06 August 2026

Get In Touch

MPLS Sekolah Rakyat Trenggalek Diperkuat Taruna TNI, Siswa Dilatih Disiplin dan Kemandirian

Taruna Akmil AAL memberikan pelatihan kedisiplinan, karakter, serta pembiasaan kepada siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Trenggalek dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Taruna Akmil AAL memberikan pelatihan kedisiplinan, karakter, serta pembiasaan kepada siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Trenggalek dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

TRENGGALEK (Lentera) – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Trenggalek terus menjalankan rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan menggandeng Taruna Akademi Militer (Akmil) Akademi Angkatan Laut (AAL). Kegiatan yang berlangsung sejak 31 Juli hingga awal Agustus 2026 itu difokuskan untuk membantu siswa beradaptasi dengan kehidupan sekolah berasrama sekaligus membentuk karakter, kedisiplinan, dan kemandirian.

Kepala SRT 1 Trenggalek, Yogyantoro, mengatakan setelah kegiatan peluncuran sekolah dan pembukaan MPLS, para siswa langsung mengikuti berbagai agenda, termasuk Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 3 Agustus 2026. Selanjutnya, mereka mendapat pembekalan dari Taruna TNI melalui program Taruna Bakti.

"Setelah launching dan pembukaan MPLS pada 31 Juli 2026, kami melanjutkan berbagai kegiatan, termasuk CKG dan menghadirkan Taruna Akmil AAL melalui program Taruna Bakti. Mereka memberikan materi tentang Pramuka, kemandirian, disiplin, karakter, pembiasaan, hingga wawasan nusantara, wawasan kebangsaan, dan bela negara," ujar Yogyantoro.

Ia menjelaskan, sebanyak lima taruna didampingi satu pendamping bertugas di SRT 1 Trenggalek mulai 3 hingga 7 Agustus 2026 untuk mendampingi proses MPLS.

Menurutnya, kegiatan terjadwal berlangsung setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 16.00 sesuai panduan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta kerja sama dengan Kementerian Sosial RI. Namun, pembiasaan siswa sebenarnya telah dimulai sejak pukul 04.00 dini hari hingga malam.

"Sejak subuh siswa sudah memulai aktivitas dengan salat berjamaah, kemudian mengikuti berbagai pembiasaan seperti merawat diri, mengurus diri, menolong diri, belajar bersosialisasi, berkomunikasi, memanfaatkan waktu luang, hingga keterampilan sederhana. Jadi pembinaan berlangsung hampir sepanjang hari," katanya.

Yogyantoro menilai para siswa menunjukkan antusiasme tinggi mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, meski sebagian masih berada dalam masa penyesuaian karena baru pertama kali tinggal di lingkungan berasrama.

"Mereka sangat antusias bertemu guru dan teman baru. Memang masih ada culture shock karena sebelumnya terbiasa tinggal di rumah, sedangkan sekarang harus mengikuti sistem boarding school dengan berbagai aturan. Kami melihat mereka sedang memasuki proses penyesuaian menuju kondisi yang lebih stabil," ungkapnya.

Untuk mempercepat adaptasi tersebut, pihak sekolah menggandeng berbagai instansi, di antaranya Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, serta sejumlah mitra lainnya. Materi MPLS juga disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, terutama terkait kemampuan bertahan dan beradaptasi di lingkungan sekolah berasrama.

"Kami ingin siswa lebih dulu merasa aman, nyaman, dan terlindungi. Karena itu materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan mereka agar mampu beradaptasi dan bertahan di lingkungan sekolah berasrama," jelas Yogyantoro.

 Ia menambahkan, pada hari pertama masih ada beberapa siswa yang ditunggu orang tua. Namun, seiring berjalannya waktu, sekolah mulai membatasi hal tersebut agar para siswa terbiasa mandiri selama menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi. (*)

 

Reporter: Herlambang
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.