15 August 2026

Get In Touch

Kisah Suliati, Perias di Malang yang Bangkit dari Pandemi Lewat Racikan Jamu

Pemilik Rumah Rempah Sugih Waras, Suliati, ditemui di stan produk UMKMnya di salah satu pusat perbelanjaan Kota Malang. (Santi/Lentera)
Pemilik Rumah Rempah Sugih Waras, Suliati, ditemui di stan produk UMKMnya di salah satu pusat perbelanjaan Kota Malang. (Santi/Lentera)

MALANG (Lentera) - Pandemi Covid19 menjadi titik balik bagi Suliati, perias pengantin asal Kabupaten Malang. Ketika acara pernikahan sepi dan pekerjaannya terhenti sementara, ia mulai mencoba mengembangkan racikan jamu yang sebelumnya dibuat untuk dikonsumsi di pondok pesantren dekat rumahnya.

"Dasarnya saya memang pecinta minuman rempah-rempah. Saya juga sering membuatkan minuman untuk di ponpes. Kemudian karena pandemi, nganggur, saya diperintah oleh Kyai di ponpes untuk membuat jamu dan diberikan kepada orang-orang kampung sekeliling saya," ujar Suliati, ditemui di salah satu event di Malang, Sabtu (15/8/2026).

Ditambahkannya, setelah mendapat arahan tersebut, Suliati menggunakan uang yang masih dimilikinya untuk membeli bahan-bahan. Setiap hari, ia membuat sekitar 40 liter jamu untuk dibagikan kepada warga di sekitar tempat tinggalnya.

"Dawuhnya (arahannya) Kiai, gak usah mikir dibayar atau tidak. Akhirnya setiap hari saya bikin 2 panci lorek (panci besar ukuran 20 liter), dengan sisa-sisa uang yang ada untuk dibagi-bagi," kata Suliati.

Dari Bagi-bagi Jamu Herbal, Racikan Suliati Mulai Dikenal

Memasuki masa setelah pandemi, aktivitas masyarakat mulai kembali berjalan. Suliati pun kembali disibukkan dengan pekerjaan utamanya sebagai perias pengantin.

Di tengah aktivitas tersebut, Suliati mengaku mulai menerima semakin banyak respons dari orang-orang yang sebelumnya pernah mencicipi racikan minuman herbalnya. Sejumlah orang menyebut jamu buatannya enak dan cocok ketika dikonsumsi.

Respons itu kemudian mendorong Suliati untuk mempelajari herbal secara lebih serius. Ia mengikuti sejumlah kelas herbal di Yogyakarta, Jember, hingga Kediri. "Saya ambil kelas herbal bukan hanya untuk mempelajari meracik, tetapi juga mengenal herbal itu sendiri. Fungsinya apa, manfaatnya apa, bagaimana cara pengolahan yang benar supaya ketika meracik, tidak ada kontradiksi," katanya.

Tetap jadi Perias Sambil Kembangkan Usaha Herbal

Pengetahuan yang diperoleh dari berbagai kelas tersebut kemudian diterapkan Suliati dalam mengembangkan usaha herbalnya. Aktivitas meracik jamu tetap ia lakukan di sela-sela kesibukannya sebagai perias.

Pesanan jamu datang dari berbagai acara di wilayah Malang. Jumlahnya pun beragam, mulai dari beberapa pitcher hingga sekitar 10 pitcher dalam satu pesanan.

Kesempatan memperkenalkan racikan jamu kepada lebih banyak orang juga datang melalui berbagai kegiatan di pesantren. Suliati mengaku pernah membuatkan jamu untuk acara yang dihadiri sejumlah tokoh dan tamu penting.

Dari berbagai kesempatan tersebut, racikan jamu Suliati perlahan semakin dikenal. Namun, perkembangan usaha tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Selama ini, sebagian besar jamu yang dibuat Suliati merupakan racikan segar yang langsung dikonsumsi. Kondisi itu membuat pelanggan yang ingin membawa jamu ke luar kota mengalami kesulitan.

Dari kebutuhan tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan racikan jamu dalam bentuk teh herbal. Suliati kemudian melakukan eksperimen selama sekitar 6 bulan sebelum produknya dipasarkan. Dalam proses tersebut, ia menguji berbagai aspek, mulai dari tekstur bahan, pemilihan kantung teh, hingga takaran atau gramasi yang digunakan.

Setelah melalui proses tersebut, Suliati kini mengembangkan 4 varian teh herbal, yakni teh imun, teh asam lambung, teh kolesterol, dan teh Anjani.

Setelah terkurasi sebagai salah satu produk UMKM binaan BI, produk Suliati semakin dikenal. Racikannya pun kerap hadir dalam berbagai event berskala regional hingga nasional di wilayah Malang. Meski demikian, Suliati hingga kini masih menjalankan profesinya sebagai perias pengantin di sela-sela mengembangkan usaha herbalnya. (*)

 

Reporter: Santi Wahyu
Editor: Lutfiyu Handi

Share:
Lenterajakarta.com.
Lenterajakarta.com.