidak.(far,ist/dya)

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.