SURABAYA (Lentera) -Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pengelola sejumlah pusat perbelanjaan mengevaluasi tinggi pagar yang terpasang di area mal. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga keselamatan pejalan kaki sekaligus memastikan fasilitas pembatas tidak menimbulkan kesan seolah kawasan Kota Pahlawan tidak aman.
Cak Eri -sapaan akrabnya, mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan sejumlah pengelola mal dan memberikan masukan agar pagar tidak dibuat terlalu tinggi. Menurutnya, keberadaan pagar tetap diperbolehkan selama memiliki fungsi yang jelas, namun ketinggiannya perlu diperhatikan.
“Insyaallah kami koordinasikan. Yang saya ingin, ketika ada pagar itu orang jalan semakin terang, tidak terlalu tinggi yang mencerminkan orang itu merasa takut. Padahal Kota Surabaya ini aman,” kata Eri dikutip Selasa (4/8/2026).
Eri menuturkan, Pemkot Surabaya tidak meminta pengelola mal membongkar seluruh pagar. Pemkot hanya mendorong agar pagar yang dinilai terlalu tinggi dapat disesuaikan.
“Kenapa kami tidak menyampaikan itu (pembongkaran pagar), karena tidak semua mal di Surabaya begitu. Hanya dua atau tiga mal saja,” tuturnya.
Menurut Eri, pagar yang dibangun di sejumlah mal bukan semata-mata untuk mengantisipasi aksi massa. Pagar tersebut, kata dia, lebih berkaitan dengan aspek estetika serta pengaturan pergerakan pengunjung agar lebih aman ketika keluar maupun masuk mal.
Ia mencontohkan kondisi di sekitar Tunjungan Plaza, Jalan Basuki Rahmat. Pengunjung yang keluar atau masuk mal terkadang memilih menyeberang langsung di badan jalan dibandingkan menggunakan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang telah disediakan.
Kondisi tersebut dinilai berisiko karena pejalan kaki harus berhadapan langsung dengan kendaraan yang melintas. Bahkan, Pemkot Surabaya disebut telah beberapa kali mengingatkan masyarakat agar tidak menyeberang sembarangan di kawasan tersebut.
Pengelola mal sebelumnya menyampaikan bahwa pemasangan pagar bertujuan mengarahkan pengunjung agar keluar melalui sisi kanan atau kiri sekaligus memudahkan pemantauan. Namun, ia meminta desain dan ketinggian pagar tetap mempertimbangkan kenyamanan serta persepsi keamanan masyarakat.
Selain meminta evaluasi terhadap pagar mal, Pemkot Surabaya juga melakukan rekayasa untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan di kawasan Jalan Basuki Rahmat. Dinas Perhubungan (Dishub) Surabaya telah memasang barrier beton untuk mencegah pejalan kaki menyeberang langsung di badan jalan dan mendorong masyarakat menggunakan JPO.
Eri menjelaskan, penggunaan barrier beton dipilih karena dinilai lebih aman dibandingkan pembatas berbahan plastik yang mudah digeser. Sebelumnya, barrier plastik kerap bergeser sehingga berpotensi mengganggu pengguna jalan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
“Makanya kalau dilihat dahulu (barrier plastik) itu kan miring-miring nggak karuan. Maka ayo saling menjaga Surabaya dan saya berharap dijaga. Kalau ada tanda larangan parkir jangan parkir sembarangan, kalau sudah ditutup barrier jangan belok memotong jalan,” ungkapnya
Eri juga mengingatkan masyarakat untuk ikut menjaga berbagai fasilitas umum yang telah disediakan Pemkot Surabaya. Menurutnya, keberadaan pagar, barrier, maupun JPO harus dipandang sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang publik dan lalu lintas yang lebih aman.
Ia berharap masyarakat tidak mengabaikan rambu maupun pembatas yang telah dipasang. Kepatuhan pengguna jalan dinilai menjadi bagian penting dalam mencegah kecelakaan dan menjaga kenyamanan bersama.
Reporter: Amanah|Editor; Arifin BH





.jpg)
