BOGOR (Lentera) -Aktivitas di Kampung Pabuaran Cimanggis, Kelurahan Mekarwangi, Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat, cukup berbeda dari daerah lainnya saat malam jelang hari peringatan kemerdekaan.
Di wilayah lain misalnya, warga sibuk mempersiapkan hiasan bernuansa kemerdekaan dan mengecat tembok maupun jalanan.
Emak-emak di wilayah lain sibuk mempersiapkan camilan maupun kopi untuk membantu mereka yang bekerja menghias perkampungan.
Namun, di RT 02/RW 02, Mekarwangi, Minggu (16/8/2026) malam, emak-emak berkumpul di salah satu rumah warga untuk mengupas bawang.
Tangan mereka sibuk memegang pisau cutter yang gagangnya sudah dimodifikasi dengan kain tebal agar menghindari luka pada telapak tangan.
Tangan kirinya memegang satu buah bawang merah dari bak yang sudah disediakan, tangan kanannya mulai mengelupas kulit dengan ketelitian untuk menghindari luka pada jari telunjuk.
Di ruangan seluas 3x4 meter itu, terdapat televisi tabung yang masih menyala meski warnanya tidak lagi tajam dan suaranya tidak lagi bersih.
Di tempat itu, sekitar empat ibu berkumpul membuat lingkaran sambil berbincang ringan beralaskan lantai berwarna putih.
"Kadang sehari kalau lagi ramai orderan, bisa dua karung, satu karung itu 10 Kg," kata Ati (63) sambil mengupas bawang.
Aktivitas itu sudah dijalaninya sekitar tiga tahun lamanya, mulai dari pagi mengupas 10 Kg dan malam mengupas jumlah yang sama.
Barang itu diambil dari pengepul bawang setiap pukul 08.00 WIB dan sekitar 15.00 WIB.
Sedangkan, penyerahan hasil kerjanya diantar langsung oleh para pengupas kepada pengepul. Seperti, pekerjaan pagi hari diantar sore hari sekaligus mengambil barang yakni pukul 15.00 WIB.
Pekerjaan sore hari diantar ke pengepul pada keesokan harinya sekitar pukul 08.00 WIB. Nantinya bawang tersebut akan diperjualbelikan di Pasar TU Kemang.
Demi mendapat Rp 12.000, mereka harus mengupas 10 kg atau satu karung bawang merah dari pukul 08.00 WIB sampai 13.00 WIB jika dikerjakan sendiri.
Namun, apabila mendapat bantuan dari tetangga maupun keluarga, pekerjaan itu diperkirakan selesai pukul 11.00 WIB.
Upah yang didapat terbilang sangat rendah, yakni Rp 1.200 untuk satu kilogram bawang merah.
"Ya sekarang Rp 1.200 (satu kilogram bawang)," kata Ati saat ditemui Kompas di Mekarwangi, pada Minggu malam.
Pendapatannya tergantung dari kemampuan mengupas bawang yang sudah datang.
Selama tujuh hari, Ati baru nerima pembayaran dari kerja pagi sampai malam maupun sebaliknya.
Jika sedang ramai bawang merah yang datang, pendapatannya bisa menyentuh Rp 140.000.
Sedangkan, jika sepi, pendapatannya hanya menyentuh sekitar Rp 80.000 dalam satu minggu.
"Kadang-kadang dua hari enggak datang. Gimana kita, pendapatan kitanya. Kadang-kadang dapat ada Rp 100.000, kalau lagi jarang datang gitu," jelas dia.
Pendapatan tersebut diakui oleh Ati tidak dapat mencukupi kehidupannya. Untuk menabung saja tidak bisa karena selalu kekurangan uang.
Pada kondisi tersebut, Ati harus pintar mengelola keuangannya.
"Harus kita pinter-pinter ngatur aja. Buat beli beras, buat jajan cucu. Beli-beli beras, beli ikan-ikan asin, gitu-gitu aja. Enggak bisa namanya kita pengen nyimpen gitu ya, ya enggak bisa," kata Ati.
Menyadari kondisi tersebut, Ati memiliki usaha lain yakni sebuah warung kecil yang menjual jajanan untuk anak-anak di kampung tersebut.
Per harinya, pendapatan Ati dari warung dapat menyentuh Rp 100.000.
Meski begitu, dirinya masih berkeinginan untuk menekuni aktivitas mengupas bawang karena selain mengisi waktu luang pada pagi atau malam hari.
Pendapatan dari pengupas bawang dapat digunakan untuk jajan cucunya maupun menambah modal usaha di warung.
"Daripada kita pagi-pagi tidur, gitu kan. Mendingan ada kerjaan begini yang penting mah untungnya dipakai makan cucu, jualan," ujar Ati.
Pekerjaan tersebut terbilang tidak nyaman oleh Ati karena pernah menyebabkan luka goresan pada bagian telunjuk tangan kirinya.
Selain itu, Ati sering merasa sakit pinggang karena terlalu lama mengupas bawang hingga mata yang perih sampai tidak dapat tidur dengan nyenyak.
"Awal emang begitu, perih. Kita mau tidur enggak sampai rasa ada ini gimana sih, enggak bisa merem gitu. Tapi sekarang udah biasa," ucap Ati sambil mengelupas bawang (*)
Editor: Arifin BH




.jpg)
